IPM : Nafas Humoris, Nafas Kreatif, Nafas Politis

IPMJATIM.OR.ID – “Nuun Walqolami Wamma Yasthurun, Wassalamualaikum Wr.Wb.” entah sudah berapa ribu kali ayat tersebut diucapkan pada penutup sambutan, rapat, bahkan pernah saya gunakan sebagai kalimat penutup sidang skripsi. Bagi orang yang pernah dekat dengan Muhammadiyah, jelas paham bahwa identitas yang mengucapkan ayat tersebut adalah kader IPM. Dalam menyikapi identitas ber-IPM setiap kader dari tiap daerah tentu berbeda, ada yang bangga mengunakan atribut IPM secara fisik, ada pula yang menunjukkan identitas ber-IPM-nya lewat media sosial. Semua itu bebas terukur selama dalam memakai identitas IPM-nya tidak mencemari dengan sikap atau perilaku yang buruk.

Sebagai organisasi pelajar Muhammadiyah pastinya memiliki gerakan repetisi sebagai penunjang identitasnya. Saya menyebutnya sebagai “nafas” yang idealnya dapat dilakukan terus menerus. Pandangan saya ini relatif bagi setiap orang, bahkan anda boleh tidak setuju dengan ini. Ada tiga nafas ber-IPM yang menurut saya bisa dilakukan terus menerus yaitu : nafas humoris, nafas kreatif, dan nafas politis.

Pertama, nafas humoris; menurut Dr. Fahrudin Faiz dalam buku “Menjadi Manusia, Menjadi Hamba” manusia adalah homo ridens, atau makhluk yang humoris. Maka sejatinya sifat humor ini boleh saja di dalam organisasi karena memang fitrah manusia ada humornya. Ayolah.. jangan terlalu sepaneng dalam berorganisasi. Tidak semua waktu dalam kegiatan IPM harus serius bahkan jangan terlalu kaku seperti pendidikan militer. Otot ini butuh peregangan dan rileks dengan tertawa dan bercanda gurau. Sama seperti olahraga yang butuh istirahat, ber-IPM juga sama. Hiburan yang paling mudah dan murah ya bercanda gurau. Nafas humor ini setidaknya akan menciptakan rasa kekeluargaan, ketenangan, penghilang stress saat dihadapkan oleh tuntutan tugas dan tanggung jawab yang diemban.

Kedua, nafas kreatif; ketika nafas humoris sudah tercipta, tidak serta merta ide kreatif juga akan muncul. Namun kemampuan analisis melihat suatu masalah menentukan bahan awal ide kreatif muncul hingga menjadi inovasi menyelesaikannya. Lalu, berarti nafas humor tidak ada korelasinya dong dengan ide kreatif? Nah, memang tidak ada kepastian bahwa ketika otak kita rileks ide kreatif akan muncul. Hal ini tergantung seorang kader merespon suatu masalah. Terkadang ada orang yang muncul ide kreatifnya ketika sedang terdesak oleh masalah, ada pula seseorang keluar ide kreatifnya ketika sedang rileks. Namun dari kedua kepribadian tersebut, nafas humoris dapat merileksasi pikiran dan suasana hati setiap kader.

Gerakan kreatif pelajar seringkali menjadi bahan branding IPM dimanapun. Namun pernahkah kita membedah apa saja penunjang kreatifitas pelajar? Dan faktor apa saja yang dapat memengaruhi kualitas kreatif seorang pelajar? Apakah memenangkan lomba karya tulis ilmiah saja atau ada objek kreatif lain yang mungkin bisa dilakukan oleh pelajar yang notabene kemampuannya bukan di bidang penulisan dan penelitian? Menurut saya, semua metode analisis potensi pelajar ini perlu digalakkan lagi. Agar kita bisa mengukur atau paling tidak menyediakan banyak opsi untuk mengaktualisasikan kreatifitas semua pelajar Muhammadiyah. Metode analisis SWOT, AI, dan ANSOS masih sangat dinamis diimplementasikan untuk mengenali potensi kreatif untuk ranah pelajar.

Ketiga, nafas politis; inilah nafas yang paling unik menurut saya. Pengalaman saya di bidang organisasi PW IPM Jatim, melihat politik IPM di tiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada persaingan ketat antar calon formatur hingga membentuk koalisi cabang-ranting hingga konflik dengan pihak diluar IPM yang memiliki pengaruh di dalam IPM suatu daerah. Saling lobby pihak-pihak didalam-luar Muhammadiyah sebagai manufer politik menguatkan elektabilitasnya di pencalonan nanti. Ada juga persaingan saling mengalah mengisi jabatan struktural. Itulah yang menjadi alasan nafas politik IPM itu unik.

Dalam hal politik, pelajar Muhammadiyah tidak boleh acuh bahkan menghindari dinamika yang terjadi dalam konteks ini. Jangan pula menjadi ideologi politik kultur IPM, artinya ketika menghadapi kontestasi mencari pemimpin diluar IPM, jangan tetap mempertahankan idealis kultur politik IPM untuk bersikap. Berproseslah secara dinamis, analisis setiap kemungkinan yang akan terjadi jika memiliki keinginan untuk memimpin suatu organisasi atau pemerintahan sekalipun. Memiliki kepentingan di IPM itu tidak salah, saya meyakini ketika seorang kader memiliki kepentingan di IPM, maka ia setidaknya memiliki visi misi yang jelas, ada goal yang harus dicapai. Disinilah letak motivasi terkuat dalam hal apapun yaitu ada tujuan yang harus tercapai secara pribadi disamping tujuan bersama yang harus terwujud.

Nafas politis umumnya terlihat jahat, penuh ambisi, rawan muncul sikap egois. Nafas kreatif juga menghabiskan tenaga otak untuk berfikir keras. Untuk meregangkan tensi emosi berpolitik dan berkreatifitas di IPM, nafas humoris harus tetap digunakan. Anggaplah semua yang kita lakukan selama berproses di IPM hanyalah sebuah permainan, ada aturan mainnya, maka nikmatilah. Sebagaimana sifat manusia homo ludens (makhluk yang bermain), capai garis finisnya lalu naik ke level selanjutnya.

Oleh:

Rizqy Anwar Hidayatullah

Bidang Organisasi PW IPM Jawa Timur

Tinggalkan Balasan