Intelektual Dibalik Pilpres

Dipublikasikan oleh Bustomi pada

Dibalik pemilihan Presiden 2019 yang begitu memanas, ada sebuah fenomena menarik yang patut disoroti dan diamati. Fenomena tersebut adalah keterlibatan kaum intelektual dalam Pilpres 2019.  Posisi kaum intelektual dalam pilpres layak diamatai dan disorot karena kiprahnya sangat menentukan arah negara kedepan dan capaian perebutan tahta menuju istana negara.

Keterlibatan kaum intelektual dalam pilpres tentu harus difahami sebagai fenomena yang wajar selama tidak ada bias kepentingan. Hal ini selaras dengan hakikat kaum intelektual sebagai insan akademis yang jauh dari kepentingan sesaat, apalagi kepentingan itu bernama politik kekuasaan yang ttidak akan pernah lama atau langgeng.

Lembaga survey dan konsultan politik menjadi lahan baru bagi akademisi yang memiliki latar belakang sosial politik. Bahkan, menjadi bagian barisan tim sukses juga menjadi lahan baru bagi intelektual. Hal itu terbukti dengan direkrutnya insan akademisi pada setiap pasangan Capres dan Cawapres, serta munculnya berbagai lembaga survey. Tujuannya tak lain adalah untuk mengetahui dan meningkatkan elektabilitas pasangan calon.

Yang perlu diingatkan pada kaum intelektual adalah agar tetap menjaga kredibilitasnya sebagai akademisi. Sebab, prinsip kerja dalam dunia keilmuan jelas berbeda dengan dunia politik. Kaum inelektual harus bekerja secara profesioanal  sebagai konsultan politik dan peniliti sehingga nasihat dan hasil penilitiannya bukan hanya bermanfaat bagi kemenangan pasangan calon, tetapi mampu menjadi pijakan dalam menentukan kebijakan yang bisa dirasakan banyak orang dan juga berguna bagi kehidupan bernegara kedepan.

Dunia keilmuan dan perpolitikan memiliki dua dimensi yang berbeda. jika dalam dunia kelimuan seseorang intelektual dituntut agar bersikap jujur tanpa ada yang ditutupi, hal itu berbalik dengan kehidupan politik yang mana dalam dunia dalam politik berbicara menutupi sehingga menjadikan multitafsir sudah menjadi sebuah tradisi.

Masyarakat dalam konteks sebagai pemilih, akhir-akhir ini dibuat bimbang dengan survey terkait elektabilitas yang tersaji dalam beberapa versi yang saling bertolak belakang. Tentunya masyarakat bimbang dan bertanya-tanya terkait keakuratan hasil survey yang telah disediakan kaum intelektual. Mana hasil survey yang dapat dipercaya? Apakah survey telah tereduksi oleh kepentingan? Apakah marwah hakikat kaum intelektual sebagai insan akademisi sudah tidak berlaku?

Sebagai pengingat yang tegas, kaum inteletual harus bekerja dengan dilandasi oleh komitmen moral kemanusiaan, bukan sekedar kepentingan berjangka pendek. Pun juga kaum intelektual juga harus menjaga tradisi akademisnya sehingga pertanyaan yang tak sepatutnya muncul tidak akan uncul dipermukaan.

Penulis hanyalah bagian kecil dari masyarakat awam yang berceloteh akibat kegelisahan yang dirasakan masyarakat awam lainnya. Kebenaran sepenuhnya adalah milikNya, sedangkan kita adalam umat yang mencoba mencari kebenaran.

**

Opini ditulis oleh Dedi Kurniawan. Ia sekarang aktif sebagai Ketua Umum PW IPM Jawa Timur periode 2018-2020. Dedi sapaan akrabnya saat ini sedang menempuh pendidikan Strata 1 Ilmu Komunikasi Universitas Ronggolawe Tuban.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *