Kawan, pernahkah kau mencuri sedikit perhatian dirimu sendiri tentang bagaimana selama ini kita berteman lebih dari suadara? Sedikit atau banyak tentang semua perjalanan kita selama menjumpai aral serta lintang pergolakan pemikiran maupun gerakan memang selalu menjadi hal yang begitu menarik untuk selalu kita refleksikan.

Kawan, beberapa pekan ini aku sering berpikir kenapa kita masih saja menghendaki diri kita untuk tetap berada dalam garis-garis gerakan yang terkadang membuat kita saling berdebat tentang ini dan itu, membuat kita sering berada di jalanan lintas kota hingga hampir lupa bahwa selimut di atas kasur belum terlipat rapi, membuat kita harus berpikir ulang menyusun waktu agar jumpa serta Ibu, Ayah dan sanak saudara di pelataran rumah, membuat kita berpikir keras sampai-sampai memikirkan diri sendiripun hampir saja tidak begitu banyak kesempatan.

Kawan, ini tentang kegelisahanku pula. Aku khawatir selama dalam perjalanan kita menikmati dinamika sosial suatu saat kita akan bertemu dan terbentur dengan dinamika antara pemikiranku yang memiliki porsi egosentris, dan juga ide-idemu yang masih memiliki sisi indivitualitas. Aku tidak bisa membayangkan dan sangat tidak berharap bahwa pemikiran dan ide kita berbenturan karena kita begitu piawai menghadapi dinamika sosial yang kompleks, kemudian kepiawaian itu kita gunakan untuk saling menghantam bukan lagi saling menyatukan gagasan besar.

Kawan, aku hanya memiliki rasa ingin bersatu dalam segala perbedaan pendapat pada masing-masing kita. Naif memang rasanya jika kita membicarakan ini pada penghujung tahun dimana kita dipersatukan pada bulan ke tiga tahun 2017 ini. Tetapi aku tetap saja ingin menyampaikan ini, aku ingin tetap menyatukan perbedaan ini agar menjadi hamparan ide yang akan menjadi bagian dari tinta sejarah ikatan kita.

Selamat kawan karena kita telah bersama-sama meyakini betul mengapa kita harus tetap berada pada barisana ini, tidak peduli seberapa kusut wajah ini oleh debu jalanan, tidak peduli seberapa lusuh pakaian ini, yang jelas kita berteman lebih dari saudara. Sampaikan salamku pada Ibu, Ayah, serta sanak saudaramu, dari aku kawanmu yang selalu mengganggu waktumu. Surat terbuka ini untuk kita yang masih menempuh jalan panjang dalam ikatan ini (IPM Jatim).

#2018menanti

-Alfianur Rizal R.R.A-