Skip to content

Antara Istilah Kafir dan Non-Muslim

Oleh: Syahrul Ramadhan

Dalam media massa belakangan, telah ramai diperbincangkan soal keputusan Pimpinan Besar Nahdhatul Ulama. Tentang pendapat untuk mengganti kata kafir menjadi non muslim di Indonesia. Sebagai seorang yang masih berproses dalam belajar, saya akhirnya juga terpantik untuk merespon fenomena tersebut. Bisa saja saya salah, namun ada hal-hal yang bagi saya bisa di garis bawahi dalam pergantian dari kafir manjadi non muslim di sini. Tulisan ini hanya pendapat pribadi, ada 3 hal yang akan saya jabarkan, diantaranya.

Pertama, isitlah non muslim bagi saya tidak menjadi masalah, yang masalah adalah ketika non muslim mengantikan kata kafir. Ketika digantikan sama saja dengan menghapuskan isitlah kafir lalu dirubah menjadi non muslim. Harusnya istilah non muslim menjadi istilah alternatif atau opsi lain dari istilah kafir. Jadi keduanya boleh digunakan dalam mengambarkan orang yang bukan islam. Sama seperti istilah puasa dengan shaum, istilah sembahyang dengan shalat dan istilah – istilah lainnya. Kedua istilah tersebut sah – sah saja digunakan. Dan tidak perlu khawatir jika nanti ayat al – qur’an atau doa yang mengandung istilah kafir berubah menjadi non muslim, dari dahulu isitilah puasa dan sembahyang tidak pernah mengantikan istilah shaum dan shalat dalam al – qur’an maupun doa.

Kedua, istilah non muslim yang mengambarkan orang luar islam tidak merubah iman dan aqidah orang yang memakai isitlah tersebut. Kafir dan non muslim muatan aqidahnya sama, sama sama menganggap bahwa orang islam dengan orang yang tidak memeluk agama islam memiliki aqidah yang berbeda. Kedua istilah tersebut maknanya sama dan tidak perlu diadu istilah mana yang lebih islami. Hal ini sama seperti kasus istilah ulang tahun dengan milad. Ada yang beranggapan jika perayaan ulang tahun haram sedangkan perayaan milad diperbolehkan, padahal ini hanya perbedaan bahasa dari dua negara, apakah mungkin perbedaan bahasa bisa merubah status hukum? Ada satu lagi yang akhir – akhir ini sedang hits yaitu penggunaan istilah akhi ukhti untuk memanggil kerabat. Apakah jika menggunakan akhi ukhti lebih berpahala dan islami daripada memanggil dengan menggunakan istilah saudara saudari? Tidak juga, substansi kebaikannya terletak pada persaudaraan bukan dari bahasa negara mana yang dipakai.

Ketiga, jika istilah kafir ditakutkan akan menyakiti hati orang yang tidak beragama islam maka sebenarnya istilah non muslim juga berpotensi sama jika digunakan dengan tidak bijak. Contoh untuk memanggil orang luar islam secara langsung dan penuh kebencian, jika kita seorang muslim membeli barang di toko orang luar islam dengan cara memanggil “hey orang kafir atau hey non muslim saya mau beli sabun harganya berapa?” Ini akan menyakiti hati orang luar islam. Tapi saya yakin sangat jarang orang yang melakukan hal tersebut karena sangat berpotensi menimbulkan konflik. Sehingga dua isitilah ini sama – sama berpotensi menyakiti hati jika tidak digunakan secara bijak.

Jauh sebelum kontroversi istilah non muslim sebenarnya kita sering mendengarkan istilah lain yang digunakan orang islam dalam menyapa orang luar islam dengan bijak ketika berpidato. Contohnya seperti sapaan ketika ada acara orang islam lalu didatangi orang luar islam yang diundang, biasanya menyapa dengan “yang terhormat saudara seislam dan yang terhormat pemeluk agama lain yang hadir pada acara ini”. Hal tersebut sudah biasa terjadi dan sejauh ini tidak menimbulkan konflik atau kebencian dari pihak luar islam karena istilah tersebut digunakan secara bijak.

Saya yakin pendapat saya ini banyak yang kurang setuju. Jangankan orang lain, saya dengan bapak saya sendiri dalam hal ini juga berbeda pendapat. Apakah kami berdua bertengkar dan memutuskaan hubungan karena perkara ini? Tidak! Malah kami anggap perbedaan pendapat ini menjadi penyedap kemesraan hubungan kami berdua.

Astagfirullah. Wallahu alam bissawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *