Lompat ke konten

Dekadensi Moral Politik : Pelajar Harus Apa?

Muhammad Azlan Syah Arifinanda

Anggota Bidang Advokasi Dan Kebijakan Publik PW IPM Jawa Timur

Satu dekade terakhir menjadi waktu yang penuh dinamika dalam dunia politik indonesia. Banyak sekali isu-isu hangat yang mencuri perhatian pelajar, terkhususnya pelajar jawa timur. Diantara isu tersebut salah satunya yaitu isu moral politik. apakah esensi moral dalam politik itu penting? Apa hubungannya dengan pelajar?

Pelajar yang dihubungan erat dengan dunia pendidikan, menjadi titik fokus pada tulisan kali ini. Pelajar secara istilah berarti orang yang sedang duduk dibangku sekolah. Jika ditinjau dari AD ART Ikatan pelajar muhammadiyah (IPM), pelajar memiliki rentang usia 12-24 tahun. Yang dimana usia tersebut, pelajar sedang duduk dibangku SD/MI Se-derajat, SMP/MTs se-derajat, SMA/MA se-derajat, dan jenjang perkuliahan S1.

Salah satu yang menjadi perhatian dari pelajar jawa timur khususnya IPM jawa timur yakni terjadinya fenomena dekadensi moral. Fenomena tersebut tidak lagi asing ditelinga pelajar, pasalnya persoalan moral sangat dekat dengan stabilitas pergerakan pelajar IPM.

Moral merupakan bentuk nyata adanya pengetahuan dan pemahaman seseorang terkait dengan nilai dalam kehidupan termasuk dalam berpolitik. pembahasan terkait politik dalam satu dekade terakhir mengalami penurunan kepercayaan masyarakat. Adanya transformasi digital marketing politik, kurangnya pendidikan politik masyarakat, dan adanya kasus moral para oknum pejabat yang merugikan masyarakat menjadi faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat kepada politik menurun. Jikalau kepercayaan terhadap politik menurun, imbasnya masyarakat akan mewajarkan seluruh kejadian politik, termasuk hilangnya moral politik. hal itu berbahaya jika tidak dicegah, karena akan berimbas pada kehidupan yang mana secara langsung bergantung pada kebijakan politik.

Dengan adanya kasus penyelewengan kekuasaan, tindakan KKN (Korupsi, kolusi, dan nepotisme), serta money politic merupakan contoh konkret ketiadaan moral di dunia politik. lantas apa yang harus dilakukan pelajar dalam upaya merespon fenomena tersebut?

Keberadaan pelajar sangat penting dalam menjaga keseimbangan pendidikan politik di indonesia. Pendidikan moral politik harus diberikan sejak usia dini. disisi pelajar adalah penerus bangsa, pelajar juga yang menentukan tingkat kesadaran moral dalam ruang lingkup gressroot di tatanan masyarakat. Jika PW IPM Jawa timur dengan slogan “pelajar madani”, maka konsepsi pelajar madani tidak luput dengan sebutan bagi pelajar yang terdidik dan beradab.

Pada era sirkulasi digital yang menggila, pelajar sudah waktunya ikut turun aksi dalam menginisisasi masyarakat tentang moral politik. pelajar era society 5.0 sudah saatnya mengerti tentang moral politik. waktunya pelajar membuka mata tentang moral politik sejak dini. pelajar bukan lagi seorang anak yang dijauhkan dengan pemahaman politik, melainkan saat ini pelajar harus mampu memahami, menanggapi, dan mengamalkan moral politik sebagaimana yang tertuang pada norma dan nilai bermasyarakat.

Sebagai seorang yang terdidik, pelajar mempunyai tugas yang sangat besar dan fundamental di rana moral. Seperti tanaman yang harus dipupuk secara konsisten dan berkala untuk menguatkan akar dan menumbuhkan tanaman yang sehat, pelajar harus diberi pemahaman secara konsisten dan terarah agar menjadi akar yang kuat dalam membangun masyarakat yang terdidik dan beradab. Pemahaman moral politik pelajar adalah tumpuan dasar pelajar dalam memahami politik. pelajar bukan hanya disibukkan dengan urusan buku, tapi harus action untuk mengubah dogma politik di tengah masyarakat.

Sebagaimana muhammadiyah yang dikenal sebagai gerakan civil society berperan besar pada stabilitas politik di indonesia. Karena tugas utama civil society yakni sebagai penyeimbang kekuasaan agar tidak sewenang-wenang. Begitupun dengan IPM, sebagai anak paling “bontot” dalam persyarikatan muhammdiyah harus mempunyai power yang menekankan pada rana moral pelajar di tingkatan gressroot. Sehingga dengan cara itulah, moral yang beradab yang telah diajarkan sejak dini dapat menjadi pondasi dalam tindakan pelajar setelahnya, termasuk dalam merespon persoalan moral politik.

Maka dari itu, pelajar harus keluar dari zona nyamannya. Pelajar sudah saatnya menjadi inisiator dan fasilitator gerakan moral poltik dengan kemauan belajar yang tinggi, tanggap dalam merespon, dan konsisten dalam aksi. Tahapan dalam menciptakan moral politik pelajar yakni pertama harus menguatkan akar sebagai tumpuan gerakan. Hal tersebut melalui pendidikan moral. Pedidikan moral harus diajarkan secara verbal maupun tindakan dimulai dari ruang lingkup terkecil yakni keluarga,sekolah, dan teman sebaya. Kedua, perlu adanya masifikasi pendidikan politik sejak dini. pendidikan politik sebaiknya diajarkan keseluruh jenjang pendidikan secara berkala dan berjenjang, bukan hanya yang minat politik atau yang memilih jurusan sosial-politik, dan yang terakhir tidak kalah pentingnya yakni aktualisasi secara nyata pelajar dalam merekonstruksi moral politik yang mengalami kemerosotan. aksi nyata tersebut bisa berupa diskusi kultural teman sebaya dan tindakan pelajar sebagai faislitator pendamping dalam kehidupan bermasyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *