Lompat ke konten

Dekonstruksi Media : Merawat Akal Dalam Dunia Digital

IPMJATIM.OR.ID – Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sejalan dengan peningkatan sistem dan proses komunikasi melalui media digital. Kebutuhan masyarakat yang termediasi melalui sistem digital secara tidak langsung menyebabkan masyarakat lebih pro-aktif dalam penggunaan media-media digital. Hal ini menunjukkan, bahwa adanya proses komunikasi dan distribusi informasi yang lebih intim dan indepth.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa masifnya pertukaran dan arus informasi di dunia digital memicu potensi adanya konflik. Keberadaan media digital tersebut turut membangun kebudayaan yang muncul dalam ruang publik, sehingga kemudahan akses informasi sejalan dengan resiko informasi yang tidak sepenuhnya valid dan faktual.

Pengguna media digital saat ini didominasi oleh generasi muda yang memiliki kedekatan dengan aktivitas digital (digital nattive). McLuhan (ilmuwan komunikasi dan kritikus) dalam pernyataannya terkait determinasi teknologi mengemukakan, bahwa perkembangan teknologi mempengaruhi dan menguasai segala kehidupan dan kegiatan manusia. Perkembangan teknologi dipercaya memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan bertindak manusia dari munculnya teknologi itu sendiri.

Besarnya pengaruh media teknologi ini, secara tidak langsung menuntut generasi muda untuk mampu mengelola dan mengarahkan teknologi digital sebagai media alternatif yang bijak dan baik. Ketika teknologi memiliki otoritas untuk mengatur masyarakat, maka masyarakat hanya diperbudak sehingga tidak menghasilkan ekosistem digital dan masyarakat yang partisipatif dan berkualitas.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam surveinya memaparkan bahwa adanya peningkatan melek digital masyarakat Indonesia di rentang tahun 2019-2020. Jika di tahun sebelumnya melek digital masyarakat hanya berada pada presentase 64,8%, peningkatan terjadi sebanyak 73,7% atau setara dengan 196,7 juta pengguna internet dari total populasi penduduk Indonesia.

Sedangkan data Laporan Bank Dunia tahun 2021 menyatakan bahwa akses perhari rata-rata masyarakat Indonesia selama 69 jam perhari dengan kelompok usia terbanyak yaitu 1625 tahun. Pada umumnya, penggunaan media digital sendiri dipengaruhi oleh faktor kepentingan individu masyarakat, seperti faktor ekonomi, pendidikan, hiburan, sosialisasi hingga aktualisasi diri masyarakat. Hal-hal tersebut yang acap kali menjadi kebutuhan masyarakat dalam menggunakan media yang menjadi bagian dari proses sosialitas.

Berdasarkan data serta faktor kepentingan masyarakat dapat dilihat bahwa arus informasi dalam dunia digital berjalan dengan begitu derasnya, seakan-akan sudah tidak dapat dibendung oleh siapapun. Beragamnya kepentingan turut mempengaruhi kualitas informasi dan konten yang diterima oleh masyarakat.

Munculnya hoax news (informasi palsu) menunjukkan adanya potensi penyalahgunaan media sebagai pemenuhan hasrat pribadi. Masyarakat sebagai konsumen kerap disodorkan dengan informasi-informasi palsu yang sukar dibedakan dengan informasi asli. Informasi dalam media merupakan sebuah representasi yang sengaja dihadirkan oleh kekuasaan tertentu untuk mempengaruhi publik.

Kekuasaan dalam media diindikasikan oleh kepentingan-kepentingan dalam rangka meraup untung dari komoditas informasi. Kebutuhan pasar terhadap informasi tertentu, serta kepentingan aktualisasi diri dalam membangun citra dan pembelaan turut mengarahkan informasi untuk didistribusikan.

Konsumen media yang hanya menikmati seakan-akan terbawa oleh arus informasi yang membingungkan untuk dibedakan nilai benar dan salahnya. Secara sederhana, media tidak hanya sekedar perantara penyampaian informasi, tetapi media merupakan suatu organisasi kompleks yang membentuk suatu lembaga sosial masyarakat yang penting. Jelasnya, media adalah pemain utama dalam perjuangan ideologis.

Para ahli tradisi kritis (komunikasi massa) menyatakan, bahwa media merupakan bagian dari sebuah industri budaya yang dapat menciptakan suatu simbol atau gambaran yang dapat menekan kelompok-kelompok kecil. Masyarakat sendiri sebagai konsumen dapat menjadi gatekeeper atau penyaring informasi dalam upaya mengkonstruksi ulang informasi.

Tentu menjadi suatu hal yang serius jika informasi yang dikonstruksi oleh media mempengaruhi prespektif masyarakat. Padahal informasi yang diterima tidak memiliki kualitas dan lebih condong ke dalam informasi palsu. Penekanan dalam pendidikan media diperlukan dalam upaya membangun arus informasi digital yang baik.

Memperkaya informasi dan wacana masyarakat perlu ditopang edukasi dan literasi. Literasi media digunakan sebagai upaya dalam membaca dan mengindentifikasikan kebutuhan terhadap informasi. Literasi media muncul untuk mengontrol informasi digital yang diterima masyarakat, sehingga masyarakat memiliki kemampuan untuk membedakan nyata dan maya sebuah informasi.

Melalui literasi media, masyarakat nantinya diharapkan dapat menjadi subjek informasi—bukan menjadi objek informasi itu sendiri—sehingga masyarakat juga turut terlepas dari hegemoni informasi yang dikonstruksi oleh media itu sendiri.

Art Silverblatt (pencetus teori literasi media) menekankan pengertian literasi media pada beberapa elemen, di antaranya:

Pertama, kesadaran akan pengaruh media terhadap individu dan sosial; masyarakat perlu memahami dan sadar terhadap keuntungan dan kerugian dalam informasi yang dikonstruksi media. Hal ini sebagai pondasi awal untuk memilah dan memilih informasi yang akan diterima.

Kedua, pemahaman akan proses komunikasi massa; sifat komunikasi massa di era digital yang dapat menempatkan publik sebagai produsen dan konsumen tentu memberikan pemahaman bahwa informasi yang baik dimulai dari diri masyarakat itu sendiri.

Ketiga, kesadaran bahwa isi media adalah teks yang menggambarkan kebudayaan dan diri kita sendiri pada saat ini; pemikiran dan budaya masyarakat akan mempengarui informasi media dan begitupun sebaliknya, informasi media akan berpengaruh terhadap pemikiran dan budaya. Hal ini menekankan pada aspek normatif sebagai landasan dalam memanfaatkan media. Perlunya penggunaan ilmu syariah turut membantu dalam upaya menghadirkan informasi yang baik.

Keempat, pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media; hal kunci dalam menafsirkan media adalah prespektif kritis masyarakat. Prespektif kritis ini berkenaan dengan sumber informasi, kemanfaatan isi informasi dan screening informasi, sehingga informasi benar-benar baik untuk dikonsumsi.

Kelima, mengembangkan kesenangan, pemahaman, dan penghargaan terhadap isi media; tindakan masyarakat terhadap informasi media adalah memahami, mengevaluasi dan memanfaatkan sehingga kebaikan sebuah informasi dapat menyebar kepada seluruh lapisan masyarakat.

Pada dasarnya, tujuan literasi media yang utama adalah menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat terhadap realitas media, karena media bukanlah suatu entitas yang netral. Institusi media dianggap sebagai sistem ekonomi yang berhubungan erat dengan sistem politik yang memiliki pengaruh terhadap aktivitas individu dalam menjalani kehidupannya. Melalui literasi media, masyarakat diharapkan mampu untuk memahami konstruksi media serta filtrasi informasi untuk melindungi diri dari hegemoni dan monopoli elit kekuasaan.

Penulis : Firman Dani Wijaya,

Bendahara 2 PW IPM Jawa Timur

Editor : Hasan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: