Lompat ke konten

Gerakan Pelajar Literat : Intensi dan Realita Semboyan Ikatan Pelajar Muhammadiyah

IPMJATIM.OR.ID – Nuun Walqolami Wama Yasthurun, sudah barang tentu kalimat ini tidak asing lagi di telinga para kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di seluruh Indonesia. Sesuai dengan Anggaran Dasar pasal 5, kutipan Surat Al-Qolam ayat 1 ini merupakan semboyan gerakan IPM yang juga ditampilkan dalam lambangnya yang segilima itu. Ini adalah ayat sakti yang akan selalu menutup rangkaian pidato pimpinan dan kegiatan IPM dimanapun dan kapanpun. Lalu apakah pemilihan ayat ini juga sudah dibarengi dengan pengimplikasiannya dalam setiap gerakan dan aksi nyata IPM?

IPM sebagai salah satu OKP yang bergerak di kalangan pelajar dan remaja mulai dari tingkat SLTP hingga Perguruan Tinggi bahkan lebih telah dengan jelas dan terang memilih ayat 1 dari Surat Al-Qolam sebagai semboyan gerakannya, Nuun Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis. Ayat ini merupakan satu dari sekian ayat keilmuan yang ada dalam Al-Qur’an. Sebuah ayat yang mewakili keilmuan dengan dua kata utamanya yakni pena dan tulis. Hal ini tidak bisa dianggap sepele dan main-main saja, asal pilih saja, kelihatan bagus dan cocok diambil saja. Kenapa? Karena yang dipilih adalah Kalamullah yang harus dipertanggung jawabkan. IPM saya rasa akan memiliki masalah dengan Allah-Sang pemilik sejati ayat ini, apabila dalam berbagai segmentasi gerakannya tidak mengamalkan semboyan yang telah dipilih. Terlebih bila dalam berbagai level kepemimpinannya tidak memahami dan apalagi tidak menjiwai semboyan ini. Bahkan IPM akan bisa dicap sebagai pihak yang melakukan ‘kejahatan ayat’ apabila surat Al-Qolam ayat 1 ini hanya berhenti sebagai semboyan dan hiasan lambang saja. Tidak ada cara lain selain dengan sungguh-sungguh menjadikan spirit Al-Qolam sebagai ruh gerakan. Spirit Al-Qolam harus selalu hadir dalam setiap denyut nadi dan nafas pergerakan IPM. IPM harus siap mendengungkan capaian-capaian keilmuan di seluruh tingkatan levelnya, maka IPM akan mampu menjadi pelopor dan pemimpin peradaban keilmuan di kalangan pelajar dan remaja. Atau jika tidak, barangkali saya boleh berpendapat semboyan itu kita ganti saja dengan lafadz Basmallah, Hamdallah atau Innalillah sekalian. Karena ini adalah tugas berjama’ah untuk yang mengaku sebagai pimpinan, kader, anggota ataupun simpatisan IPM, ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Pimpinan Pusat sebagai pucuk pimpinan IPM.

Selanjutnya penulis akan sampaikan simpulan dari penjelasan makna surat Al-Qolam ayat 1 yang disarikan dari buku Nun : Tafsir Gerakan Al-Qolam karya Azaki Khoirudin. Jadi ayat semboyan ini terbagi menjadi 3 bagian, yakni (1) Nun; (2) Wal Qolami; dan (3) Wamaa Yasthurun. Pertama, Nuun, sebagai perwujudan ilmu tidak hanya penyatuan, tetapi juga ketersaling-hubungan antara tauhid dengan pengetahuan, antara wahyu dan akal. Melalui makna Nun seakan Allah memerintahkan “Iqra’ Bismi Robbika Alladzi Khalaq”. Nun, bacalah, galilah segala sumber ilmu, risetlah segala apa yang telah diciptakan oleh Allah di alam semesta ini. tetapi jangan lupa harus bersandarkan Tauhid. Kedua, Wal Qolami, qalam adalah isyarat kepada kita untuk membaca dan menulis. Karena banyak manfaat yang akan diperoleh dengan membaca dan menulis. Syaratnya disertai nama Tuhan untuk mencapai keridhoan Allah. Dengan qalam, orang dapat menyampaikan berita suka atau duka kepada keluarga dan teman-teman akrabnya serta dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya menjadi yang berperadaban dan berkebudayaan tinggi. Ketiga, Wama Yasthurun, ini adalah pelengkap dari dua hal yang telah tersebut lebih dahulu. Terlepas dari siapa ‘mereka’ yang dirujuk dalam ayat ini untuk menulis, yang jelas Wama Yasthurun adalah yang dapat dibaca. Seakan Allah kembali menegaskan the power of reading and writing, dan menjadi buah pena para ahli pengetahuan. Dalam istilah keilmuan filsafat, Nuun bisa dianggap sebagai dimensi Ontologis yaitu fakta nyata atas pengetahuan, Wal Qolami sebagai dimensi Epistemologis yaitu sumber pengetahuan dan Wama Yasthurun sebagai dimensi Aksiologis yaitu aksi atau bukti nyata dari pengetahuan.

Jelas terlihat dari uraian di atas, kira-kira apa intensi dari pemilihan ayat 1 surat Al-Qolam sebagai semboyan resmi IPM. Para pendahulu menginginkan kader penerusnya nanti bisa menjiwai spirit Al-Qolam. Yaitu spirit untuk senantiasa membaca, menulis, meriset, mengkaji dan sejenisnya. Saat ini IPM memiliki 4 pilar utama gerakan, yaitu Literasi, Ekologi, Kewirausahaan dan Pendampingan. Yang sudah jelas-jelas sangat cocok dengan semboyan IPM adalah Pelajar berliterasi, pelajar literat. Meskipun yang tiga lainnya itu pun bisa saja kita sambungkan dengan kegiatan berliterasi, karena sejatinya literasi itu bukan hanya membaca dan menulis yang termaktub dalam lembaran-lembaran atau digital. Pasti saat mendengar kata literasi, yang teringat di pikiran kita hanyalah menulis atau membaca. Memang benar literasi dikaitkan dengan bacaan, tulisan dan yang pasti dengan ke-aksara-an. Awalnya literasi digunakan untuk menunjukkan kemampuan untuk bercakap-cakap dan keterampilan hidup. Tapi, kini literasi dipahami sebagai konsep mengolah informasi dan memahami bahan baca tulis yang merupakan kemampuan dasar dan modal utama bagi generasi muda dalam belajar dan menghadapi tantangan masa depan.

Sekarang ini banyak sekali anak yang mengaku mempunyai hobi membaca atau menulis sebagai bagian dari literasi. Tapi menurut saya, hal itu adalah suatu kebutuhan bagi pelajar dan masyarakat pada umumnya. Karena kalau hanya sekedar hobi, melakukannya saat waktu luang saja, tidak di segala waktu. Tapi kalau kita menganggapnya sebagai kebutuhan, kita akan selalu membutuhkannya, selalu menantinya dan selalu mengerjakannya. Dan bila tidak mendapatkan kebutuhan kita tersebut, maka akan merasakan ada yang kurang atau hilang dalam diri kita. Dengan kebutuhan membaca itu pula, kita bisa berimajinasi atau merancang langkah kita untuk menghadapi masa depan. Sedangkan hakikat literasi di masa modern ini adalah menggunakan dan mengolah informasi untuk mengembangkan pengetahuan. Semua hal bisa kita jadikan bahan literasi, dengan mengkaji keadaan sekitar, menonton film bahkan mendengarkan musik bisa menjadi kegiatan literasi. Tergantung pada individunya, itulah mindset yang harus kita bangun, semua adalah ilmu dan bisa kita ambil hikmahnya. Jadi kita harus bisa menyeimbangkan antara ngaji dan kaji, pengajian dan pengkajian harus balance tanpa ada dikotomi. Barulah setelah itu karya raya, karya-karya besar akan dapat kita hasilkan.

Saat ini pun, literasi semakin banyak digencarkan oleh beberapa kalangan dan di beberapa lokasi. Tidak lupa pula, organisasi tercinta IPM juga sedang menggalakan gerakan literasi di kalangan pelajar dan remaja yang memang sudah seharusnya dilakukan sebagai implikasi penggunaan Al-Qolam ayat 1 sebagai semboyan dalam lambang yang segilima itu. Sebenarnya IPM sudah lama menggalakkan gerakan literasi, seperti dengan gerakan iqro’-nya yang bisa menguatkan pilar keilmuan di IPM dan di Persyarikatan Muhammadiyah. Selain itu, IPM juga mempunyai majalah pelajar tertua di Indonesia yang bernama “Kuntum”. Majalah ini adalah salah satu prestasi yang membanggakan dalam perkembangan literasi yang sudah diakui oleh masyarakat luas. Maka tidak sulit sejatinya untuk IPM ber-literasi, karena pondasi dasarnya sudah kita bangun, tinggal kita sempurnakan dan kembangkan saja kedepannya. Setelah sekian lama mengaku bersemboyan Nuun Wal Qolami Wama Yasthurun, IPM pun baru-baru saja juga menggerakkan Pelajar Berkemajuan, tepatnya mulai Muktamar XVIII di Palembang dan semakin terdengar pada Muktamar-Muktamar selanjutnya. Gerakan literasi yang mulai menggaung ini, diharapkan tidak menguap di tingkat atas saja, tapi juga bisa sampai ke tingkat bawah. Dengan gerakan literasinya, IPM sebagai ortom Muhammadiyah bisa mendukung untuk mewujudkan pandangan Indonesia Berkemajuan, khususnya di kalangan pelajar dan remaja.

Harapan kami, pasca mulai menggaungnya IPM berliterasi atau Pelajar Literat ini, semua kader dan anggota IPM di seluruh Indonesia terkhusus di Jawa Timur bisa menyuarakan satu suara yakni pengawalan gerakan literasi, tentunya dalam ranah garapan masing-masing tingkatan dan menjadikannya program berkelanjutan yang tidak jalan ditempat saja. Gerakan Pelajar Literat ini juga diharapkan menjadi gerakan identik dan khas dari tubuh organisasi IPM dalam mewujudkan terbentuknya pelajar muslim yang sebenar-benarnya alias berkemajuan. Sebagai ikhtiar akan pandangan Indonesia Berkemajuan yang sebenar-benarnya, Muhammadiyah dan IPM harus menunjukkan daya kreatifnya untuk menjadi pelopor pejihad literasi di Indonesia. Karena berbagai manfaat dapat diraih dengan gerakan literasi khususnya membaca dan menulis seperti yang paling utama adalah kita bisa meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia di antara negara-negara lain. Terakhir, sekali lagi jangan sampai Al-Qolam ayat 1 hanya menjadi intensi yang dibesar-besarkan saja tapi tidak terwujud dalam realita nyatanya. Semboyan Nuun, Wal Qolami Wama Yasthurun adalah akar semangat IPM dalam ber-Organisasi dan berliterasi yang tidak akan pernah pudar dan tidak akan pernah selesai untuk dikaji dan dijalankan oleh seluruh elemen pergerakan IPM. Semoga segala ikhtiar kita dicatat dan dilaporkan oleh Raqib sebagai amal kebajikan.

Salam Pelajar Literat!!! Salam Pelajar Karya Raya!!!

Nuun Walqolami Wama Yasthurun

Oleh :

Rifqy Naufan Alkatiri

Ketua Umum PD IPM Kota Batu periode 2019-2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *