Kader IPM Ikut Gerakan Hijrah, Apa Masalahnya?

IPMJATIM.OR.ID – Boleh jadi, tren hijrah yang terjadi di sebagian kader IPM saat ini telah memberi warna baru bagi proses pengkaderan dan gerakan bidang Kajian dan Dakwah Islam. Hal ini menjadi sebuah kemajuan atau kemunduran bagi dakwah IPM di kalangan pelajar adalah tergantung dari respon IPM dalam menanggapi fenomena ini. Sejauh pengamatan penulis, sampai saat ini fenomena hijrah di kalangan kader IPM bukan menjadi hal yang menarik untuk didiskusikan atau dikaji secara mendalam secara serius oleh pimpinan IPM.

Meskipun sudah banyak media-media atau kelompok-kelompok Islam yang sudah sangat cepat merespon fenomena ini, baik respon secara reaksioner-emosional, pro/kontra, mengambil jalan tengah, ataupun berbasis riset akademis yang seringkali disangka-sangka justru mencurigai Islam itu sendiri. Akan tetapi semua itu penulis yakin semua berawal dari keresahan terhadap dunia perkembangan Islam sendiri.

Di dalam IPM sendiri hal ini bukan menjadi suatu keresahan atau menarik untuk dikaji. Ada beberapa kemungkinan; pertama, menganggap gerakan hijrah adalah hak dari seorang kader dalam mencari identitas dirinya; kedua, gerakan tersebut baik untuk seorang kader karena dapat memberikan perubahan ke arah yang positif terutama dari sisi keislaman sehingga muncul pameo asal kegiatan itu baik tidak apa-apa lakukan saja; ketiga, gerakan hijrah memberikan penekanan dakwah bagi kader IPM karena menganggap IPM sangat kering akan dunia agama-spiritualitas.

Itulah asumsi dasar mengapa IPM menganggap fenomena hijrah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Dengan dalih penjagaan akhlak pelajar dari bahaya-bahaya yang dapat merusak moral-keagamaan pelajar seperti hedonisme, komunisme, liberalisme, kriminalisme, dan isme-isme yang lain. Tapi tidak dengan arabisme, islamisme, dan orientalisme yang justru itulah dianggap “Islami” oleh sebagian kader IPM. Dimana segala sesuatu yang berbau dan berlabel Islam di situlah terdapat Islam, sedangkan sebaliknya tidak dianggap Islami.

Mengapa penulis tertarik atau bahkan sampai ke tahap resah dalam menghadapi fenomena ini? Pertama, karena ada tren yang cukup signifikan di tataran akar rumput kader yang bergabung dengan gerakan hijrah, terutama yang berada pada struktural bidang Kajian Dakwah Islam. Coraknya macam-macam; pertama, ada yang aktif di struktural pimpinan dan gabung dalam komunitas hijrah; kedua, aktif di struktural pimpinan, tidak gabung komunitas hijrah namun membolehkan jika kader gabung dalam komunitas tersebut; ketiga, tidak aktif sebagai pimpinan atau sebagai anggota/simpatisan dengan keluarga berbasis Muhammadiyah namun mengikuti gerakan tersebut.

Sejauh pengamatan penulis tingkat ketahanan ideologi Muhammadiyahnya pun bermacam-macam. Ada yang berkurang bahkan hilang dan ada yang tetap. Dapat dianggap berkurang jika produk-produk hukum Muhammadiyah tergantikan dengan produk-produk hukum Islam dari mubaligh-mubaligh yang diikuti dalam pengajiannya. Namun penulis lebih sering melihat adanya pergeseran daripada yang tetap bertahan. Setidaknya ada dua hal yang memengaruhi; pertama, kader IPM merasakan kenyamanan baru dan guru baru tersebut lebih meyakinkan dari cara penyampaian; kedua, tidak adanya kajian atau penyampaian produk-produk hukum dari Muhammadiyah secara intensif, jika pun ada pasti dianggap kurang mengena bagi para kader IPM. Itulah kenapa kader IPM berhijrah (lagi) ke ruang yang baru, yang sebenarnya Muhammadiyah adalah sebaik-baik tempat berhijrah. Betapa banyak masyarakat mengagumi Muhammadiyah di penjuru dunia dan telah banyak diteliti oleh ilmuwan bertahun-tahun seperti Mitsuo Nakamura dan Hyung Jun Kim.

Penulis melihat ada semacam ketidakpuasan kader IPM dalam dakwah IPM atau Muhammadiyah itu sendiri yang terkesan kaku sampai mengerutkan dahi untuk mencerna inti ajaran Muhammadiyah. Tidak salah jika kader IPM berpindah haluan dalam belajar ilmu agama, namun kader IPM juga tidak boleh cepat bersikap tidak puas apalagi sampai menyalahkan metode dakwah IPM atau Muhammadiyah. Karena di dalam Muhammadiyah sebenarnya semua yang kita cari ada, tinggal kita banyak-banyak bergumul dengan teman-teman yang bermacam-macam, bisa jadi cara belajar Islam yang dicari dengan menggembirakan itu ada. Tidak semua Muhammadiyah itu serius, ada juga yang menyenangkan dan mudah dipahami, semua hanya tentang metode, media dan pergaulan kita yang harus dilebarkan lagi.

Tidak ada yang salah bagi kader IPM untuk berhijrah baik secara substantif, simbolik bahkan dalam bentuk gerakan. Karena hijrah itu maknanya sangat luas, tidak dapat ditafsir oleh kelompok tertentu seperti sekarang yang lagi ngetrend, namanya juga trend pasti dapat berubah-ubah sepanjang zaman. Bisa jadi trend hijrah yang sekarang berbeda ketika nanti di tahun emas 2045, bisa lebih inklusif atau eksklusif tergantung apa yang dilakukan sekarang dan situasi sosial-politik keagamaan yang akan datang.

Jadi, jika kader IPM membuat gerakan hijrah dengan versi IPM yang bercirikan Islam moderat, progresif, dan inklusif adalah tantangan tersendiri khususnya bidang Kajian Dakwah Islam. Tidak boleh takut atau minder karena sudah mapannya gerakan hijrah yang sekarang lagi ngetrend di Indonesia. IPM harus hadir memberikan alternatif tafsiran hijrah yang berbeda dengan gerakan-gerakan yang sudah ada. Karena dalam dunia sekarang hanyalah tentang perebutan narasi dan wacana, siapa yang tidak tampil atau minder dengan yang sudah mapan akan tergilas oleh mereka yang sudah mendominasi.

Sama seperti fenomena hijrahnya kader IPM penulis melihat hal itu menjadi positif jika kader IPM dapat memberikan nilai-nilai Kemuhammadiyahan dalam gerakan tersebut, akan tetapi jika kader IPM hanyut dalam gerakan tersebut yang berbeda dengan nilai, visi-misi Muhammadiyah maka inilah kekhawatiran penulis di masa yang akan datang Muhammadiyah akan jadi semakin eksklusif, tidak lagi memberikan kontribusi bagi peradaban bangsa maupun dunia kemanusiaan universal, karena hanya untuk kebutuhan kenyamanan dan kesejahteraan Muhammadiyah sendiri. Bukan itu yang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan. Semakin beragama kita maka kita semakin terbuka dan senantiasa berkolaborasi dengan siapa saja tanpa memandang agama demi kemajuan dan kemaslahatan.

Oleh :

Nashir Efendi

Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Jawa Timur periode 2018-2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *