Sejarah dan Ideologi IPM

Oleh: Alfa Rezky Ramadhan

*Bidang Perkaderan PW IPM Jawa Timur

Sejarah merupakan kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau. Sejarah juga dapat diartikan sebagai asal-usul, silsilah, riwayat atau juga bermakna pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi dalam masa lampau.1 Dapat disimpulkan dari pengertian-pengertian di atas bahwa sejarah merupakan kejadian masa lampau atau sudah berlalu. Namun, sebenarnya sejarah merupakan gabungan dari masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Karena sejarah berorientasi2 kepada waktu. Memang benar sejarah diartikan sebagai peristiwa yang sudah terjadi, namun peristiwa yang sudah terjadi tersebut berimplikasi3 terhadap masa kini dan masa yang akan datang. Oleh sebab itu, sejarah merupakan rangkaian peristiwa (tempat) yang terjadi di masa lalu, kini dan masa yang akan datang.

Berikutnya adalah idelogi, apa itu ideologi? Bagi para pelajar yang notabene4 masih berusia remaja terasa berat memang apabila disuruh untuk mendefinisikan kata ideologi. Padahal seorang pelajar harus paham betul apa makna dari setiap kata yang bersifat ilmiah. ideologi merupakan kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup.5 Secara sederhana, ideologi merupakan hasil dari pemikiran manusia yang dijadikan sebagai pedoman atau dasar sesuatu.

Berbicara mengenai ideologi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pastinya harus mempelajari terlebih dahulu sejarah atau perjalanan ideologi IPM. Karena ideologi IPM selalu berkembang sesuai dengan zaman dan pemikiran para elite6 pimpinannya. Ideologi di dalam IPM lebih dikenal dengan kata paradigma7, karena memang paradigma lebih bersifat sederhana atau praktis dan merupakan kerangka yang aplikatif8. Sekitar tahun 1970-an muncul paradigma pertama IPM yaitu “Tri Tertib” yang berisi tiga asas yang menjadi pedoman keseharian anggota IPM yaitu “Tertib Ibadah, Tertib Belajar dan Tertib Organisasi”. Antara tahun 2002-2004 muncul paradigma baru IPM yaitu “Manifesto9 Gerakan Kritis Transformatif10 (Manifesto GKT)” yang berisi tiga P (Penyadaran, Pemberdayaan dan Pembelaan). Tahun 2008 muncul gagasan untuk membaharui paradigma IPM dengan istilah “Gerakan Pelajar Kreatif (GPK)”. Namun gagasan tersebut kandas ditengah jalan karena GPK dinilai belum memenuhi unsur-unsur sebagai sebuah paradigma dan diartikan hanya sebagai strategi gerakan. Tahun 2012 muncul paradigma IPM yang terbaru yaitu Gerakan Pelajar Berkemajuan (GPB). GPB yang berisika tiga asasnya yaitu (Pembebasan, Pemberdayaan dan Pencerdasan) dan sampai saat ini masih resmi dijadikan sebagai pedoman pergerakan IPM di seluruh Indonesia.

Sejarah Kelahiran dan Dinamika Perubahan Nomenklatur11

Secara resmi IPM lahir pada tanggal 18 Juli 1961 M. Bertepatan pada tanggal 05 Shafar 1381 H. Namun menurut Azaki Khoirudin, jauh sebelum itu pelajar Muhammadiyah di beberapa daerah sudah mulai berhimpun dan bergerak untuk mendirikan sebuah organisasi khusus pelajar Muhammadiyah.12 Namun, karena keadaan politik dan sosial, Muhammadiyah saat itu belum merestui berdirinya IPM.13

Muhammadiyah mulai merestui gagasan berdirinya IPM saat para fungsionaris14 Pemuda Muhammadiyah mempunyai gagasan tersebut. Gencarnya massifikasi ideologi komunis saat itu, mendorong Pemuda Muhammadiyah untuk melindungi para pelajar yang ada di sekolah Muhammadiyah dari ideologi komunis tersebut dengan cara mendirikan sebuah organisasi yang dapat menghimpun para pelajar Muhammadiyah. Hal ini lah yang melatarbelakangi Muhammadiyah mulai sadar bahwa pembentukan wadah bagi pelajar Muhammadiyah saat itu menjadi hal yang sangat penting dan kondisi tersebut juga merupakan kondisi sosial-politik yang menjadi latar belakang berdirinya IPM.

Secara formal proses pendirian IPM mencapai titik terang saat Konferensi Pemuda Muhammadiyah tahun 1958 di Garut, Jawa Barat. Pemuda Muhammadiyah memutuskan berdirinya Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah sebagai pengawas di atasnya. Keputusan tersebut diperkuat pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah yang ke-2 pada tanggal 24-28 Juli 1960 di Yogyakarta, dengan keputusan untuk membentuk IPM (Keputusan II/ nomor 4).

Selanjutnya Pemuda Muhammadiyah membicarakan tentang berdirinya IPM bersama Majelis Pendidikan dan Pengajaran PP Muhammadiyah. Setelah mencapai kesepakatan antara PP Pemuda Muhammadiyah dengan PP Muhammadiyah, ditandatanganilah peraturan bersama tentang organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Setelah itu, PP Pemuda Muhammadiyah melakukan komunikasi yang intensif dengan PP Muhammadiyah. Sehingga pada Konferensi Pemuda Muhammadiyah di Surakarta tanggal 18-20 Juli 1961, lahirlah Ikatan Pelajar Muhammadiyah dengan Ketua Umum yang pertama yaitu Herman Helmi Farid Ma’ruf dan Muh. Wirsyam Hasan sebagai Sekretaris Umum.

Selain cerita sejarah mengenai kelahiran IPM, rangkaian peristiwa yang sangat penting adalah pergantian nomenklatur atau nama IPM. Bagaimana IPM merubah namanya sendiri menjadi IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah? Apa alasan dibalik perubahan nama tersebut? Kenapa IRM mengembalikan namanya menjadi IPM lagi? Bagaimana proses itu bisa terjadi? Seperti inilah rumusan masalah yang akan menguraikan bagaimana proses dan dinamika secara singkat tentang perubahan nomenklatur IPM-IRM-IPM.

Setelah IPM berdiri pada tahun 1961, IPM mulai merajut dan melengkapi berbagai hal tentang jati dirinya. Namun saat itu IPM dihadapkan kepada kondisi bangsa Indonesia yang di pimpin oleh Presiden Soeharto dengan berbagai kebijakannya yang bersifat masif dengan metode penyeragaman. Contoh sederhananya saja, siswa-siswa di sekolah saat itu mulai diatur untuk memakai seragam sekolah. Bahkan sampai ke ranah ideologis, organisasi-organisasi di seluruh nusantara dipaksa untuk memakai ideologi tunggal yaitu Pancasila sebagai asas tunggal.

Begitu pula dengan IPM, tahun 1975 pemerintah memberikan kebijakan bahwasanya organisasi pelajar yang boleh eksis atau diakui oleh pemerintah hanyalah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Selama tujuh belas tahun (1975-1992) IPM berhasil mempertahankan eksistensinya dengan nama IPM namun saat menpora yang saat itu dijabat oleh Akbar Tanjung, menekan IPM agar merubah nomenklaturnya. Berbagai tekanan dari pemerintah dilakukan dari pelarangan perizinan tempat untuk kegiatan-kegiatan nasional IPM sampai dengan tidak diakuinya IPM sebagai organisasi resmi.

Sehingga pada muktamar IPM VIII yang diselenggarakan secara terbatas dan dikemas hanya dengan kegiatan silaturrahim pimpinan di Yogyakarta tahun 1990, IPM memutuskan untuk membentuk tim penjagaan eksistensi15 IPM guna mecari alternatif perubahan nama IPM. Saat Konpiwil (sekarang berubah menjadi Tanwir) tahun 1992 di Yogyakarta, Menpora Akbar Tanjung secara jelas menyampaikan kebijakan pemerintah kepada IPM untuk merubah nomenklaturnya saat beliau memberi sambutan. Karena sebelumnya IPM sudah membentuk tim eksistensi yang bertugas menyelesaikan permasalahan ini, akhirnya diputuskan untuk mengganti nama Ikatan Pelajar Muhamadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah. Keputusan tersebut dituangkan di dalam SK PP IPM nomor VI/PP.IPM/1992 dan selanjutnya perubahan tersebut diamini oleh PP Muhammadiyah dengan terbitnya SK No. 53/SK-PP/IV.B/1.b/1992 pada tanggal 18 November 1992 M. Bertepatan pada tanggal 22 Jumadil Awal 1413 H. Mulailah IPM menghadapi babak baru dengan nama IRM.

Peristiwa ini tak hanya merubah nomenklatur IPM menjadi IRM namun juga merubah basis masa organisasi yang semula pelajar meluas menjadi remaja. Di sini IPM harus mencari jati dirinya yang baru dengan corak strategi pergerakan yang sesuai dengan kompleksnya permasalahan remaja. Sehingga saat itu pola perkaderan pun berubah ditandainya dengan berubahnya SPI16 Merah ke SPI Biru.

Pasca reformasi pada tahun 1998, yang bersifat demokratis dengan mengedepankan kebebasan berpendapat dan kebebasan berorganisasi. Muncul pergolakan untuk merubah nama IRM menjadi IPM kembali. Hal ini dikarenakan berbagai sebab diantaranya adalah pertama, nama IRM merupakan produk orde baru; kedua, basis masa gerakan IRM sejatinya adalah pelajar; ketiga, banyaknya sekolah Muhammadiyah yang tidak mau menerima IRM karena basis masanya adalah remaja bukan pelajar. Sehingga Pemuda Muhammadiyah juga memberikan rekomendasi kepada IRM untuk kembali kepada IPM. Selain itu, IRM juga dianggap kurang fokus dikarenakan gerakannya yang meluas, yaitu remaja. Sehingga PP IPM saat Muktamar XII IRM tahun 2000 di Jakarta, merekomendasikan untuk merubah kembali nama IRM ke IPM namun dengan metode votting mayoritas muktamirin menginginkan IRM tetap menjadi nomenklatur.

Pergolakan perubahan nama IRM menjadi IPM terus berlanjut sampai dengan Muktamar XV IRM di Medan tahun 2006, yang berujung pada pembentukan tim eksistensi IRM untuk mengkaji basis massa IRM yang nantinya berakibat kepada perubahan nama IRM ke IPM. Wacana IRM back to school pada Muktamar XV di Medan memang belum bisa merubah nama IRM menjadi IPM. Namun, pada tahun 2007 saat Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta muncul surat intruksi dari PP Muhammadiyah dengan No. 60/KEP/I.0/B/2007 tentang perubahan nomenklatur Ikatan Remaja Muhammadiyah menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Surat tersebut menjadi pro dan kontra di kalangan aktivis IPM namun kata sepakat pun muncul antara PP IPM dengan PP Muhammadiyah untuk merubah nama IRM menjadi IPM. Sehingga pada konpiwil IPM tahun 2008 di Makassar, berisikan persiapan materi-materi untuk perubahan nama. Perubahan nama tersebut manjadi kenyataan pada Muktamar XVI IRM tahun 2008 di Surakarta. Pada Muktamar XVI dirumuskan perangkat organisasi mulai dari Muqodimah Anggaran Dasar IPM, Kepribadian IPM, Janji Pelajar Muhammadiyah, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta Agenda Aksi.17

Setelah peristiwa tersebut terjadi, pada Muktamar IPM di Solo, ada salah satu wilayah yang masih gigih pemperjuangkan nomenklatur IRM yaitu Pimpinan Wilayah IPM Jawa Timur. Bahkan PW IPM Jawa Timur sampai membuat selogan “IRM Harga Mati”. Namun dari rangkaian peristiwa di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya dahulu IPM sangat terpengaruh oleh kondisi sosial-politik negara Indonesia, namun saat ini IPM harus membalikkan keadaan menjadi organisasi besar di kalangan pelajar yang dapat ikut berkontribusi dan mempengaruhi kondisi sosial-politik untuk Indonesia yang berkemajuan dengan gerakan dan karya nyata pelajar Muhammadiyah.

Ideologi Dasar IPM: Analisa Paradigma Gerakan Pelajar Berkemajuan (GPB)

Apabila kita membaca Tanfidz Muktamar XIX, kita akan menemukan rumusan mengenai konsep dasar Gerakan Pelajar Berkemajuan. Di dalam rumusan tersebut dimuat dasar historis maupun filosofis konsep GPB sebagai paradigma IPM. Namun yang menarik dari rumusan tersebut adalah mengenai kalimat “Gerakan Pelajar Berkemajuan: Paradigma Gerakan Ilmu”. Kalimat tersebut menyatakan secara gamblang bahwasanya Gerakan Pelajar Berkemajuan merupakan manifestasi18 dari gerakan ilmu IPM. Karena memang basis massa IPM adalah pelajar. Pelajar merupakan subjek yang memiliki tugas untuk menuntut ilmu. Sehingga Ilmu merupakan wilyah gerakan yang paling utama bagi IPM.

Selain itu, GPB juga merumuskan tiga pilar utamanya yaitu Tiga P: Pembebasan, Pemberdayaan dan Pencerdasan. Tiga P selaras dengan tiga pilar utama Islam Berkemajuan milik ayahanda Muhammadiyah yaitu Membebaskan, Memberdayakan dan Memajukan. Hal ini mengindikasikan bahwa IPM mampu menerjemahkan paradigma induk persyarikatannya yaitu Muhammadiyah. Istilah Membebaskan diterjemahkan menjadi Pembebasan, Memberdayakan menjadi Pemberdayaan dan Memajukan menjadi Pencerdasan dengan penyesuaian ke dalam konteks19 kepelajaran.

Pembebasan di sini bermakna membebaskan Pelajar dari belenggu kejahiliyahan atau kebodohan dengan paradigma gerakan ilmu dan hal-hal yang mengesampingkan kemerdekaan pelajar dalam memperoleh ilmu. Pemberdayaan bermakna memberdayakan seluruh potensi kemampuan dan daya kreatif pelajar guna pengembangan dalam rangka meningkatkan mutu pelajar Muhammadiyah. Komponen terakhir adalah Pencerdasan bermakna mencerdaskan pemikiran pelajar Muhammadiyah menuju pelajar yang berpikir kedepan melintasi zaman atau berkemajuan.

selaras dengan Tanfidz Muktamar XIX, Sistem Perkaderan IPM yang baru (SPI Kuning) berisi salah satu dasar IPM yaitu Nilai-nilai Perjuangan IPM yang berisikan lima poin penting yaitu nilai ketauhidan, nilai keilmuan, nilai kemandirin, nilai kekaderan, dan nilai kemanusiaan. Lima nilai tersebut selaras dengan lima etos pelajar berkemajuan dalam konsepsi GPB yaitu etos pengabdian kepada Allah (nilai ketauhidan), etos pengabdian kepada pengetahuan (nilai kilmuan), etos pengabdian kepada diri sendiri (nilai kemandirian), etos pengabdian kepada sesama (nilai kekaderan) dan etos pengabdian kepada semesta alam (nilai kemanusiaan). Hal ini juga mengindikasikan bahwa SPI kuning seolah-olah sudah dipersiapkan untuk menyempurnakan konsepsi Paradigma Gerakan Pelajar Berkemajuan.

Inti dari semua itu adalah bahwasanya Paradigma Gerakan Pelajar Berkemajuan sudah disesuaikan dengan Paradigma Ayahanda Muhammadiyah, sehingga pola gerakan IPM secara tidak langsung sama dengan pola gerakan Muhammadiyah dan bahkan mendukung dan melengkapi. Hal ini sesuai dengan tugas utama pelajar Muhammadiyah di dalam persyarikatan yaitu sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amanah persyarikatan.

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia.

 

  • Orientasi adalah 1. Peninjauan untu menentuan sikap (arah, tempat, dsb) yang tepat dan benar; 2. Pandangan yang mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan; Berorientasi adalah 1. Melihat-lihat atau meninjau (supaya lebih kenal atau lebih tahu); 2. Mempunyai kecenderungan pandangan atau menitikberatkan pandangan; berkiblat. (KBBI)
  • Implikasi adalah 1. Keterlibatan atau keadaan terlibat; 2. Yang termasuk atau tersimpul; yang disugestikan, tetapi tidak dinyatakan; Berimplikasi adalah mempunyai implikasi; mempunyai hubungan keterlibatan (KBBI).

 

  • Notabene adalah 1. (tanda peringatan, disingkat pada bagian akhir surat dan sebagainya yang berarti) perhatian; catatan tambahan ; 2. Sekaligus juga…; disamping…juga… (KBBI)
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia.
  • Elite adalah 1. Orang-orang terbaik atau pilihan dalam suatu kelompok; 2. Kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi. (KBBI)

 

  • Paradigma adalah 1. Daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklinasi kata tersebut; 2. Model dalam teori ilmu pengetahuan; 3. Kerangka berpikir. (KBBI)
  • Aplikatif adalah mengenai (berkenaan dengan) penerapan. (KBBI)

 

  • Manifesto adalah Pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok. (KBBI)
  • Transformatif adalah bersifat berubah-ubah bentuk (rupa, macam, sifat, keadaan, dan sebagainya). (KBBI)
  • Nomenklatur adalah 1. Penamaan yang dipakai dalam bidang atau ilmu tertentu; tata nama; 2. Pembentukan (sering kali atas dasar kesepakatan internasional) tata susunan dan aturan pemberian nama objek studi bagi cabang ilmu pengetahuan (KBBI).
  • Baca buku “Demi Pena, Sejarah dan Dinamika IPM 1961-2016” karya Azaki Khoirudin.
  • Muhammadiyah saat itu sebagai bagian dari Masyumi sedang melindungi dan mempertahankan eksistensi panca cita yang berisi “Umat Islam berkomitmen bahwa umat Islam bersatu dalam: pertama, umat Islam bersatu dalam satu partai Islam, yaitu Masyumi; kedua, satu gerakan mahasiswa Islam, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HmI); ketiga, satu gerakan pemuda Islam, yaitu Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII); keempat, satu gerakan pelajar Islam, yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII); kelima, satu kepanduan Islam, yaitu Pandu Islam (PI).”(dikutip dari buku Demi Pena, Sejarah dan Dinamika IPM 1961-2016)
  • Fungsionaris adalah pejabat (pegawai, anggota pengurus) yang menduduki fungsi. (KBBI)
  • Eksistensi adalah hal berada; keberadaan. (KBBI)
  • SPI merupakan singkatan dari Sistem Perkaderan IPM yang merupakan buku panduan pelaksanaan perkaderan yang menentukan pola perkaderan secara menyeluruh.
  • Azaki Khoirudin, Demi Pena, Sejarah dan Dinamika IPM 1961-2016.
  • Manifestasi adalah 1. Perwujudan sebagai suatu pernyataan perasaan atau pendapat; 2. Perwujudan atau bentuk dari sesuatu yang tidak kelihatan. (KBBI)
  • Konteks adalah 1. bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2. Situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. (KBBI)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *