Membuka Pintu Peradaban dan Kemajuan Bangsa dan Negara dengan Kunci Literasi

Dipublikasikan oleh Bustomi pada

Indonesia menjadi negara yang kaya akan segala hal, dari sumberdaya alamnya, sumberdaya manusianya, dan lain lain. Hal ini akan menjadi suatu keuntungan bagi Indonesia untuk selalu berproses menjadi Negara yang memiliki potensi yang tinggi untuk maju di kancah internasional. Namun, yang perlu dikaji lebih lanjut tentang kondisi atau kualitas segala sumber daya yang dimiliki oleh Negara Indonesia tersebut, apakah sudah bisa dijadikan acuan atau sesuai jika akan dijadikan senjata untuk bersaing bersama Negara lainnya.

 

Indonesia tumbuh dengan sumberdaya alam yang melimpah akan tetapi ada masalah serius yang perlu kita benahi yaitu, kurang dan rendahnya minat membaca atau menulis. Di negara ini rata-rata masyarakat Indonesia membaca buku hanya 3-4 kali per minggu dan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Bahkan berdasarkam studi “most littered nation in the world”. Tentang presentase minat baca di negara berkembang , yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016 lalu. Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada dibawah Thailand(59) dan diatas bostwana (61).

 

Mengenai hal tersebut, sebagai pelajar sekaligus mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah dan sekaligus menjabat sebagai ketua umum bagian kajian dakwah islam (KDI) di salah satu cabang IPM lamongan, penulis memberikan kontribusi perihal masalah ini, yakni, sebagai pelajar dengan menggerakkan gerakan sadar sejarah dan gerakan literasi kepada masyarakat Indonesia khususnya para pelajar. Karena pelajarlah yang akan menjadi generasi emas dan benih yang nantinya yang menjadi pemimpin di masa mendatang.   

 

Sejarah menjadi suatu hal yang penting yang wajib dipelajari dan ditekankan kepada para pelajar.  Mulai dari bangku sekolah dasar hingga bangku kuliah. Karena, dengan sejarah kita bisa belajar dan memahami bagaimana proses kemajuan dan kemunduran di suatu peradaban. Untuk mengenalkan sepak terjang literasi diberbagai zaman, sejarah merupakan metode terbaik untuk mengenalnya. Bisa dilihat misalnya munculnya literasi dalam islam ditandai dengan turunya wahyu Allah yang pertama yaitu iqra’. Yang berarti “bacalah”. Disini Allah memerintahkan nabi Muhammad saw. Beserta kaumnya dengan iqra’ “bacalah” (bentuk fi’il amr) kata perintah. Kalimat ini bersifat umum yang mana kita diperintahkan untuk membaca dan belajar semua ilmu tak terkecuali. Dalam dunia islam. membaca dan menulis merupakan suatu aktivitas yang sangat penting bagi setiap pemeluknya. Bahkan fakta sejarah membuktikan, bahwa peradaban islam bergantung pada tradisi baca-tulis baik dalam proses pertumbuhanya maupun pelestariannya. Tapi seiring berjalannya waktu budaya membaca dan menulis atau yang biasa kita sebut literasi dalam islam ini mulai pudar bahkan hilang . Hal yang melatar belakangi mundurnya dan lunturnya minat budaya literasi dalam islam. selain faktor kurangnya pengenalan sejarah dan perjuangan literasi pada masyarakat sejak dini juga kurangnya kesadaran literasi sebagai kebutuhan di era industri ini. Aktivitas membaca merupakan awal diperolehnya segala ilmu pengetahuan. Baik itu ilmu dunia maupun ilmu akhirat, kegiatan membaca secara tidak langsung telah mengaktifkan proses semangat kita dalam menulis. Karena kita tidak selamanya seseorang itu mengingat apa yang ia baca. Perlu adanya media untuk mencurahkan pandangan atau pemahaman kita setelah kita membaca maupun meneliti, yaitu dengan menulis. Dari sinilah mulai dapat kita simpulkan bahwa membaca dapat meningkatkan rasa semangat dalam berkreasi dan berinovasi.

 

Aktivitas literasi sangatlah berpengaruh pada perubahan pola pikir manusia. Bangsa Arablah yang memulai dan bertransformasi menjadi bangsa yang maju dengan sangat cepat dengan perantara literasi. Setelah datangnya Islam dan datangnya Al-Qur’an. Maka lahirlah suatu istilah “dari zaman gelap gulita menuju zaman yang terang benderang”. Istilah ini sering diucapkan penceramah, ulama’ dan sering kita jumpai pada suatu pengajian-pengajian dan muhadloroh. Lalu apa makna dibalik istilah tersebut?. Marilah kita menelaah dan menengok sejarah masyarakat Arab sebelum datangnya islam. Secara adab dan perilaku benar adanya bahwa mereka masih dalam kejahiliyaan atau kebodohan. Akan tetapi, bukan berarti mereka bodoh dalam segala hal. bahkan secara keilmuan mereka memiliki intelektualitas yang tinggi, daya ingat yang kuat dan juga mempunyai sastra yang sangat indah. Terbukti dari pakar sejarah Arab yang menyebutkan bahwa bangsa Arab memang maju dalam bidang sastra. Bahkan dengan kekuatan mengingat masyarakat Arab pada zaman dahulu bisa mengingat nasab mereka sampai beberapa keturunan. Sayangnya yang menjadi kekurangan bangsa Arab pra islam ialah mereka tak menyukai aksara dan dunia tulis menulis. Bahkan kegiatan menulis merupakan aib bagi mereka. Hanya orang-orang tertentu saja seperti pendeta, dukun dan lain sebagainya. Inilah faktor yang menyebabkan masyarakat Arab hidup dalam kegelapan atau kejahiliyahan. Karena secara keilmuan mereka mungkin sangat tinggi. Akan tetapi ilmu mereka hanya untuk diri mereka sendiri tidak untuk orang lain. Dan setelah datangnya islam mulailah kegiatan menulis dan literasi mulai dibangkitkan. Masyarakat Arab yang dulunya menjadikan kegiatan menulis adalah aib, setelah datangnya Islam tulis menulis dijadikan suatu budaya. Dan pada puncak kemajuan literasi Islam yang ditandai oleh daulah Abbasiyah dengan baitul hikmahnya inilah yang merupakan cikal bakal keilmuan timur dan barat. Berkat kegiatan membaca dan menulis pula lahirlah ribuan buku dan miliaran jilid serta ilmu yang kedepan nya akan mewariskan peradaban yang agung yang tak ternilai harganya. Inilah yang disebut dari zaman kegelapan menuju zaman terang benerang.

 

Posisi  literasi di negara indonesia ini sangatlah sentral dari zaman penjajahan sampai pada saat ini. karna berkat literasilah indonesia bisa bangkit dari pra kemerdekaan sampai merdeka. Karna literasi pula yang telah merubah sistem berfikir masyarakat indonesia  sehingga para pemuda dan pelajar mempunyai wawasan yang luas dan mempunyai semangat perubahan yang tinggi. Dan itulah salah satu faktor Indonesia dapat merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dibenak para penjajah Literasi sangatlah ditakuti, para penjajah berusaha mati-matian untuk menekan pendidikn yang ada di indonesia dengan membatasi dan mengawasi guru dan peredaran buku di indonesia. Karena mereka tahu bahwa semakin rakyat indonesia membaca maka akan semakin merubah pola pikir rakyat indonesia dari kebodohan menuju ke intelektualitasan dan bisa mengancam posisi penjajah di indonesia.

 

Dalam UUD 1945 terdapat poin penting yang dapat kita ambil garis merah yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dari sini dapat kita telaah bahwa literasi merupakan salah satu wadah yang sangat berbobot untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena awal mula kemajuan suatu bangsa ialah dengan sejauh mana ia berliterasi contoh saja negara Jepang. Negara Jepang adalah salah satu negara yang maju dikawasan Asia produk-produknya telah tersebar keseluruh negara. Akan tetapi sebelum Jepang menjadi negara maju seperti saat ini, Jepang pernah menjadi negara miskin dan terpuruk karna kehancuran dan kekalahan Jepang pada perang dunia ke 2. Dua kota sentral Jepang yaitu Heroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu. Yang menyebabkan kerusakan vital negara Jepang. Pemerintah Jepang bergerak cepat untuk mengatasi masalah ini. yaitu dengan menyuruh semua guru yang ada di Jepang untuk menerbitkan buku, baik itu buku hukum, ekonomi, sosial dan lain-lain. Tak hanya itu pemerintah Jepang mengirim pelajar terbaiknya untuk disekolahkan di Amerika, setelah usai menempuh pendidikan di Amerika para belajar ini ditarik kembali ke Jepang untuk bersama sama memperbaiki negara jepang yang rusak parah akibat kekalahan perang dunia ke dua. Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari negara Jepang, yaitu ketekunan mereka dalam belajar dan berliterasi.

 

Dan diera modern ini. Perkembangan teknologi semakin canggih literasi tak hanya stagnan atau berhenti di membaca dan menulis saja tapi banyak banyak cabang di litersi itu sendiri. Seperti, literasi dasar, literasi teknologi, literasi perpustakaan, literasi media, litersi visual, dan masih banyak lagi. Tapi itu semua dapat kita capai dengan membaca dan menulis.

 

Di akhir ini dapat kita tarik benang merah atas kunci majunya suatu peradaban dan negara. Dapat kita ukur dengan tingkat tinggi dan rendahnya suatu negara itu membaca dan menulis dan berliterasi, apapun literasinya. Disini penulis memberi judul “membuka pintu peradaban dan kemajuan bangsa dan negara dengan kunci literasi”  karena suatu peradaban kalau ingin maju itu harus dibuka dan cara membukanya itu sendiri pastilah butuh yang namanya kunci, kunci adalah berliterasi yang terus berproses dari masa ke masa. Jadi kawans kita sebagai pelajar muhammadiyah yang tergabung dengan ortonom ikatan pelajar muhammadiyah. Maka jadilah pelajar yang benar-benar pelajar. Jihad kita sebagai seoarang pelajar ialah belajar. Senjata kita adalah pena. Energi kita adalah membaca, kekuatan kita adalah literasi. Seperti lafadz pertama yang allah turunkan yaitu iqro’. Membaca!. Baca semua buku dan situasi yang ada. Lalu, tuangkanlah dalam bentuk tulisan. Tulislah semua yang kamu tau sehingga apa yang ada didalam fikiranmu dapat dibaca semua orang. Dan mungkin dengan izin allah tulisan itu akan merasuk ke alam bawah sadar si pembaca, sehingga orang yang telah membaca tulisanmu akan akan mempunyai pandangan-pandangan baru. Yang mana pandangan-pandangan yang baru tersebut kan melahirkan pandangan-pandangan yang hebat sehingga sedikit demi sedikin akan mengangkat martabat dan kemajuan bangsa indonesia. Mari kita berliterasi! Kita mulai dari IPM. dari IPM untuk indonesia!

**

Opini ditulis oleh Labib Shalahuddin Al – Hadad. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran dan Sains Lamongan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *