Skip to main content

Oleh: Yudhistira Ananta*

Malam takbir menggema, menyelinap ke lorong-lorong kota yang penuh sesak dengan manusia-manusia terburu. Di pinggir jalan, penjual dadakan mulai menggelar lapaknya, menjajakan sajadah murah, baju koko dan kopyah ala gus miftah. Di pusat perbelanjaan, antrean kasir mengular lebih panjang dari doa-doa yang terlontar di malam ganjil. Di dunia maya, perang diskon baju burgundy mulai menyamai sengit dari tren velocity . Semua orang, katanya, sedang bersiap menyambut hari kemenangan.

Tetapi menang dari apa? Dosa? Ego? Atau sekadar lapar dan haus?

Idul Fitri, dalam idealismenya, adalah puncak dari perjalanan spiritual manusia kembali ke fitrah, membersihkan diri dari dosa sosial, menyulam kembali relasi yang kusut. Namun, apakah benar kita sedang merayakan transendensi, atau hanya sekadar menggelar pesta tahunan dengan bungkus hari yang fitri?

Sakralitas yang ditelan Seremonial

Dibukunya salah seorang antropolog sosial Victor Turner yang pikirannya banyak terdoktrin oleh Durkheim dengan judul bukunya “The Ritual Process: Structure and Anti-Structure” melalui pergulatan intelektualnya, ia merumuskan bahwa ritual memiliki fase ambang, sebuah kondisi di mana individu seharusnya keluar dari status lamanya untuk lahir kembali dalam peran baru. Ramadhan bisa dimaknai sebagai fase ambang itu: manusia diuji dalam pengendalian diri, digembleng dalam kepedulian sosial, dan diharapkan keluar sebagai pribadi yang lebih baik. Kenyataan berbisik sebaliknya, idul fitri justru menjadi panggung besar yang memamerkan kemunduran kolektif kita.

Bayangkanloh, ini orang-orang yang seminggu lalu khusyuk berbagi takjil di jalanan kini sibuk menyerobot antrean di tol. Mereka yang begitu lembut di media sosial dengan isi fyp ustadz hanan attakinya, kini kembali menggerutu dan memaki di jalan raya. Orang-orang yang kemarin penuh kepedulian terhadap fakir miskin kini rela paylater demi membeli outfit lebaran yang hanya dipakai sehari. Ritual telah selesai, topeng kesalehan pun ditanggalkan.

Jadi, apa yang tersisa dari semua ini selain basa-basi simbolik? Kita memaafkan, tetapi tidak benar-benar melupakan. Kita memberi, tetapi mengharapkan legitimasi. Kita menyambung silaturahmi, tetapi masih menyimpan daftar orang yang tidak ingin kita temui. Jika ini yang disebut kemenangan, Mungkin kita terlalu sibuk merayakan cangkangnya, dan lupa pada isinya

Tersandera Budaya Kapitalistik

Jean Baudrillard, betul dia seorang filsuf perancis yang wajahnya lebih cocok jadi seorang novelis barangkali akan tertawa melihat bagaimana kita mengemas spiritualitas dalam komoditas. Idul Fitri yang seharusnya menjadi momentum kontemplasi justru berubah menjadi ajang konsumsi terbesar dalam setahun. Lihat saja, sebulan penuh kita diajari untuk menahan diri, tetapi di penghujungnya kita justru menghamburkan segalanya, uang, waktu, energi, bahkan kesabaran.

Industri ritel memahami ini dengan baik. Setiap tahun, Idul Fitri menjelma menjadi megapesta akuisisi, di mana semua barang tiba-tiba menjadi “wajib” dimiliki. Tak cukup hanya bermaaf-maafan, harus ada hampers yang dikemas cantik. Seakan-akan, semakin banyak yang kita beli, semakin kita merasa suci diri

Lucunya, yang kekurangan tetap kekurangab, dan yang kaya semakin menikmati ilusi spiritual ini dengan rasa aman. Mereka yang tak punya cukup uang untuk masuk ke dalam “ritual konsumsi” ini akan tetap melihat dari pinggiran, menjadi penonton di pesta transendensi sosial yang tidak benar-benar dirasakan oleh semua hamba-Nya

Pada akhirnya, mungkin kita harus jujur pada diri sendiri. Idul Fitri telah berubah menjadi momen kolektif yang lebih mirip sebuah festival tahunan daripada peristiwa sakral. Jika transendensi sosial benar-benar terjadi, mestinya ada jejak perubahan nyata setelahnya. Mestinya Lebaran tidak hanya tentang ucapan, tetapi juga tindakan. Mestinya, maaf bukan hanya ritual, tetapi juga rekonsiliasi yang tak hanya bertahan seumur jagung.

Maka, sebelum kita kembali larut dalam euforia Idul FItri tahun ini, ada baiknya kita bertanya:

“Apakah kita benar-benar menjemput makna kemenangan, atau sekadar mengulang panggung sakral dengan berbagai adegan baru tahunan?

*)Ketua Bidang Organisasi PW IPM Jawa Timur 2023-2025

Leave a Reply