Belajar Leadership dari Pak Supir

Dipublikasikan oleh Yafi' Helmi pada

IPMJATIM.OR.ID – Awalan ini, saya ingin menyapa semua penghuhi sosial media yang berselancar siang malam tiada henti melihat story WhatsApp yang berganti-berurutan, youtube yang lengkap dari humor hingga rumor, dan juga instagram yang memajang foto beragam mulai selfie selebgram hingga endors tinggi badan. Sama halnya dengan tulisan ini, yang saya tulis melalui media sosial. Bukan di kertas tulis A4 ataupun di belakang punggung truk yang pernah trending.
Mungkin berbeda dari tulisan sebelumnya, tulisan ini disajikan lebih santai dan mengalir saja. Semoga tidak kalah santai dari postingan youtube Atta Halilintar yang baru saja menjadi youtuber terkaya nomor delapan. Boleh jadi, kaum milenial membutuhkan sesuatu yang ringan dan mudah dikunyah, seperti tulisan ini. Bila sebelumnya banyak memberi teori atau quote dari tokoh publik, saya ingin mengangkat seorang supir yang banyak ditemui di era kemajuan transportasi. Supir apa saja, lazimnya yang mudah dipahami ialah supir motor atau mobil. Boleh dicari di pos pangkal ojek ataupun di aplikasi yang sudah marak belakangan ini.
Kita akan belajar kepemimpinan dari pak supir yang secara kedudukan memegang poros utama. Dia berada di kursi depan yang paham kopling hingga cara menglakson pengemudi lainnya. Saya rasa, teori mengenai leadership banyak dijumpai di google, atau di forum tanya-jawab kelas. Jadi, pada paragraf ini, saya ingin menghadirkan kursus kepemimpinan melalui sudut pandang yang sederhana, yaitu filosofi yang terkandung pada si driver.
Bekerja sepanjang siang bahkan bisa hingga malam. Bepergian ke segala penjuru membawa penumpang yang bercorak ragam. Pak supir akan selalu open hand dan tersenyum bulat. Siapapun penumpangnya, dari mana asalnya, dan bagaimana sikapnya, dia tidak peduli. Tetap saja karakter baik dan enjoy selalu dicurahkan. Hal ini berarti, kepemimpinan diharuskan untuk positive thinking. Apapun yang terjadi, harus memberikan hal-hal positif. Kegaduhan bisa saja terjadi di kehidupan, terlebih lagi dalam ruang keorganisasian yang berlangganan masalah. Tentu pemimpin yang seperti ini, sangat dibutuhkan dan dirindukan oleh bawahannya.
Menyetir untuk mencapai tujuan bersama dilalui dengan penuh tanggung jawab. Bila saja, kelewatan atau salah masuk gang, dia tidak akan menurunkan seseorangpun, lalu menyalahkan aplikasi yang sedang eror. Atau menghakimi penumpangnya, karena tidak memberi tahu arah jalan yang benar. Sebaliknya dia akan meminta maaf dan berbalik arah. Bahkan bisa memutari komplek bila lokasi tujuannya tidak kunjung ditemui. Pemimpin yang baik, tidak pernah lepas tangan di tengah jalan. Terlbih lagi, malah ngambek dan menambrakkan mobilnya ke tiang listrik. Semua tetap dalam jangkauan berpikir dan tanggung jawab.
Bahkan, terkadang bila macet melanda. Ada saja jalan pintas yang ditemui. Ini berarti inisiatif. Ketegasan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan disaat yang mendesak, sangat dibutuhkan dalam sifat leadreship. Banyak kasus dalam organisasi. Terlebih lagi di IPM. Terkadang sarapan peserta belum datang hingga petang, atau bila kurang beruntung banyak peserta yang masih nunggak SWP SWO-nya. Parahnya lagi, minta sertifikatnya supaya disegerakan. Lalu bagaimana? Nah, disini sangat dibutuhkan inisiatif yang merupakan turunan dari sifat kepemimpinan.
Bila pun penumpang sedang marah atau merasa galau, tetap saja si driver tidak pernah membalasnya dengan amarah apalagi sampai berbaku hantam di dalam mobil. Mimik wajahnya pun tetap saja tenang dan ceria. Bahkan, sering memunculkan pertanyaan-pertanyaan kepada penumpang untuk menyejukkan suasana. Toh komunikasi adalah skil yang penting dalam kepemimpinan. Bahkan, dalam hal konsolidasi, banyak yang gagal karena kesalahan komunikasi. Nah, jadi perlu banyak belajar kepada pak supir.
Seperti si driver ulung di atas, menjadi seorang pemimpin mempunyai banyak tantangan yang dihadapi dalam perjalanan tugasnya. Harus memiliki sikap adil, tegas, jujur dan bijaksana dalam mengahadapi berbagai permasalahan. Tuntutan yang terlihat begitu banyak, seakan terlihat mudah dan selumrah senyuman pak supir. Untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Pemimpin juga manusia. Namun, secara esensial, pemimpin layaknya seorang pengemudi kendaraan yang membawa penumpangnya ke suatu tempat, dengan tujuan yang baik dan bermanfaat bagi semua pihak. Kendaraan tersebut dapat menikmati perjalanan dengan gembira dan senang yang ditemani pemandangan yang kian indah mempesona.
Banyak lagi yang perlu dipelajari dari pengemudi kendaraan ini. Selain itu, perlu juga mengangkat hal sederhana lainnya. Mungkin pembaca bisa bercerita melalui sudut pandang penumpang yang duduk di belakangnya, atau mereka yang baru saja salah masuk gang lalu mengelilingi komplek. Atau apakah Atta Halilintar pantas dikatakan sebagai pemimpin yang baik? Sebab dia memiliki pengikut yang banyak di akun youtubenya. Kepada semua yang membaca hingga kalimat ini, saya ucapkan terima kasih. Kita akan bertemu di suatu kisah di lain hari

 

M.Suryo Budi

Bendahara Umum PW IPM Jawa Timur


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *