Hidup Minimalis: Bisakah Cegah Perilaku Hedonis

IPMJATIM.OR.ID- Hidup Minimalis. Akhir-akhir ini, saya jadi sering sekali melihat postingan teman-teman olshop yang setiap hari (tanpa absen) memajang barang dagangannya di Whatsapp story. Maklum, karena sekarang memiliki waktu yang lebih longgar kalau hanya untuk scroll-scroll update-an terkini, hehe. Mulai dari baju, skincare, perabotan rumah tangga hingga berbagai jenis makanan. Tidak salah memang, jika itu adalah ikhtiar mereka untuk menjemput rezeki dan tetap produktif walaupun di rumah saja.

Namun, sudah bijakkah kita sebagai konsumen ketika membeli barang-barang tersebut?. Hidup di era disrupsi benar-benar telah mengubah gaya hidup kita. Salah satunya adalah merabaknya online shop dan e-commerece menjadikan kita tidak perlu repot-repot pergi ke pusat perbelanjaan. Tinggal klik gambar, lalu pilih metode pembayaran maka barang akan sampai ke tangan kita beberapa hari kemudian. Huhuhu, mudah sekali kan?.

Akan tetapi, pernahkah sekali-kali kita memikirkan apa yang terjadi dibalik segala kemudahan ini? Ya, orientasi hidup kita menjadi hanya fokus pada hal-hal bersifat materi. Membeli barang bukan lagi karena kebutuhan, tetapi juga sebagai ajang pemuasan diri dan pemenuhan keinginan. Kita semakin terjebak pada perilaku konsumtif dan hedonis.
Saat menjalani kehidupan yang konsumtif dan serba materialis, maka akan semakin banyak barang-barang yang kita miliki. Semakin banyak barang yang kita simpan, semakin banyak pula yang kita pikirkan. Kita harus memiliki kendali atas diri kita sendiri.

Mengontrol keinginan-keinginan yang tidak berarti, salah satunya dengan merubah pola hidup dari materialis menjadi minimalis. Gaya hidup minimalis pertama kali dipopulerkan oleh Marie Kondo dengan metode beberesnya yang dikenal dengan metode KonMari.

Sederhananya, minimalisme merupakan upaya menjalani hidup dengan tidak berlebihan dan fokus pada kebutuhan dasar. Bukan hanya tentang dekorasi monokrom yang hitam putih, tapi lebih mengutamakan fungsi dan kualitas daripada kuantitas.

Hidup minimalis bisa mendorong kita untuk memaknai dan memaksimalkan setiap hal yang kita punya. Menuntun kita untuk menekan ego, nafsu, dan obsesi yang tidak penting. Pun terhidar dari rasa insecurity dan rasa tak pernah puas karena selalu merasa kurang. Setiap kita memiliki kendali atas keputusan yang kita buat. Sebab, keputusan-keputusan yang kita ambil akan berpengaruh pada kehidupan yang kita jalani.

Minimalisme akan membantu kita dalam mengelola perencanaan (planning), karena semua akan berjalan secara teratur dan sistematis. Tidak sekedar mengikuti trend belaka. Menyenangkan memang jika selalu bisa update gaya kekinian apalagi dengan harga yang murah. Namun, trend kekinian dengan produksi fashion besar-besaran dan harganya yang murah ini berdampak pada kesejahteraan kaum buruh perempuan, di samping berdampak pula pada lingkungan karena limbah produksi yang dihasilkan.

Sekitar 80% buruh garmen adalah perempuan yang berusia sekitar 18-35 Tahun. Perempuan dipilih karena dilekatkan dengan stereotype budaya yang dianggap pasif dan kontrak fleksibel. Bicara perihal kesejahteraan buruh pakaian, Bangladesh dikenal dengan kurangnya kesejahteraan pekerja di bidang ini.

Di Bangladesh, buruh pakaian digaji dengan sangat sedikit, yakni 87 Dollar AS yang mana angka tersebut jauh dibawah standar upah minimum Bangladesh yaitu 286 Dollar AS (Medium, 2019). Bahkan pekerja-pekerja ini sering dimarahi dan dilecehkan jika tidak bisa memenuhi target. Isu yang terjadi di Bangladesh tersebut adalah salah satu contoh saja. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi di Indonesia jika kita masih saja melanggengkan budaya konsumerisme ini.

Terdapat beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk mencegah perilaku boros dan memulai hidup secara minimalis. Seperti membuat skala prioritas. Istilah ini mungkin sudah cukup familiar di telinga kita. Saat akan pergi berbelanja misalnya, dengan mencacat barang yang akan dibeli, maka perhatian kita hanya fokus pada barang-barang tersebut.

Kemudian, menyadari bahwa standard kebahagiaan kita belum tentu bisa diukur dengan banyaknya barang yang kita miliki. Setiap orang memiliki kebutuhan dan prioritas masing-masing, sehingga akan sangat baik dan bijak jika bisa bertanggungjawab dengan apa yang dimiliki.

Oleh:

Ina Afrina Faiqotun Nisa

Bidang Ipmawati PW IPM Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *