Oleh : Nur Adli Salimi
Dalam dunia yang semakin terkoneksi, kehadiran digital telah menjadi ukuran eksistensi sosial bagi pelajar. Lalu lintas media sosial yang tiada henti, update status teman sekelas, dan tren viral terbaru menciptakan tekanan psikologis yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out). Fenomena ini mendorong pelajar untuk terus terhubung, berbagi, dan berinteraksi. Hal ini seringkali tanpa mempertimbangkan implikasi keamanan dari perilaku digital mereka.
Keinginan untuk tetap relevan dalam lingkaran sosial digital mendorong pelajar mengabaikan protokol keamanan dasar. Mereka dengan mudah mengklik tautan mencurigakan demi melihat konten viral, mengunduh aplikasi tidak terverifikasi untuk mengikuti tren terbaru, atau membagikan informasi pribadi demi berpartisipasi dalam tantangan online. Setiap tindakan ini membuka pintu bagi serangan siber yang dapat mengakibatkan pencurian identitas, peretasan akun, hingga pemerasan digital.
Yang lebih memprihatinkan, pelajar cenderung menggunakan kata sandi yang sama untuk berbagai platform demi kemudahan mengakses semua konten dengan cepat. Tanpa disadari ini merupakan kebiasaan yang sangat berisiko dari sudut pandang keamanan siber. Ketika satu platform dibobol, seluruh identitas digital mereka terancam. Namun, kekhawatiran akan ketinggalan momen penting dalam lingkaran sosial mereka mengalahkan kewaspadaan terhadap risiko keamanan jangka panjang.
Institusi pendidikan perlu memahami bahwa edukasi keamanan siber tidak cukup hanya dengan peringatan teknis, tetapi juga diperlukan adanya pendekatan yang mempertimbangkan aspek psikologis seperti FOMO yang mendorong pengambilan keputusan digital berisiko. Program literasi digital harus mengintegrasikan pemahaman tentang tekanan sosial digital dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi perilaku online.
Pelajar perlu dibekali tidak hanya dengan pengetahuan teknis keamanan siber, tetapi juga keterampilan berpikir kritis untuk mengevaluasi nilai sebenarnya dari konektivitas konstan. Kesadaran bahwa eksistensi digital bukanlah ukuran sesungguhnya dari nilai diri dapat menjadi landasan penting dalam membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dan aman.
(PD IPM KAB MALANG)


