Oleh: Liset Ayuni*
Langit demokrasi Indonesia semakin mendung. Di tengah gegap gempita perdebatan mengenai RUU TNI, suara-suara kritis yang berusaha menggugatnya justru dibungkam dengan cara yang jauh dari kata beradab. Aksi demonstrasi di depan Gedung Grahadi Surabaya dan Malang berujung pada penangkapan massa, dugaan kekerasan seksual terhadap peserta aksi, serta pemukulan terhadap jurnalis yang seharusnya menjadi saksi kebenaran. Sementara di tingkat nasional, media TEMPO mengalami teror berupa pengiriman kepala babi dan tikus mati ; sebuah simbol gelap yang mengingatkan kita bahwa keberanian mengungkap fakta masih dihantui ancaman.
Di tengah pusaran konflik ini, satu pertanyaan besar muncul : di mana peran pelajar? Apakah generasi muda yang lahir dalam era digital dan keterbukaan informasi akan diam ketika ruang kebebasan mulai disempitkan? Ataukah mereka akan bangkit sebagai penentu arah sejarah?
Generasi Z dan Alpha: Pewaris Demokrasi yang Terancam
Hari ini, pelajar berada dalam transisi generasi. mereka yang lahir di antara garis Generasi Z dan Generasi Alpha. Generasi yang tumbuh dengan internet di genggaman, terbiasa dengan kecepatan informasi, tetapi juga akrab dengan disrupsi dan ketidakpastian. Dalam banyak hal, mereka lebih melek teknologi, lebih terbuka terhadap kebebasan berpendapat, dan lebih sensitif terhadap isu-isu keadilan. Namun, di saat yang sama, mereka juga menghadapi tantangan besar: propaganda digital, pembungkaman terselubung, serta polarisasi opini yang sering kali menjebak dalam dilema antara keberanian dan ketakutan.
Ketika demonstrasi di Grahadi dan Malang berujung pada represifitas, serta jurnalis TEMPO diteror secara brutal, kita tidak hanya sedang menyaksikan serangan terhadap individu atau kelompok tertentu, melainkan juga serangan terhadap prinsip kebebasan itu sendiri. Jika hari ini pelajar hanya diam dan menganggap ini bukan urusan mereka, maka esok hari, saat mereka tumbuh menjadi mahasiswa, pekerja, atau bahkan pemimpin bangsa, mereka akan menemukan bahwa ruang untuk berbicara dan bersuara telah lama dikunci rapat.
Melawan dengan Nalar dan Aksi
Generasi yang tumbuh dalam era keterbukaan harus melawan dengan cara yang cerdas. Perlawanan hari ini bukan sekadar turun ke jalan, tetapi juga membangun narasi yang lebih kuat dari propaganda. Jika demonstrasi dibungkam dengan kekerasan, maka pelajar harus menjadikan ruang digital sebagai medan perjuangan.
Mereka harus menghidupkan diskusi di ruang kelas, organisasi, dan media sosial ; mengurai secara rasional mengapa RUU TNI bermasalah, bagaimana implikasinya terhadap supremasi sipil, serta mengapa militerisasi di ranah publik adalah ancaman laten bagi demokrasi. Narasi yang kuat akan membentuk kesadaran kolektif, dan kesadaran adalah awal dari perubahan.
Namun, narasi saja tidak cukup. Solidaritas adalah kunci. Ketika jurnalis dipukul dan media diteror, pelajar harus berdiri bersama mereka. Ketika demonstran mengalami pelecehan dan ketidakadilan, pelajar harus menjadi suara mereka. Peran pelajar bukan hanya sebagai pengamat sejarah, tetapi sebagai bagian dari gerakan yang memastikan sejarah tidak mengulang dirinya dalam wajah yang lebih buruk.
Mewaris Masa Depan, Menolak Takdir yang Kelam
Generasi Z dan Alpha adalah generasi yang akan mewarisi Indonesia dalam waktu dekat. Apa yang terjadi hari ini adalah sketsa masa depan yang akan mereka jalani. Jika saat ini mereka memilih diam, maka ketika giliran mereka yang berjuang nanti, mereka akan menghadapi sistem yang lebih represif dan kebebasan yang semakin terkikis.
Namun, jika mereka memilih untuk bergerak dengan nalar, narasi, dan aksi kolektif maka mereka bukan hanya membela demokrasi, tetapi juga sedang menata masa depan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri.
Karena sejatinya, demokrasi bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan di setiap generasi. Dan kini, giliran pelajar yang menentukan apakah mereka akan menjadi generasi yang mewarisi kebebasan atau generasi yang menyaksikan demokrasi perlahan mati di tangan penguasa.
(*)Sekretaris PW IPM Jawa Timur 2023-2025


