Lompat ke konten

Bimbingan Belajar Tidak Ada Gunanya

IPMJATIM.OR.ID – Saya termasuk kedalam kategori orang yang meremehkan bimbingan belajar (Bimbel), dengan menganggap tidak berguna. Karena saat sekolah kita telah belajar dan tidak perlu lagi untuk mengikuti bimbingan belajar. Anggapan tidak berguna seperti ini, muncul karena digiring oleh orang-orang yang hebat terhadap pendidikan.

“Tidak ada pendidikan yang lebih baik daripada sekolah.”

Anggapan seperti itu telah saya buang. Namun tidak semata-mata menilai pendidikan disekolah lebih rendah daripada lembaga bimbel, ataupun sebaliknya.

Hadirnya bimbingan belajar, menjadikan transportasi untuk mencapai standar penilaian yang pada saat ini dapat dibilang tinggi, sedangkan pemerintah juga terlihat tidak dapat memberikan solusi yang baik untuk mengatasi standar penilaian yang diberikan.

Bimbingan belajar dapat menjadi kritik besar untuk pemerintah, untuk menjadi lebih intensif lagi. Begitu pula kita sebagai penerus bangsa harus menyikapi kondisi saat ini dengan baik dan bijak, dan pada suata hari nanti kesalahan-kesalahan masa lampau menjadi sarana untuk berkembang menjadi lebih baik.

“Kak, apakah baik mengkritik pemerintah?”

Tidak masalah untuk mengkritik pemerintah, namun dengan proporsi yang semestinya dan kritik haruslah yang membangun tidak menjatuhkan. Batu dipahat dengan semestinya akan menjadi sebuah patung, lebih gampangnya lagi seperti pisau yang diasah.

Lembaga bimbel pula dapat menyadarkan kita, bahwasanya pendidikan ataupun belajar serta-merta harus didapatkan disekolah, di lingkungan termasuk masyarakat dapat menjadi sarana belajar. Saya bukan mengajak anda untuk berhenti sekolah, namun apa salahnya jika kita mendapatkan ilmu dari luar sekolah, itu akan menjadi nilai lebih juga untuk kita.

Bimbingan Belajar Tidak berguna

Bimbingan Belajar Tidak berguna desainer: Ferry Martasonar

Seperti kata Ki Hajar Dewantara, “Semua orang murid, semua orang guru, dan semua tempat sekolah!”. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara cukup luas dan merupakan sebuah sistem integralistik yang diterapkan pada Taman Siswa. Dari filosofi Ki Hajar Dewantara tersebut, terdapat sebuah penekanan bahwa pendidikan merupakan sebuah sistem yang membagikan peran yang sama pada semua orang. Bahwa sistem pendidikan nasional merupakan sebuah usaha gotong royong bagi semua rakyat Indonesia. Hal ini yang masih kurang pada sistem sekolah saat ini yaitu terdapat seakan-akan suatu peran mendidik generasi bangsa ada pada institusi pendidikan.

Maka kita coba untuk sadar, pendidikan adalah dari kita dan untuk kita. Saling gotong royong untuk mengembangkan pendidikan Indonesia. Dengan itu semua, sebuah kegelapan akan mereda dan terbitlah matahari.

Oleh :

Sonia Wijaya Putra

Bidang PIP PD IPM Gresik periode 2019-2021

Tinggalkan Balasan