oleh : Nashir Efendi

Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan PW IPM Jawa Timur

 

         Judul di atas terinspirasi dari salah satu tokoh filsuf dari Perancis yang bernama Rene Descartes. Dia mengungkapkan mantra yang sangat fenomenal yaitu cogito ergo sum. Tiga kata dalam bahasa Latin, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang artinya “Aku berpikir maka aku ada”. Ungkapan tersebut memiliki makna bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan diri. Keberadaan ini bisa dibuktikan dengan realitas bahwa dia bisa berpikir sendiri dengan terbebas dari segala intervensi apapun dari dunia luar. Jika ungkapan tersebut diresapi, sebenarnya Descartes ingin mencari kebenaran dengan mengkritisi apapun. Dia meragukan keberadaan apapun yang ada di sekitarnya. Bahkan dia mempertanyakan eksistensi dirinya sendiri. Descartes berpikir seperti itu termasuk mengkritisi eksistensi dirinya sendiri semata-mata ingin membersihkan dirinya dari segala pengaruh-pengaruh negatif yang memungkinkan dirinya untuk menuju jalan yang membawanya dalam keburukan. Dalam hal ini akal dan pikiran harus digunakan secara jernih untuk meminimalisasi hal-hal negatif yang berpotensi menghampiri kita.

            Penulis berusaha mengotak-atik ungkapan cogito ergo sum dengan menjahit kata cogito;think (berpikir) menjadi lectio;read (membaca) sebagai mantra radikal untuk menjawab kekeringan daya baca kita terhadap buku yang menjadi sumber primer dalam mereproduksi ilmu pengetahuan atau meminjam bahasa dari Taufik Ismail yaitu menjawab tragedi nol buku ibarat luka predikat yang menyesakkan di dalam dada. Andai kata ada upaya menutup luka yang ada, itu masih sporadis sifatnya. Jika tragedi itu tidak segera mendapat jawaban nyata, ancaman ‘kiamat’ literasi akan menghantui. Malah, mungkin bangsa ini akan kehilangan peradabannya.

            Membaca dalam ungkapan mantra lectio ergo sum merupakan kesadaran subjektif manusia, sebuah bagian dari otoritas diri sendiri atas realitas tertentu. Tentunya membaca tidak bisa dipaksakan kecuali manusia tersebut menerima melalui dirinya sendiri. Lectio ergo sum harapannya menjadi sebuah mantra fundamental bagi manusia yang ingin tetap dianggap ada. Aku membaca maka aku ada, ketika aku tidak membaca maka aku tidak ada. Logika semacam ini harus ditanamkan dalam kesadaran dan akal pikir manusia sebagai eksistensi terhadap literasi, pendidikan, dan pengetahuan menuju kehidupan yang berperadaban.

            Tanpa membaca manusia tidak disebut manusia, kehadiran secara fisik akan tetapi kekeringan akal, miskin akan pengetahuan, dan mati dalam peradaban. Tidak ada dalam artian manusia tidak akan memiliki arah dan tujuan yang jelas, mudah teromang-ambing, rentan tergiring oleh kepentingan abstrak dan terjerumus dalam lubang kebodohan. Jika kita perhatikan dalam ungkapan lectio ergo sum. Secara ontologi manusia akan terlihat dari apa yang dia dibaca. Semakin tinggi intensitas dan frekuensi dalam membaca, semakin tinggi pula tingkat eksistensi atau derajatnya dalam kehidupan. Selain itu dapat dilihat dari apa yang dia baca karena ialah mencerminkan manusia sebenarnya. Ketika yang dibaca adalah tentang agama, maka manusia tersebut akan mencerminkan religiusnya. Ketika yang dibaca adalah tentang sosial atau sains, maka manusia tersebut memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi pula. . Begitu pun juga ketika apa yang dibaca adalah tentang dunia fiksi, maka manusia tersebut kaya akan imajinasi dan mimpi. Dan Bagaimana jika manusia tersebut tidak ada yang ia baca ? Maka cermin pun dengan kejujurannya menampilkan ketidakadannya.

Dalam konteks yang lebih besar, membaca merupakan karakter sebuah progresivitas bangsa. Aktivitas mampu membumikan semangat untuk berbuat lebih baik dan maju. Selama buku-buku tetap ada, maka infrastuktur peradaban akan tetap ada. Selama manusia membaca suprastruktur peradaban akan tetap berjalan.

Lectio ergo sum, aku membaca maka aku ada

Selamat Hari Buku Se-Dunia

23 April 2018