Menganalisis Tema Mencerahkan Konpiwil IPM Jatim 2020

Dipublikasikan oleh Deni Muriawan pada

“Sesungguhnya Wacana dalam Teori Sosial Bersifat Politis (Bukan Persoalan Benar atau Salah Tetapi Menang atau Kalah).” Mansour Fakih

Pendapat Mansour Fakih tentang wacana dalam teori sosial ini bukti-bukti kebenarannya dapat ditemukan apabila kita menganalisis perubahan wacana gerakan IPM Jawa Timur (IPM Jatim) sebagai objek analisis. Mansour Fakih menjelaskan rentetan analisisnya terkait perubahan sosial global yaitu pertarungan antara paham marxisme dan kapitalisme yang sama-sama memiliki fokus analisis terhadap konsep ekonomi dunia. Keduanya saling menghegemoni masyarakat, elit intelektual dan elit politik pada zamannya. Proses tersebut sampai pada taraf penafsiran yang termanifestasi dalam wujud Negara (penganut antara dua ideologi tersebut).Tidak berlebihan apabila pertarungan kedua paham tersebut turut mempengaruhi ideologi, politik, strategi dan taktik (ideopolitor-stratak) organisasi lokal, nasional maupun multinasional, termasuk IPM.

Analisis Mansour Fakih diamini oleh Azaki Khoirudin dalam tesisnya yang menyimpulkan bahwa dengan perspektif Foucault, ternyata terdapat relasi wacana (rezim intelektual) dan sosial politik yang menghegemoni pengetahuan dalam tubuh IPM. Hasil analisis sosial ini dapat diartikan bahwa siapa yang memenangkan pertarungan perpolitikan (perebutan kursi pimpinan IPM) memiliki potensi yang sangat besar untuk memulai sebuah hegemoni pengetahuan. Apabila kita telisik sejarah tidak tertulis yang dialami IPM Jatim dalam setiap permusyawaratannya, akan ditemukan bukti-bukti mencolok kebenaran dari tesis ini. Mulai dari Musywil XIX IPM Jatim di Kediri, Musywil XX IPM Jatim di Ponorogo, Konpiwil IPM Jatim 2018 di Kediri, Musywil XXI IPM Jatim di Lamongan dan sekarang yang akan dimulai adalah Konpiwil IPM Jatim 2020 di Jember.

Tulisan ini merupakan buah interpretasi saya terhadap tema Konpiwil IPM Jatim 2020 terlepas dari maksud sang pembuat (tim materi). Pertama kali membaca tema Konpiwil IPM Jatim 2020 yang baru dilaunching via media sosial membuat saya secara pribadi tertegun beberapa saat. Tema yang berbunyi “Enhancing Creative Movement for Global Society” ini berisikan sebuah kesadaran sosial yang luar biasa. Narasi positif dan semangat optimistis terpancar dalam kandungan tema tersebut. Ditambah lagi sajian dalam wujud bahasa Inggris, meneguhkan keseriusan IPM Jatim dalam kampanye terhadap pentingnya mempelajari berbagai macam bahasa (studi bilingualisme-multilingualisme).

Tema ini diawali dengan kata “enhancing” yang merupakan verb (kata kerja) yang biasanya disebut verb-ing, berarti kata kerja yang sedang dilakukan di masa kini dan juga bermakna sebuah perencanaan yang dilakukan untuk masa depan dengan artian “mempertinggi” (dalam bahasa Indonesia). Sekilas kata ini mengingatkan saya akan gagasan sekulerisasi ala Nurcholis Madjid (Cak Nur). Namun tidak ada hubungannya dengan itu. Kata mempertinggi di sini bukan merupakan bermakna gagasan melangit, namun sebuah ikhtiar untuk peningkatan pergerakan yang kreatif. Artinya, malah sebagai proses pembumian pergerakan yang kreatif, agar semakin massif di tataran akar rumput.

Visi besar dari Konpiwil ini sudah dideklarasikan lewat frasa akhir tema ini yaitu “for global society.” Isu kosmopolitanisme IPM yang mulai disebut dengan lantang saat Musywil XXI IPM Jatim di Lamongan tersebut, terang-benerang menjadi head line tema ini. Rumusan tema ini membuktikan bahwa IPM Jatim masih on the track dalam hal rencana pergerakan berjangka panjang. Tema Konpiwil ini juga mengorientasikan bahwa IPM Jatim akan membuat sebuah konferensi para elit intelektual-politik milik IPM Jatim yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai dengan amanah AD/ART.

Tema ini menggambarkan sebuah persiapan untuk visi jangka panjang IPM Jatim di Musywil XXII. Hal ini sesuai dengan fungsi Konpiwil tengah periode yang berfungsi untuk persiapan Musywil. Bukan hanya perangkat-perangkat Musywil seperti tim materi, tim verifikasi keuangan dan panitia pemilihan, namun sebuah gagasan juga perlu dipersiapkan. Walaupun, gagasan terkait kosmopolitanisme IPM sudah disiapkan di Musywil sebelumnya, namun jembatan penyambungnya tetap berada di Konpiwil yang akan dilaksanakan di daerah yang terkenal dengan festivalnya yaitu Jember Fashion Carnaval (JFC).
Di sinilah kreatifitas pergerakan yang dibalut akan kesadaran sebagai bagian dari warga dunia akan diteruskan dan semakin dikokohkan. Kontribusi pelajar Muhammadiyah Jatim terhadap dunia akan semakin nyata dengan pergerakan yang termanifestasikan menjadi sebuah kerangka program bertemakan isu-isu global. Kajian terkait unversalisme, pluralisme dan heterogenitas politik (IPM sudah tidak boleh malu-malu kucing dalam menyoal politik) harus menjadi kajian yang sering dilakukan oleh IPM Jatim kedepannya sesuai dengan pendapat Gus Dur tentang unsur dominan kosmopolitanisme peradaban Islam.

Akhirnya, semoga Konferensi Pimpinan Wilayah IPM Jatim yang akan dilaksanakan ini berjalan dengan apa yang sudah diharapkan. Selamat bermusyawarah, dan semoga setelah tulisan singkat ini muncul tulisan-tulisan lainnya dalam rangka ikut serta menyemarakkan hajat permusyawaratan tengah periode IPM Jatim ini dengan cara yang literatif. Wallahu A’lam, Nuun Walqalami Wamaa Yasthuruun.

Oleh :

Alfa Rezky Ramadhan

Alumni PW IPM Jawa Timur periode 2016-2018


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *