Ramadhan Tahun Ini Kehilangan Meriahnya?

Dipublikasikan oleh Deni Muriawan pada

IPMJATIM.OR.ID – Tentu tidak mudah untuk menjalani Ramadhan tahun ini disituasi pandemi Covid-19, Ramadhan dengan segala kebiasaan yang telah menjadi sebuah budaya Ramadhan di negeri ini.

Apakah Ramadhan tahun ini kehilangan meriahnya? Tentu saja tidak. Pertanyaan semacam itu timbul karena kita terdidik menjalani Ramadhan dengan hingar bingar budaya Ramadhan. Kita sama sekali tak terdidik menjalani Ramadhan dengan senyap, barangkali Ramadhan kali ini menjadi sebuah pembelajaran yang amat sangat berarti untuk Ramadhan yang lainnya.

Jadwal buka bersama yang padat, riuh jalan sesak orang menikmati sore sembari menunggu waktu berbuka (Ngabuburit), riuh berburu santapan takjil, menghias rumah, menyiapkan pakaian serba baru (bisa juga mahal), menjadwalkan waktu untuk pulang ke kampung halaman. Kebiasaan saat Ramadhan itu kini telah menjadi budaya.

Atau barangkali budaya itu yang kita tunggu saat Ramadhan, sehingga kita tak begitu antusias menyambut Ramadhan tahun ini yang senyap.

Berdasarkan khittah, sejatinya Ramadhan ternyata bukanlah ibadah yang ramai dan heboh. Allah SWT tidak pernah membocorkan rumus perhitungan pahala puasa Ramadhan. Ia akan menilainya secara subjektif dan eksklusif. “Setiap amalan manusia adalah untuk mereka sendiri kecuali puasa, sebab puasa itu hanyalah untukKu, dan Aku sendirilah yang akan memberi ganjaran secara langsung” (hadist qudsi). Ditegaskan pula bahwa kebanyakan orang puasa tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja.

Jelas bahwa ibadah puasa ini adalah sunyi dan eksklusif yang tak perlu dihiasi rumbai-rumbai kemeriahan, apalagi ditutup dengan pesta kemenangan. Ini hanya soal kita (secara individu) langsung dengan Allah. Ia sendiri yang akan menilai dan mentransfer pahalanya ke rekening kita. Malaikat pun tak tahu. Begitu kiranya yang dijelaskan Ayahanda Nugraha melalui pesan yang dikirim ke saya.

Banyak pembelajaran menarik di Ramadhan tahun ini yang muncul dari postingan beberapa teman melalui media sosial.

Pertama, ada yang menceritakan bagaimana rasa bahagianya bisa berkumpul berjamaah di rumahnya masing-masing bersama keluarga. Bergantian menjadi Imam, Muadzin, bahkan menjadi khotib.

Kedua, dalam sebuah foto yang saya lihat dari postingan teman dekat saya, tampak sebuah keluarga bahagia melantukan Al-Qur’an bersama (tadarus) di ruang tamu rumahnya.

Ketiga, dalam sebuah story dituliskan bagaimana seorang anak merasa bahagia akhirnya bisa belajar memasak, moment itu dia temukan saat menyiapkan hidangan buka puasa dan sahur. Dan masih banyak pembelajaran menarik lainnya.

Ramadhan kali ini sungguh banyak mengajarkan kita pada sebuah nilai sebenarnya tentang Ramadhan. Tentang puasa yang sesungguhnya. Tentang puasa tanpa ingar bingar. Tentang puasa tanpa dikotori ego yang gila ingin dihormati. Tentang puasa yang tak perlu dirayakan kemenangannya. Tentang puasa yang sunyi, hanya untuk Allah SWT.

Selamat merayakaan Ramadhan dan menunaikan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh kebahagiaan.

Oleh :

Dedi Kurniawan

Ketua Umum PW IPM Jawa Timur periode 2018-2020


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *