Skip to main content

Oleh: Aida Meilina*

Tidak bisa dipungkiri bahwa realitas masa kini memberikan sinyal kuat akan proyeksi masa transisi generasi yang berpengaruh pada peradaban Ikatan Pelajar Muhammadiyah periode-periode kedepan, terkhusus pada konteks perkaderan. Perkaderan merupakan agenda mutlak yang menjadi nyala mesin pada kendaraan bernama organisasi. Maknanya, apapun yang terjadi, entah di kedai-kedai kopi atau di rinai hujan sore hari proses kaderisasi sama sekali tak boleh berhenti. Oleh sebab itu, IPM perlu melakukan ijtihad, menyiapkan resep dan strategi yang secara operasional mampu menjadi alat baca IPM terhadap realitas sosial.


Masa-masa perkaderan IPM telah sampai pada fase dimana target perkaderan IPM kedepan merupakan Generasi Alpha yang biasa disebut juga dengan generasi screenager. Sedangkan pimpinan-pimpinan di IPM sekarang mayoritas dipegang oleh generasi Z. Meskipun Generasi Z dan Generasi Alpha memiliki kedekatan secara kronologis, namun kedua generasi tersebut memiliki perbedaan aspek kehidupan yang cukup signifikan. Jika diuraikan, kurang lebih Generasi Alpha memiliki keterikatan yang kuat dengan teknologi, dalam masa tumbuh dan kembangnya mereka telah mendapatkan akses pada alat-alat digital yang intuitif dan interaktif. Pun proses belajar mereka cenderung lebih terpersonal dan adaptif terhadap kebutuhan individual, tak heran mengapa kurikulum pendidikan di Indonesia juga sudah mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi.
Karakteristik Generasi Alpha yang teruraikan di atas memperlihatkan perbedaan antara Generasi Alpha dengan Generasi Z, yang mana Generasi Z tumbuh pada masa-masa transisi transformasi teknologi. Tantangan yang dihadapi cukup berbeda, sehingga nilai, pengalaman teknologi, pendekatan pembelajaran, dan perspektif sosialnya berbeda. Sebagai pelaksana perkaderan, maka Generasi Z yang merupakan pimpinan-pimpinan IPM di periode ini perlu memahami perbedaan ini guna membangun iklim perkaderan yang lebih baik dan mampu mendukung perkembangan masing-masing generasi secara optimal. Tentu hal ini perlu dijembatani dan ditunjang melalui Paradigma Gerakan dan Sistem Perkaderan. Dua hal tersebut merupakan alat tempur yang secara operasional menjadi pegangan para pelaksana perkaderan di tiap-tiap pimpinan.


Pembaharuan Paradigma Gerakan dan Sistem Perkaderan IPM yang sudah dinarasikan dan diijtihadkan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi sebuah konsep yang bernilai bagi pimpinan-pimpinan IPM di bawahnya, terkhusus dalam menyiapkan perkaderan yang lebih adaptif dan efektif untuk generasi Alpha. Setidaknya, gambaran-gambaran karakteristik generasi Alpha di atas dapat menjadi bagian dari asesmen diagnostik awal IPM dalam menciptakan kerangka dan formula perkaderan yang relevan terhadap target kaderisasinya. Dalam penyusunan kerangka serta formula perkaderan tersebut, secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu disoroti secara mendalam untuk dapat dituangkan dalam paradigma gerakan dan SPI yang baru, yakni; pertama, perkaderan diorientasikan pada konsep perkaderan digital yang memiliki paradigma bahwa perkaderan adalah proses yang dapat mendorong kader-kadernya untuk scale up melalui dirinya sendiri. Kedua, platform perkaderan yang didesain menawarkan pengalaman yang lebih imersif dan interaktif, hal ini disebabkan oleh kecenderungan generasi Alpha yang senang tumbuh pada media yang lebih personal on demand. Ketiga, desain pembelajaran yang fleksibel dan tidak bertele-tele serta ramah terhadap AI atau kecerdasan buatan. Keempat, manajemen perkaderan berbasis agile. Dan yang terakhir adalah output dan objectives dari proses perkaderan harus memiliki dampak yang signifikan bagi kader, serta fokus menekankan pada pola-pola konsumsi Generasi Alpha. Harapannya melalui beberapa hal di atas, IPM akan mampu menciptakan kaderisasi yang adaptif, relevan, dan berdaya guna bagi perkembangan generasi masa depan.

*)Ketua PW. IPM Jawa Timur Bidang Perkaderan

Leave a Reply