Lompat ke konten

KDI IPM Jatim, Kaji Urgensi Bermazhab

IPMJATIM.OR.ID – Mendakwahkan Manhaj Tarjih dan Tajdid perlu dilakukan perlahan, khususnya kepada kalangan awam tidak perlu banyak berteori Uṣul Fiqh dan yang terpenting adalah memperlihatkan wajah Muhammadiyah yang toleran, terbuka, dan tidak beranggapan pendapatnya paling benar. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Dikky Syadqomullah, S.H.I., M.HES dalam Pelatihan Da’i Pelajar Muhammadiyah (PDPM) 3 Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur (PW IPM Jatim) pada Sabtu (28/10) di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim).

“Tidak mengikat diri kepada suatu mazhab” merupakan salah satu dari sekian pokok Manhaj Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Hal ini sering kali menjadi pertanyaan mendasar bagi orang awam, baik dari eksternal maupun internal warga Muhammadiyah sendiri. Tak jarang kecenderungan Manhaj Tarjih dan Tajdid ini kerap menimbulkan salah faham.

Seperti misalnya, Muhammadiyah seakan meragukan kualitas imam mazhab bahkan tidak menghargai warisan tradisi peradaban Islam tersebut. Meluruskan kesalahfahaman ini tentu menjadi tantangan sekaligus kewajiban para kader da’i Muhammadiyah.

Lebih lanjut, Pria yang menjadbat sebagai Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Timur 2022 – 2027 menjelaskan bahwa, saat ini sulit bermazhab secara konsisten. Seperti kalangan yang menyatakan bermazhab Syafi’iyyah belum tentu membaca utuh kitab Al-Umm. Dengan demikan, mazhab difahami Muhammadiyah sebagai bahan pertimbangan hukum Islam sesuai semangat Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun tidak ada afiliasi terhadap satu mazhab tertentu.

Disisi lain, Ketua Bidang Kajian Dakwah Islam (KDI) PW IPM Jatim, Farhan Alif Ujilast juga menambahkan sekaligus berpesan kepada seluruh pelajar untuk lebih intensif dalam mengkaji Manhaj Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah secara berkelanjutan, karena hal ini termasuk pengetahuan dasar yang harus dikuasai kader da’i, lebih utama da’i pelajar Muhammadiyah.

“Manhaj Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah itu sebagai ilmu alat atau pengetahuan dasar yang menjadi alat pagi kader-kader Muhammadiyah. Akan sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat khususnya menjadi seorang dai. Bisa dalam lingkup sempit seperti pelajar bahkan lingkup luas kepada masyarkat umum” tutupnya. (Faqih)

Tinggalkan Balasan