Liberalisasi Kreatifitas Kader dan Tempat Penyemaiannya

Oleh: Alfa Rezky Ramadhan

*Bidang Perkaderan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur Periode 2016-2018

 

“Sangat aneh dan lucu, jika ikut IPM tetapi tidak suka membaca dan menulis.”

~Azaki Khoirudin~

Kata liberalisasi memiliki eksistensi konotasi[1] yang terbilang negatif di masyarakat. Dahulu paham liberalisme biasa disangkutpautkan dengan aspek ekonomi namun dengan perkembangan pemikiran saat ini, kata liberal dipakai untuk mendiskripsikan sebuah paham keagamaan yang terkesan sekuler[2]. Bahkan kata liberal dipakai untuk mendiskripsikan segala aspek seperti budaya, politik, dan lain sebagainya. Walau memang dalam sejarah benih-benih pemikiran liberal sudah dimulai oleh Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Politik.”

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Liberal berarti bersifat bebas atau berpandangan bebas (luas dan terbuka). Dalam bentuk kata lain, kata liberal berubah menjadi liberalisasi yang berarti proses (usaha, dan sebagainya) untuk menerapkan paham liberal dalam kehidupan. Dari pengertian tersebut, liberalisasi mengandung makna proses menerapkan suatu paham yang memandang sesuatu secara bebas.

Liberalisme klasik melahirkan banyak pemikiran yang memiliki cita-cita untuk mengangkat individu menjadi pemilik dunianya secara otonom dan membebaskan diri dari penghalang yang memasung kebebasan individu untuk mengekspresikan diri sebagai manusia.[3]  Dalam hal ini liberal memiliki makna sebuah kemerdekaan manusia dari suatu penghalang. Sehingga liberalisasi dapat dimaknai sebagai proses memerdekakan manusia dari segala hal yang menghalanginya untuk mengekspresikan dirinya.

Merujuk kepada konteks IPM maka akan timbul pertanyaan, siapa yang harus dimerdekakan? Manusia manakah yang harus dibebaskan dari belenggu? Jawabannya tentu adalah para kader IPM. Para anggota yang mempunyai militansi yang tinggi terhadap ikatannya. Para anggota utama yang berjuang secara sungguh-sungguh dalam bingkai keilmuan. Lalu timbul pertanyaan lagi, dari segi manakah pembebasan subjek IPM tersebut? Jawabannya adalah kreatifitas.

Kreatifitas merupakan sebuah produk dari daya berpikir seseorang. Menurut kamus besar bahsa Indonesia, kreatif adalah memiliki daya cipta atau memiliki kemampuan untuk menciptakan atau bersifat (mengandung) daya cipta. Menurut Ummu Hanny A. Dalam jurnalnya menguraikan bahwa kreatifitas merupakan suatu proses berpikir yang lancar, lentur, dan orisinal dalam menciptakan suatu gagasan yang bersifat unik, berbeda, orisinal, baru, indah, efisien, dan bermakna, serta membawa seseorang berusaha menemukan metode dan cara baru di dalam memecahkan suatu masalah.[4]

Semua kader IPM memiliki potensi daya kreatif, namun tidak semua kader mampu untuk mengeluarkan daya-daya kreatifitas yang ada dalam benaknya. Seolah-olah ada sesuatu yang menutupinya dan menghalanginya untuk keluar. Daya kreatif tersebut seperti terpenjara dalam suatu ruangan yang tertutup bahkan cahaya pun tak dapat masuk kedalamnya. Oleh sebab itu, daya kreatif harus dibebaskan sehingga dapat keluar dan menghirup udara segar. Hal ini lah yang disebut liberalisasi kreatifitas kader IPM.

Jihat Literasi sebagai Tempat Penyemaian Kreatiftas Kader

Hasil dari Musyawarah Wilayah XX IPM Jawa Timur di Ponorogo mengukuhkan tiga agenda aksi yaitu gerakan jihat literasi, gerakan komunitas kreatif dan gerakan mandiri pelajar. Ketiga agenda aksi ini menjadi strategi aktual dan pedoman Pimpinan Wilayah IPM Jawa Timur Pimpinan Daerah IPM Se-Jawa Timur dalam merumuskan agenda-agenda aksi di daerahnya masing-masing. Namun, agenda aksi pertama yang harus dijadikan titik tekan adalah jihat literasi.

Kata literasi secara definitif tidak dapat ditemui di dalam kamus besar bahasa Indonesia. Ini merupakan sebuah persoalan yang layak menjadi pertanyaan. Kemampuan literasi pada awalnya adalah kemampuan membaca dan menulis.[5] Namun dengan berkembangannya zaman, makna literasi ikut berkembang semakin kompleks. Menurut Heny Subandiyah, makna yang terbaru dari literasi adalah berpikir kritis, dapat menghitung, memecahkan masalah, cara mencapai tujuan, mengembang ilmu pengetahuan dan potensi seseorang.[6] Tapi tetap saja di dalam ruang lingkup IPM literasi bermakna sempit yaitu membaca dan menulis.

Kenapa literasi harus diartikan secara sempit di IPM? Karena memang literasi adalah salah satu persoalan aktual yang dijadikan sebagai sebuah strategi pergerakan di IPM. Notabene anggota IPM adalah Pelajar berumur sekitar 12-20 tahun. Sehingga literasi harus menjadi suatu istilah yang mudah dipahami oleh para anggota dan kader IPM.

Jihat literasi yang berarti jihat membaca dan jihat menulis. Pelajar muhammadiyah apabila mengaktualisasikannya secara tidak langsung ia juga melakukan gerakan keilmuan yaitu belajar, berpikir kritis, memecahkan masalah, mencapai target atau tujuan dan lain sebagainya sesuai dengan pengertian luas dari kata literasi. Sehingga sebenarnya literasi di IPM dimaknai secara sederhana namun dalam praktiknya berimplikasi[7] secara luas dan kompleks, itulah hakikat literasi bagi IPM.

Jihat literasi yang mana merupakan bagian dari gerakan ilmu sangat sesuai dengan ruh IPM masa kini, yaitu paradigma gerakan pelajar berkemajuan. Hal ini karena gerakan pelajar berkemajuan telah mengukuhkan diri sebagai manifestasi dari gerakan ilmu. Oleh sebab itu, literasi merupakan tempat yang sangat sesuai untuk menyemaikan liberalisasi kreatifitas kader IPM.

Liberalisasi Kreatifitas Kader IPM dalam Berliterasi

Buku Nun Tafsir Gerakan Al-Qalam karya Azaki Khoirudin menjadi babak penyadaran pentingnya literasi di dunia IPM. Dia berhasil mengungkap makna semboyan IPM yang selalu diucapkan oleh para kadernya yaitu Qs. Al-Qalam ayat 1 dengan cara tafsiriah dan pengumpulan referensi dari para mufasir. Dengan pendapat para mufasir tentang frasa Nun-Wal Qalami-Wa ma yasthurun, tafsir dua belas pena dan teologi Al-Qalamnya. Azaki berhasil meneguhkan literasi sebagai bagian dari falsafah gerakan IPM yang sebenarnya. Hal ini mengartikan bahwa literasi merupakan agenda aksi abadi milik IPM.

Namun permasalahan di dunia pelajar dengan usia remajanya memang sangat pelik. Karena pada usia tersebut pelajar masih labil secara psikologis dan masih dalam upaya mencari jati diri nya sebagai pelajar. Banyak pelajar pada masa itu yang bahkan tak sadar bahwa dirinya adalah seorang pelajar. Prihal ini lah yang sangat menghambat kreatifitas pelajar. Kreatifitas pelajar seperti terkurung dan bahkan hilang karena jati diri pelajar itu sendiri belum ditemukan oleh subjeknya. Sehingga sangat perlu adanya liberalisasi kreatifitas kader dalam berliterasi.

Berliterasi (membaca dan menulis) untuk pelajar memang sangat perlu dilakukan secara liberal (bebas). Namun kebebasan itu ada batasannya, sepertihalnya sebuah kemerdekaan yang terbatas oleh hak dan kewajiban dirinya sendiri maupun orang lain dan sunatullah (takdir). Hal ini sesuai dengan pendapat Nurcholis Majid dalam sebuah gagasan besarnya yaitu Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP), dia mengungkapkan bahwa adanya batas-batas dari kemerdekaan adalah suatu kenyataan. Kenyataan di sini adalah hukum-hukum yang telah diatur dan dipastikan oleh sang pencipta yaitu takdir. Sehingga secara sederhana yang menjadi batasan dari liberalisasi kreatifitas kader adalah hukum-hukum Islam.

Kebebasan berpikir meupakan kebebasan pelajar untuk mengeluarkan daya kreatifnya. Hal ini harus dijamin dan diberi ruang seluas-luasnya. Air kopi yang dituangkan harus ditampung oleh cangkir sebagai tempat agar kopi tersebut tidak tumpah ke mana-mana. Begitu pula dengan daya kratifitas pelajar, harus disediakan sebuah media untuk menuangkannya. Buku, pena dan secarik kertas merupakan salah satu jawaban yang paling tepat diantara banyak jawaban. Buku merupakan bubuk misiu, pena merupakan api dan kertas merupakan sumbu. Begitulah cara membuat bom kreatifitas.

Gerakan yang paling sederhana di IPM adalah gerakan iqra’, namun implikasi yang ditimbulkan sangat luas. Gerakan iqra’ merupakan bagian dari gerakan literasi dan merupakan langkah pertama dari literasi. Diawali dengan membaca  maka akan tumbuh secara perlahan minat untuk menulis. Ini seperti sunatullah, karena membaca adalah salah satu langkah liberalisasi atau proses pembebasan kreatifitas kader. Oleh sebab itu, liberalisasi kreatifitas kader dalam berliterasi harus diawali dengan membaca, membaca apapun yang disukai.

Mari goreskan pena, goreskan karya nyata

[1] Konotasi: tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

[2] Sekuler: bersifat duniawi atau kebendaan bukan bersifat keagamaan atau kerohanian (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

[3] M. Yunus Abu Bakar, “Pengaruh Paham Liberalisme dan Neoliberalisme Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia”,  Jurnal Tsaqafah, 8:1, (Surabaya, April 2012), 138.

[4] Ummu Hany Almasitoh, “Kpribadian Individu Kreatif: Afiliatif & Asertif”, Magistra, 83:25, (Klaten, Maret 2013), 2.

[5] Lihat Edisi ke-7 Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005:898, dalam Usaid Prioritas, 2004.

[6] Heny Subandiyah, “Pembelajaran Literasi dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia”, ejournal.fbs.unesa.ac.id, (Surabaya, 2015), 112.

[7] Implikasi: mempunyai implikasi; mempunyai hubungan keterlibatan (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *