Skip to main content

Oleh : Aida Meilina*

Seperti halnya yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, kemajuan teknologi dan perkembangan pesat media sosial terus membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pada momen-momen khusus seperti bulan Ramadan. Dalam periode ini, platform media sosial kerap dipenuhi dengan beragam tren yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memberikan hiburan bagi penggunanya. Tren-tren tersebut, yang muncul sebagai respons atas kreativitas digital dan pola konsumsi media yang semakin dinamis, lambat laun dapat membentuk kebiasaan baru di tengah masyarakat. Bahkan, tidak jarang tren-tren tersebut bertransformasi menjadi bagian dari habitus sosial, yakni pola perilaku yang berulang dan cenderung melekat dalam kehidupan sehari-hari, mencerminkan bagaimana teknologi berperan dalam membentuk budaya kontemporer selama Ramadan.


Fenomena ini merupakan suatu kenyataan yang sangat mencolok dan mudah ditemukan di berbagai platform media sosial, terutama selama bulan Ramadan. Tren-tren yang bermunculan pun hadir dalam beragam bentuk dan konsep yang unik. Misalnya, tren setor hafalan tob tobi tob yang menampilkan kreativitas seakan-akan menghafal atau melantunkan bacaan arab dengan gaya khas; tren velocity yang seolah menjadi agenda wajib dalam momen buka puasa bersama; fenomena Ramadan Core yang menyoroti estetika khas Ramadan di kalangan anak muda; hingga tren Gen Z durhaka banget yang kerap menghadirkan konten humor yang sebenarnya berangkat dari ‘sisi gelap’ atau tema sensitif, tabu dan kontroversial dari perilaku generasi muda.


Jika ditelaah lebih dalam, kehadiran tren-tren ini tanpa diragukan memberikan warna tersendiri pada suasana Ramadan. Tren tersebut tidak hanya memperkaya dinamika sosial, tetapi juga menciptakan ruang ekspresi yang kreatif dan relevan dengan gaya hidup digital masa kini. Namun demikian, di balik sisi positif tersebut, fenomena ini juga berpotensi menimbulkan dampak yang kurang baik jika tidak disikapi dengan bijak. Terkadang, tren-tren tersebut dapat membuat sebagian individu menjadi terlena hingga melupakan esensi utama dari ibadah Ramadan. Hal ini berpotensi menjerumuskan individu ke dalam perilaku yang kurang produktif atau bahkan menjauhkan mereka dari nilai-nilai spiritual yang seharusnya lebih ditekankan selama bulan suci ini.


Ramadan merupakan momentum yang sangat berharga bagi setiap Muslim, sebab Ramadan adalah bulan pendidikan dan bulan dimana setiap muslim menempuh proses pembelajaran yang berkelanjutan. Bulan yang penuh berkah ini sejatinya adalah ruang pendidikan spiritual yang mengajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan. Di dalamnya, umat Islam diajarkan untuk meningkatkan ketakwaan, mengelola waktu dengan baik, melatih pengendalian diri, dan memperkuat karakter moral yang luhur. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memanfaatkan setiap peluang, termasuk tren yang berkembang di media sosial, sebagai sarana yang dapat memperkuat nilai-nilai positif selama Ramadan.


Dalam konteks ini, tren yang viral di media sosial sebaiknya disikapi dengan selektif. Kita dapat menjadikan tren tersebut sebagai bentuk hiburan yang tetap sejalan dengan esensi Ramadan, yakni memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperdalam makna spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai tren-tren yang berkembang justru mengarahkan kita pada perilaku yang menyimpang atau membuat kita lengah terhadap godaan yang dapat merusak nilai ibadah selama Ramadan. Oleh sebab itu, memiliki keberanian untuk menolak hal-hal yang berpotensi menjerumuskan kita pada kegiatan negatif menjadi hal yang sangat penting.


Menariknya, ada satu fenomena viral yang sempat populer di platform media sosial TikTok, yakni “Popo Siroyo”. Frasa ini berasal dari adegan dalam film Laut Tengah yang diadaptasi dari novel Wattpad berjudul sama. Dalam adegan tersebut, seorang ayah meminta anaknya untuk mencium pipinya dengan mengatakan “popo”, namun sang anak menolak dengan tegas menggunakan kata “siroyo”. Dalam bahasa Korea, “ppoppo” berarti ‘cium’, sementara “shireo yo” berarti ‘tidak mau’. Pelafalan yang kurang tepat dari frasa ini kemudian dipelesetkan menjadi “Popo Siroyo”, yang akhirnya viral sebagai candaan dan meme di media sosial.


Fenomena viral ini bisa kita maknai secara kreatif untuk menghadirkan dampak positif selama Ramadan. Frasa “Siroyo” dapat diadopsi sebagai ekspresi penolakan yang tegas namun tetap santai dan kekinian ketika dihadapkan pada ajakan yang berpotensi menjerumuskan pada perilaku negatif, seperti makan di siang hari saat berpuasa (mokel) atau kegiatan lain yang mengurangi nilai ibadah. Dengan menggunakan ungkapan “Siroyo”, kita tidak hanya menolak dengan cara yang lebih asyik dan relevan dengan tren masa kini, tetapi juga memperkuat sikap berani dalam menjaga kualitas spiritual selama Ramadan.

*)Ketua PW IPM Jawa Timur Bidang Perkaderan

Leave a Reply