Oleh : Nuzula Khoirun Nafsiah

Sebuah Refleksi Peringatan Hari Kartini

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini, 4 Oktober 1902)

Berbicara mengenai pendidikan perempuan, saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman saya yang telah lampau. Sekitar 4 tahun yang lalu, saya adalah siswi SMA yang sedang menimbang-nimbang, memilih jurusan perguruan tinggi yang akan saya ambil. Saat itu saya sangat pragmatis, memilih jurusan perguruan tinggi dengan harapan bisa bekerja. Jika saya mengambil jurusan ini maka saya akan bekerja sebagai ini, jika saya mengambil jurusan ini maka saya … dan seterusnya, kurang lebih seperti itu. Saat itu juga, saya mendapat teguran yang cukup keras dari ibu saya. Ibu saya sangat tidak sepakat jika pendidikan yang ditempuh untuk mencari pekerjaan. Menurut ibu saya, jalankan saja pendidikanmu sebagai kewajiban dari Allah untuk menuntut ilmu, itu saja cukup. Lanjut ibu saya, jika pendidikan yang ditempuh hanya untuk memperoleh pekerjaan, itu terlalu sempit. Banyak hal yang dapat diperoleh lebih dari itu. Kemudian ibu bercerita, ibu terkesima dengan perubahan karakter kakak perempuan saya setelah menempuh pendidikan tinggi. Perubahan sikap sangat nampak, menjadi lebih bertanggungjawab, dewasa, mampu mengambil keputusan dengan segala pertimbangan dan sebagainya. “Itu yang lebih ibu harapkan, karena nanti tugasmu mendidik” pungkasnya. Percakapan singkat saat itu, cukup menyadarkan saya tentang hal-hal besar yang belum saya sadari.

Di 139 tahun setelah kelahiran R. A. Kartini ini, marilah kita merefleksi, kemana muara pendidikan perempuan yang sebenarnya. Melihat zaman sekarang dimana perempuan memperoleh hak pendidikan dan berprestasi yang setara dengan laki-laki, Kartini pasti senang. Namun, muara dari pendidikan yang ditempuh kaum wanita apakah sudah sesuai dengan harapan Kartini? “…kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama..” itulah sebenarnya muara yang Kartini harapakan dari pendidikan yang ditempuh perempuan.

Pendidikan bagi perempuan menjad penting karena peran perempuan sebagai pendidik bagi anak-anaknya sendiri. Mendidik anak tidak bisa diremehkan karena sejatinya mendidik anak adalah mempersiapkan generasi. Walaupun sudah ada pendidikan formal dan nonformal yang ditempuh, namun pendidikan informal tetaplah merupakan pendidikan yang utama. Pendidikan informal atau pendidikan di keluarga walaupun tidak akan mengajarkan teori sains atau sosial secara mendalam namun menjadi sangat bermakna karena beberapa alasan, antara lain:

1. Penanaman nilai-nilai tauhid pertama ada di keluarga. Orang tua pasti adalah pihak pertama yang memperkenalkan Allah sebagai Rabb yang Esa, Rasul, Agama dan ibadah kepada anak. Nilai inilah yang akan digenggam anak hingga dewasa. Belajarlah dari bagaiman cara Luqman menanamkan tauhid kepada anak-anaknya. Hingga ia mulia dan namanya menjadi salah satu surat dalam Al-Qur’an.

2. Pendidikan karakter utama adalah di lingkungan keluarga. Orang tua dapat menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak bahkan sejak anak baru lahir. Ini menjadi sangat bermakna karena penanaman nilai karakter tidak hanya teori namun dilakukan dalam aktivitas. Berkacalah pada Sarinah, sosok perempuan ibu asuh Soekarno yang dengan cintanya berhasil menanamkan karakter tangguh dan cinta tanah air dalam diri Soekarno.

3. Anak adalah peniru yang baik, dan orang tua adalah teladannya. Jika ada pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya maka itu merupakan akibat dari teladan orang tua yang ditirukan oleh anak.

Di tulisan ini, sejatinya saya ingin menyampaikan pada kaum perempuan betapa besar amanah tugas kita. Agar pendidikan yang kita peroleh tidak salah bermuara. Keterbukaan pendidikan untuk perempuan saat ini harusnya menjadi peluang yang sangat besar bagi kita kaum perempuan untuk lebih maju. Semakin berkemajuannya perempuan, maka generasi yang dihasilkan harusnya semakin baik. Jika ada yang mengatakan generasi sekarang lebih buruk, lantas kemana muara pendidikan kaum perempuan? Sudah tepatkah tempat bermuaranya?

Mari merefleksi, untuk perempuan muda yang sedang menempuh pendidikan, sembari dinitkan menuntut ilmu sebagai kewajiban seorang muslim, anggunkan juga akhlakmu, perkuat ilmumu karena kita adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita. Kita adalah teladan yang pasti akan ditirukan oleh anak-anak kita. Maka persipkan sebisa mungkin menjadi teladan yang baik demi memperbaiki generasi. Generasi tangguh adalah hasil timangan ibu yang tangguh. Selamat berusaha menjadi perempuan yang mencerahkan!