Lompat ke konten

COVID-19 DALAM BINGKAI MEDIA: SOSIAL ATAU PROFIT?

IPMJATIM.OR.ID – Wabah pandemic Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan Virus Corona tetap menjadi topik utama disejumlah pemberitaan di media massa sejak merebak di Wuhan, China hingga saat ini. Masyarakat setiap hari dijejali dengan topik – topik yang berkaitan dengan virus corona ini, baik di media elektronik, media cetak maupun media sosial. Topik – topik yang diambil pun beragam, dari sisi jumlah kasus, upaya dan kebijakan pemerintah dalam menangani virus, dan lain sebagainya. Topik media tersebut ditayangkan berminggu – minggu bahkan sering diulang – ulang.

Ramainya pemberitaan – pemberitaan media terhadap virus ini tak diimbangi dengan edukasi – edukasi kepada masyarakat, khususnya masyarakat desa. Masyarakat desa yang berkecenderungan lebih aktif mendapatkan informasi dari media, khususnya televisi sering menerima informasi tanpa ada proses seleksi sehingga benar atau salah menjadi nomor dua, terpenting mereka mengetahui update terkini. Namun yang menjadi permasalahan adalah antara mendidik dan menakuti lebih condong kepada menakuti sehingga membuat kepanikan kepada masyarakat yang berlebihan. Hal ini disebabkan topik yang diangkat selalu berkaitan dengan jumlah kasus ataupun korban dan dampak – dampak yang terjadi seperti kelangkaan. Memang dari sisi informasi, masyarakat mendapatkannya tapi topik yang diangkat dan ditambah dengan kondisi seperti ini justru membuat sebagaian masyarakat menjadi panic, seperti maraknya panic buying.

SOSIAL ATAU PROFIT?

Sudah bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa media dibangun dan dikendalikan untuk mencari hubungan antara konten yang diproduksi dengan keuangan media sehingga ketika profit menjadi target utama oleh pemilik media, maka sosial yang seharusnya diangkat lebih tinggi menjadi komoditas yang bernilai komersial. Ditengah wabah virus corona seperti saat ini, bukan tidak mungkin bagi sebagian media untuk menjadikan sebuah peluang. Pemberitaan – pemberitaan yang diangkat dan dibuat untuk menambah rating dan keuntungan bagi media itu sendiri.

Pergeseran tujuan pemberitaan media ini sendiri dapat dilihat dari bagaimana media mengemas isi berita itu sendiri. Batasan – batasan media dikumpulkan dalam sebuah etika jurnalistik yang kemudian menjadi aturan wajib dan dipegang teguh bagi media. Etika jurnalistik ini sendiri hadir dalam rangka mewujudkan pers Indonesia yang seimbang dan bertanggung jawab.

Dalam pemberitaan terkait virus corona, banyak media yang membuat judul pemberitaan yang sifatnya sensasional namun berbanding terbalik dengan isi. Tujuannya hanya untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan dan emosi masyarakat yang kemudian membuat mereka membaca atau menonton berita sehingga menambah viewers dan rating media. Sederhananya, Viewers dan rating ini berpengaruh kepada keuangan media, dimana ketika viewers dan rating banyak maka iklan yang didapat juga banyak dan pemasukkan meningkat. Tak hanya itu, penyebutan secara gamblang korban atau suspect corona sering dilakukan oleh media.

Penyebutan seperti nama, foto atau domisili/tempat tinggal seharusnya semaksimal mungkil untuk dihindari, hal ini berkaitan dengan kewajiban publik dan pers untuk menghormati privasi mereka. Merahasiakan identitas korban atau suspect corona dapat meminimalisir potensi panik yang nantinya muncul ditengah – tengah masyarakat.

Media massa berkewajiban untuk menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi public secara akurat dan mengedukasi masyarakat dengan kekuatan media yang dominan sehingga media sebagai control social dapat terwujud. Edukasi – edukasi yang dapat diwujudkan dalam pemberitaan media seperti tips menjaga daya tahan tubuh, makanan yang baik dikonsumsi, urgensi social distancing atau tips dan informasi sederhana lainnya yang sangat dibutuhkan untuk melawan kepanikan ditengah pemberitaan yang tidak jelas. Selain itu, pemberitaan yang menyoroti perjuangan tim medis/kesehatan juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan empati masyarakat. Bukan tidak mungkin, ketika hal – hal tersebut disoroti dapat meningkatkan partisipasi masyarakat untuk menjadi relawan COVID-19 atau paling tidak dapat meningkatkan kesadaran untuk melakukan tindakan pencegahan dan pemutusan mata rantai virus.

Jika media dapat menjalankan fungsinya sebagai control social dan pendidikan dengan baik dapat berpengaruh kepada nama besar media itu sendiri. bayangkan saja jika media tetap bersikeras mengutamakan profit maka hal tersebut akan membahayakan media, karena kepercayaan masyarakat terhadap media akan menurun bahkan hilang sehingga menyeimbangkan sosial dengan profit benar – benar sangat diperlukan. Tak hanya itu, peran publik pun sangat jelas dibutuhkan ditengah wabah pandemic virus corona. Pelajar yang dikatakan sebagai kaum terdidik memiliki peranan penting sebagai garda terdepan dalam edukasi public. Pelajar diharapkan mampu memiliki responsivitas terhadap tayangan, mengedukasi masyarakat unit terkecil yakni keluarga untuk mampu memilih dan memilah tayangan yang dapat dikonsumsi untuk meminimalisir hoax dan kepanikan public terhadap wabah virus corona. Hal sederhana lainnya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan sosial media sebagai media edukasi dengan mempublish postingan konten seperti tips hidup sehat ataupun istilah – istilah terkait virus corona.

Sesuatu hal yang sederhana, jika itu dilakukan bersama – sama pasti akan menghasilkan effect yang luar biasa.

Oleh:

Firman Dani Wijaya

Ketua Umum Pimpinan Daerah IPM Kabupaten Trenggalek 2018 – 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *