Skip to main content

Oleh: M. Hengki Pradana*

Saat ini, kita tengah memasuki bulan Ramadhan. Di mana sebagai masyarakat muslim diwajibkan baginya untuk melaksanakan ibadah puasa dengan bersungguh-sungguh, tujuan sebagai orang yang bertakwa bisa tercapai. Pada hakikatnya, puasa adalah salah satu bentuk ibadah dalam ajaran Islam, namun acapkali dipandang sebagai ritual yang hanya sebatas menahan diri dari makan, minum dan sebagainya.

Apabila kita lebih jauh memahami dan merenungkan lebih dalam menganai hakikat puasa, tentu hikmahnya bisa melebihi luasnya samudera sehingga dapat di implementasikan dalam berbagai lini kehidupan, termasuk dalam hal ini yang hendak penulis sampaikan adalah berkaitan dengan menghadirkan semangat kepemimpinan Era Madani.

Kita semua, mengamini bahwa dalam berorganisasi sudah pasti akan ada segala tantangan dan dinamika yang menyelimuti seseorang saat berkecimpung di dunia organisasi. Maka, puasa adalah salah satu momen penting bagi kita pelajar muslim untuk dapat membangun dan merefleksikan kembali semangat kepempimpinan kita, sehingga ke depan bisa menjadi lebih baik dan menghasilkan dampak yang positif bagi lingkungan sekitar.

Self Control: Sebuah Seni Mengendalikan Diri

Salah satu hikmah utama yang terkandung dalam ibadah puasa adalah seni pengendali diri atau self control. Menahan hawa nafsu, makan dan di minum selaama sebulan penuh mengajarkan kita akan pentingnya self control sebagai sebuah sikap yang sangat urgent dalam jiwa kepemimpinan seseorang.

Mau bagaimana pun, seorang pemimpin yang tidak memiliki benteng ketahanan sakam mengontrol diri, tentunya ia akan sulit untuk memberikan keteladanan bagi setiap anggota yang dipimpinnya.

Selain itu, puasa juga mengingatkan kepada kita bahwa kepemimpinan bukan hanya sebatas kekuasaan saja, tetapi juga tentang bagaimana seseorang manpu tahan terhadap hawa nafsu yang mungkar, sehingga yang dipikirkannya hanya tentang bagaimana sebuah kebajikan itu bisa dirasakan oleh semua kalangan dan mampu menghadapi segala persoalan dan membuat keputusan dengan kepala dingin dan bermanfaat untuk semuanya.

Sabar dalam Melalui Segala Proses dan Dinamika

Ibadah puasa juga mengajarkan akan pentingnya penanaman sikap sabar dalam diri. Selama puasa kita menghadapi kelaparan dan kehausan, di mana hal tersebut sangat sulit untuk ditahan. Tetapi, dengan melalui proses rasa sulit tersebut, mengajarkan kita untuk mengendapankan sikap sabar dan tetap semangat dalam beribadah.

Dalam hal kepemimpinan, kesebaran menjadi sebuah sikap yang sangat diperlukan. Karena pemimpin yang sabar adalah ia yang tahan terhadap proses dan dinamika yang penuh dengan duri dan badai yang menghantui. Selain itu ia juga akan mampu dalam menghadapi setiap tantangan problematika yang penuh dengan kesulitan tanpa mudah menyerah dan kehilangan arah geraknya.

Sehingga dengan tertanamnya sikap sabar pada diri seorang pemimpin, akan memberikan sebuah hikmah bahwa jntuk mencapai kesuksesan atau hasil yang baik tidak akan bisa selalu datang dengan cepat dan instan, melainkan memerlukan sebuah waktu dan upaya yang penuh dengan perjuangan dan kegigihan yang tinggi.

Rasa Empati Seorang Pemimpin

Rasa empati menjadi sebuah nilai penting yang bisa diambil dari pengalaman seseorang dalam menjalankan ibadah puasa. Puasa mengingatkan kita terkait penderitaan seseorang yang belum beruntung, yang di mana ia masih sering belum bisa menikmati makanan dan minuman yang cukup. Ketika seseorang pemimpin sudah mampu merasakan pendiritaan yang dirasakan orang lain, tentu ia akan lebih mudah untuk menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap anggotanya.

Seorang pemimpin yang memiliki sikap empati, ia tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga turut serta dalam memperhatikan kesejahteraan dan kebutuhan para anggota organisasi. Dalam sebuah aktivitas organisasi, empati ini bisa membangun iklim organisasi yang lebih harmonis, meningkatkan teamwork para anggota dan mampu menciptakan rasa saling percaya antara sesama.

Kedisiplinan dan konsistensi dalam Organisasi

Dalam menjalankan ibadah puasa, tentu kita harus mematuhi dan mentaati segala peraturan-peraturan yang ada, seperti tidak makan dan minum dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Hal tersebut tentu mengajarkan kepada kita akan pentingnya sikap kedisiplinan dalam menjalani sebuah rutinitas tertentu.

Dalam konteks Kepemimpinan, seorang pemimpin yang disiplin ia akan mampu menciptakan ketertiban dalam organisasi. Ia mampu memimpin dengan keteladanan yang baik, merumuskan aturan keorganisasian yang jelas serta memastikan bahwa setiap anggota organisasi bisa melaksanakan prinsip dan etika yang sudah dirumuskan. Semua itu harus dijalankan secara berkelanjutan dan konsisten dalam mengambil kebijakan maupun dalam menjalankannya.

Pada akhirnya, ibadah puasa yang kita lakukan ini bukan hanya sekedar ibadah yang dijalankan untuk tujuan spiritual saja, namun juga bisa dijadikan sebagai momen untuk membangun kembali semangat kepempimpinan yang lebih di Era Madani ini. Jadi, seorang pemimpin yang sanggup untuk mengintegrasikan ajaran atau nilai-nilai yang terdapat dalam puasa, dalam menjalankan proses kepemimpinannya ia akan mampu menciptakan iklim organisasi yang penuh dengan makna dan mampu menghadapi dampak positif dalam organisasi.

*)Ketua Umum PW IPM Jawa Timur Periode 2023-2025

Leave a Reply