Keberpihakan Terhadap Perlindungan Perempuan dari Kasus Kekerasan Seksual

Akhir-akhir ini banyak sekali berita-berita terkait kekerasan seksual terhadap perempuan, yang memang berita tersebut fakta adanya bukan berita hoax yang dibuat-buat oleh media. Kasus pelecehan seksual terhadap perempuan yang terjadi di akhir tahun belakangan ini cukup memprihatikan dan membuat kaum perempuan merasa resah dan khawatir terkait berita-berita yang beredar tersebut.

Seorang wanita yang seharusnya dihormati, dijaga, dan disayangi karena sudah melahirkan peradaban di dunia, di negeri kita ini wanita malah dilecehkan seolah-olah barang yang tidak berharga ketika kehilangan tidak ada kekhawatiran dalam diri ini.

Seorang wanita yang merupakan Al-Madrasatul Ula bagi anak-anaknya, wanita yang melahirkan orang-orang hebat dari rahimnya, saat ini sudah tidak diperlakukan sebagaimana mestinya oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab diluar sana.

Seorang wanita yang ketika dilecehkan malu untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada orang lain, butuh badan hukum untuk melindungi dan menindaklanjuti atas kejadian yang sudah menimpa tersebut. Ketumpulan hukum di Indonesia dan kelakuan oknum-oknum diluar sana menyebabkan beberapa bulan terkahir banyak kita jumpai kasus-kasus pelecehan seksual.

Kejadian yang terjadi di beberapa bulan terakhir ini sudah membuktikan bahwa perlindungan hukum terhadap wanita di negara ini sangatlah minim, dan kepekaan untuk merespon kasus pelecehan seksual juga sangatlah minim. Ketika berfikir siapa yang harus disalahkan ketika terjadi pelecehan seksual.

Banyak sekali pernyataan negatif yang beredar menyudutkan satu pihak. Seperti,

“Kalau tidak sama-sama mau pasti gak akan terjadi.”

“perempuannya aja kali yang gatel.”

“lagian pakaiannya gitu siapa yang tidak tertarik untuk melakukan pelecehan.”

Tuduhan-tuduhan diatas mengarah seolah-olah korban yang bersalah. Korban yang seharusnya dilindungi, diberikan wadah untuk bercerita. Malah dirusak mentalnya dengan tuduhan-tuduhan yang kebenarannya belum pasti.

Tuduhan-tuduhan diskriminatif yang selalu menyudutkan pihak korban ini perlu dihilangkan di negeri ini agar korban lebih bisa terbuka dalam menyampaikan apa yang sudah dialami. Negara yang kita cintai ini terlalu sering menormalisasi sesuatu yang salah, hingga berdampaknya terhadap segala aspek di kehidupan, salah satunya tuduhan-tuduhan yang tidak benar tersebut yang saat ini sedang marak terjadi dan menjadi sesuatu yang dinormalisasi kan oleh sebagian besar warga negaranya.

Lebih parahnya lagi, salah satu pelaku pelecehan seksual merupakan pemuka agama, kyai, ustaz yang seharusnya paham terhadap adab memperlakukan wanita akan tetapi gelar yang dimiliki tidak membuat dirinya menghindarkan dari tindakan biadab yang sampai mengahmili 14 santriwatinya, yang 4 diantaranya sudah melahirkan dan saat ini anak tersebut sudah tumbuh besar.

Hal yang lebih memprihatinkan lagi terjadi eksploitasi anak, anak yang sudah tumbuh besar tersebut dijadikan mesin uang. Pantaskah gelar tersebut tertera di depan namanya, dan menjadi panggilannya. Inilah contoh orang yang berilmu tapi ilmunya tidak diamalkan sesuai koridor.

Walupun demikian, sebagai wanita juga harus tetap menjaga diri, selalu memperhatikan pakaian yang dipakainya ketika berkegiatan diluar, wanita juga harus menjadi garda terdepan ketika saudaranya dilecehkan.

Jangan pernah takut untuk menceritakan ketika sudah mengalami pelecehan seksual agar bisa diminimalisir kasusnya juga. Menjaga kehormatan dirinya adalah hal yang harus dilakukan untuk setiap wanita.

Oleh : Hosiana Alda (Ketua Ipmawati PW IPM Jatim)

Tinggalkan Balasan