Peran Perempuan dalam Pendidikan

Dipublikasikan oleh Yafi' Helmi pada

Perempuan merupakan makhluk lemah lembut dan penuh kasih sayang karena perasaannya yang halus. Secara umum sifat perempuan yaitu keindahan, kelembutan serta rendah hati dan memelihara. Demikianlah gambaran perempuan yang sering terdengar di sekitar kita. Perbedaan secara anatomis dan fisiologi menyebabkan pula perbedaan pada tingkah lakunya, dan timbul juga perbedaan dalam hal kemampuan, selektif terhadap kegiatan-kegiatan internasional yang bertujuan dan terarah dengan kodrat perempuan.

Bila berbicara tentang Perempuan, teringat kembali bangsa Indonesia sebelum zaman emansipasi, dimana kaum perempuan dianggap sebelah mata oleh kaum laki-laki. Apa yang terjadi pada perempuan bangsa Indonesia di masa itu berbanding terbalik dengan kaum laki-lakinya. Laki-laki justru memiliki kebebasan untuk mendapatkan pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi. Mereka dapat berkegiatan bebas di luar rumah. Dapat dikatakan bahwa pada zaman tersebut pendidikan dan pekerjaan hanya merupakan hak dari laki-laki, sedangkan perempuan hanya boleh melakukan 3 M yaitu, Macak, Manak, Masak. Dan kegiatannya hanya boleh dilaksanakan didalam rumah serta lingkungan sekitar rumah.

Teringat dua tokoh perempuan yang saya ketahui, dimana kedua tokoh perempuan tersebut memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan layaknya seperti laki-laki, tokoh perempuan tersebut bernama Siti Walidah atau biasanya dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan dan R. A. Kartini. Kedua tokoh tersebut mempunyai keinginan yang sama yaitu menyadarkan perempuan Indonesia bahwasannya pendidikan itu juga penting untuk kaum perempuan. Pendidikan pada zaman tersebut sulit untuk didapatkan karena banyak sebagian masyarakat memandang bahwasannya sekolah yang didirikan oleh bangsa Eropa atau Belanda pada waktu itu dikatakan haram, dan kebanyakan perempuan pada zaman tersebut hanya diperbolehkan menempuh pendidikan hingga Europeesche Lagere School (E.L.S) atau tingkat sekolah dasar, serta perempuan harus melakukan kegiatannya didalam kamar dan dapur. Nah, dengan adanya hambatan yang terjadi pada beliau berdua maka yang dilakukan olehnya ialah mendobrak pemikiran masing-masing untuk mendirikan sekolah atau kelompok pengajian bagi kaum perempuan di daerah mereka tinggal pada masa tersebut. Namun, tantangan yang dihadapi oleh beliau berdua tidaklah ringan banyak terjadi hambatan didalamnya, singkat cerita berkat perjuangan beliau, berdirilah sekolah dan kelompok pengajian, khusunya di Jawa Tengah dan Daerah Istimewah Yogyakarta. Seperti, “Kartini School” atau “Sekolah Kartini” awal berdirinya pada tahun 1912 di Semarang, dan kelompok pengajian yang diberi nama “Sopo Tresno” pada tahun 1914.

Mengenai peran perempuan dalam hal pendidikan, bagaimana institusi pendidikan dan lingkungan memberikan hak kepada perempuan untuk memperoleh pendidikan layaknya seorang laki-laki dan sepenuhnya tanpa adanya intrik sosial. Perempuan jangan lagi mengalami ketertinggalan perihal pemikiran dan pengetahuan. Karena aspek pendidikan bagi perempuan berpengaruh pada segala bidang bahkan seorang perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga, diperlukan pula pembekalan akan hal tersebut. Pendidikan bukan hanya milik perempuan yang memiliki akses ekonomi atau strata sosial menegah ke atas, melainkan dapat dinikmati oleh seluruh perempuan secara merata, itulah arti kesetaraan itu sendiri.

Perempuan memiliki peranan penting dalam hal pendidikan, mengingat bahwa seorang ibu merupakan pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Bukan berarti ayah tidak memberikan pendidikan pada anaknya lo ya, ayah dalam pendidikan bagi anaknya juga berpengaruh terhadap proses perkembangan potensi anak, namun tidak seotentik seorang ibu. Karena keterikatan batin seorang ibu dan anak sangat kuat.

Pendidikan bukan hanya berkaitan soal mengasah akal dan tingkat intelektual seseorang saja, namun juga memperhatikan kepribadian. Inti dari intinya ialah dalam menjalankan sistem pendidikan, tidak hanya mengutamakan tingkat kecerdasan semata, namun juga menanamkan pendidikan budi pekerti pula. Bila seseorang memiliki kecerdasan yang sangat tinggi namun dia memiliki budi pekerti yang sangat rendah maka orang tersebut akan dipandang oleh masyarakat sebagai orang yang tidak berpendidikan. Namun sebaliknya, bilamana kita mempunyai budi pekerti yang tinggi namun memiliki kecerdasan yang sangat minim maka budi pekerti itu akan salah dipergunakan dalam kita hidup bermasyarakat. Nah dari kedua hal tersebut maka kita juga harus mengimbangkan antara kecerdasan kita dengan budi pekerti yang dimiliki oleh seorang perempuan atau setiap orang, sehingga masyarakat dapat memandangkan kita baik dalam bertindak serta baik dalam berpikir.

Disini pendidikan bukan hanya diberikan lewat lembaga formal saja, namun juga diperlukan bimbingan pendidikan non formal. Pendidikan formal tidak berjalan dengan baik jika tidak diiringi oleh pendidikan non formal yang dimana pendidikan non formal tersebut adalah peranan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Joseoef Sulaiman dalam Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah mengemukakan : “ Di dalam keluargalah anak pertama-tama menerima pendidikan, dan pendidikan yang diperoleh dalam keluarga ini merupakan pendidikan yang terpenting atau yang utama terhadap perkembangan pribadi anak.“

Keluarga merupakan elemen terpenting dalam pembentukan dan pengembangan karakter seorang anak. Itulah sebabnya penekanan pendidikan kerap sekali diberikan pada pendidikan non formal atau pendidikan yang diberikan oleh keluarga. Karena disini keluarga juga berperan sebagai pendidik. Nah, hal ini berkaitan dengan peran perempuan dalam memberikan pendidikan pada anaknya kelak di lingkup keluarga maupun lingkungan sekitar, agar anak kita kelak nanti tidak tersesat pada pergaulan bebas yang semakin menjadi-jadi.

Oleh :

Karina Damayanti

Bendahara 2 Pimpinan Wilayah Jawa Timur

Priode 2018-2020


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *