Kritik Gerakan Tumblerisasi

Dipublikasikan oleh media jatim pada

Bagian I : GerakanTumblerisasi dan Kesadaran Naif

Beberapa hari yang lalu sempat ramai di media sosial tersebar poster dari kementerian lingkungan hidup dan kehutanan terkait kampanye ajakan penggunaan tumbler sebagai wadah air minum yang menggantikan botol air mineral plastik sekali pakai. Tiba – tiba dalam beberapa hari story Whatsapp dan Instagram dari beberapa teman saya berisikan poster tersebut mungkin karena dianggap poster tersebut selain menarik secara desain, juga mampu menyadarkan masyarakat untuk merubah pola hidupnya yang biasanya membeli air minum dengan botol sekali pakai berubah menggunakan tumbler sebagai wadah air minum.

Jika meminjam pemikiran Paulo Freire terkait tingkat kesadaran manusia, dalam permasalahan tidak terkendalinya sampah plastik (botol minum) sehingga muncul gerakan tumblerisasi maka sejatinya apa dan siapa yang dianggap sebagai akar masalah dari permasalahan tersebut?
Gerakan tumblerisasi secara jelas menyatakan bahwa gaya hidup manusialah (individu) yang menjadi akar masalah dari tidak terkendalinya sampah plastik (botol minum) tersebut. Sehingga kesadaran dari gerakan tumblerisasi masih pada ranah kesadaran Naif jika meminjam pemikiran Freire, karena menganggap bahwa individu manusia (gaya hidup) sebagai akar dari permasalahan tersebut.

Bagaimana dengan kesadaran kritis memandang permasalahan tersebut? Kesadaran kritis selalu mempertanyakan sistem, struktur dan relasi sosial yang terjadi di tengah kehidupan sosial (secara sederhananya). Dalam permasalahan tidak terkendalinya sampah plastik (botol minum) di Indonesia patutlah kita menggurai relasi antara negara dengan korporasi (kapitalis) air minum yang memproduksi air minum dengan botol plastik sekali pakai. Ya, Akar masalah dari tidak terkendalinya sampah plastik (botol minum) menurut saya adalah tetap berproduksinya korporasi air mineral di Indonesia sampai saat ini. Sangatlah aneh jika kita melakukan gerakan tumblerisasi tapi korporasi air mineral dengan botol plastik sekali pakai masih mencengkram Indonesia dengan kekuatan modalnya. Maka secara fundamental Indonesia haruslah mengusir korporasi air mineral (botol plastik) dari Indonesia dan mulai mengolah airnya sendiri dengan tidak menggunakan botol plastik sekali pakai. Mari, siapa yang berani mengkampanyekan hal tersebut?

Bagian II : Gerakan Tumblerisasi sebagai Strategi Kapitalisme Lanjut

Setelah mengurai bahwa gerakan tumblerisasi masih pada tahap kesadaran naif dan akar masalah dari tidak terkendalinya sampah plastik (botol) adalah relasi negara dengan korporasi air minum maka sampailah kita pada analisa mengapa gerakan tumblerisasi itu muncul?
Saya mencoba meminjam pemikiran dari seorang pemikir madzhab frankfrut Harbert Marcuse dalam bukunya One Dimentional Man tentang Kapitalisme Lanjut. Secara sederhananya Kapitalisme Lanjut adalah wajah baru Kapitalisme yang melanggengkan kapitalisme dengan cara berselingkuh dengan negara sehingga kapitalisme direstui negara bahkan menjadi beberapa program besar dari negera tersebut atau secara gamblang bisa kita sebut sebagai kapitalisme yang dirancang oleh negara.

Sebagai contoh yang tejadi di Surabaya yaitu munculnya transportasi umum yang alat pembayaranya menggunakan beberapa botol air minum plastik dengan tujuan mengurangi sampah botol plastik di Surabaya. Coba kita telaah pola yang digunakan dengan meminjam konsep Dramaturgi Erving Goffman. Front stage atau panggung depan yang ditampilkan adalah program tersebut bertujuan mengurangi botol plastik di Surabaya, sedangkan Back Stage yang ditutupi dan menjadi skenario utama adalah melangengkan kuasa korporasi air minum di Indonesia. Coba saya simulasikan, jika saya ingin naik transportasi tersebut dari rumah ke kampus maka saya harus mempunyai beberapa botol plastik untuk alat pembayarannya, maka sebelumnya saya harus membeli air minum berkemasan botol plastik atau meminta tetangga saya yang telah membeli air berkemasan botol plastik sekali pakai agar saya bisa membayar biaya transportasi umum tersebut. Alih – alih ingin mengurangi sampah botol plastik akan tetapi malah memperbesar kuasa modal korporasi air minum terhadap negara.

Lalu bagaimana dengan gerakan tumblerisasi? Gerakan tumblerisasi adalah front stage yang ditampilkan agar para penonton (masyarakat) berfokus pada gerakan tumblerisasi. Sehingga seakan akan tumblerisasi menjadi gerakan para pahlawan lingkungan dan akhirnya para penonton (masyarakat) tidak berfokus pada akar permasalahannya yaitu penguasaan air oleh korporasi (kapitaslieme). Padahal hal tersebut adalah Back Stage yang selalu ditutupi di depan penonton (masyarakat) dan sebenarnya menjadi skenario utama dari pementasan permasalahan tersebut. Mari, siapa yang berani mengkampanyekan hal tersebut?

**

Opini ditulis oleh Syahrul Ramadhan, Ketua Umum PW IPM Jawa Timur 2016-2018. Sekarang ia sedang menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.


1 Komentar

FRS · April 4, 2019 pada 8:30 am

Jgn suuzhan gitulah sama pemerintah, katanya kritis, mana tabayyunnya? Bukti pasti -bukan menduga2, perkiraan2- kalau pemerintah membiarkan perusahaan air kemasan buat menyusahkan masyarakat? Maaf, bukan mendukung pemerintah atau kapitalisasi, cuma mendukung akal sehat dr apa yg saya ketahui sejauh ini. Dimana salahnya menjual air minum dalam kemasan plastik??? Nyatanya kita banyak terbantu kok sama perusahaan air mineral. Bukti? Acara2 di masyarakat mulai dr tingkat RT sampek tingkat nasional sangat terbantu dr segi penyediaan air mineral. Apa anda nggak pernah pake kemasan air mineral bwt acara2 organisasi? Nggak suka perusahaan air mineral dalam kemasan ngambil untung? Ya jangan dipake, siapin aja gelas yg banyak. Oh, atau mungkin harus pemerintah ya yg nyediain air minum dalam kemasan? Ya bagus jg ini, tapi selagi menunggu pemerintah bikin pabriknya, jgn lupa sediain gelas yg banyak…

…Eh, tapi ntar jadinya menghidup2i kapitalisme perusahaan gelas dong? Padahal bahan bakunya gelas kan dr hasil bumi (silika, pasir, batu, dsb) hasil bumi kan harusnya pemerintah yg berhak ngelola? Duh…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *