Lompat ke konten

Mahasiswa Baru : Ketika SMA Rebutan Masuk Kampus, Setelah Masuk Kampus Direbutkan Senior

IPMJATIM.OR.ID – Selamat datang di bulan september, bulan yang dinanti maba (mahasiswa baru) 2020 untuk memulai masuk dunia perkuliahan. Waktu masuknya maba ini biasa disebut musim maba, tepatnya berada di awal semester ganjil. Kalau di Malang Raya sebelum masa pandemi COVID-19, dilansir dari Malang Today pada tahun 2018 jumlah maba sekitar dua puluh ribuan dari jalur reguler, itu pun belum termasuk jumlah maba dari jalur mandiri dan kampus-kampus swasta lain, dan di tahun 2019 jumlah maba meningkat dikarenakan beberapa kampus menambah kuota mahasiswanya. Musim maba biasanya berbarengan dengan kondisi suhu cuaca yang lebih dingin dari hari-hari lainnya.

Kondisi ini memberikan kesan bahwa kuliah dan belajar di Kota Malang memberikan kenyamanan karena suhu cuacanya yang sangat mendukung juga tidak mengurangi suasana kota besar dengan segala kesibukannya dan kebutuhan yang mudah didapat. Selain uforia masuk kuliah, jasa penginapan atau tempat tinggal sementara bagi mahasiswa seperti kos-kosan dan kontrakan juga menjadi ajang bagi pemilik jasa ini untuk mendapatkan penghuni baru semaksimal mungkin melalui cara konvensional dengan poster maupun media daring jasa pencari rumah kos dengan menawarkan layanan dan harga yang kompetitif. Musim maba juga banyak dimanfaatkan pedagang musiman di depan kampus yang menawarkan keperluan-keperluan masa pengenalan kampus seperti seragam putih-hitam dan segala tetek bengek atribut maba yang disyaratkan oleh senior panitia acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB).

Tentu berbeda wilayah berbeda pula kondisinya. Namun, musim maba tetap memberi kesan istimewa bagi mahasiswa baru, mahasiswa lama, dan masyarakat sekitar kampus. Entah kampus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) musim maba selalu menjadi daya tarik tersendiri, misalnya event pengenalan kampus yang spektakuler tiap tahun memberi keunikan sendiri yang selalu berkembang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Waktu & Kondisi yang Mengubah Segalanya

Tahun 2020 ini, keistimewaan musim maba dengan pengenalan kehidupan kampus untuk mahasiswa baru yang dibangun beberapa tahun terakhir harus teredam uforianya karena terdampak pandemi COVID-19. Tak lain karena kebijakan pemerintah untuk mengurangi dampak penyebaran virus corona di dalam sekolah dan kampus dengan membatasi bahkan menutup aktifitas tatap muka dan digantikan sistem pembelajaran/perkuliahan daring di semua sekolah dan kampus di Indonesia. Masyarakat pun masih was-was terhadap penyebaran virus corona yang semakin tinggi, menurut SATGAS Penanganan COVID-19 Nasional (covid19.go.id) terakhir tercatat pertambahan sejumlah 4.168 kasus baru dalam kurun waktu satu hari (19/09/20). Sehingga belum banyak orang tua atau wali yang mengizinkan anaknya untuk merantau lagi ke daerah terjangkit, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa lama. Akhirnya PKKMB sebagian besar kampus di tahun ini dilaksanakan dengan sistem daring pula.

Di Jawa Timur, kampus-kampus besar berada di tengah kota yang penyebaran covid-19-nya sangat tinggi seperti Kota Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Jember. Zona hitam, merah, dan orange masih menghantui masyarakat yang ada dan akan datang ke daerah tersebut, termasuk para maba. Apalagi data terbaru di Jawa Timur kasus penularannya sebanyak 39.993 kasus. Hal inilah juga yang mempengaruhi mahasiswa dan orang tuanya dari luar Jawa Timur.

Suasana Kehidupan Kampus Tidak Berubah

Tak hanya maba yang di galaukan oleh kondisi awal masuk mereka kuliah, hal ini juga dialami oleh mahasiswa lama yang bergerak di organisasi mahasiswa intra kampus, misalnya BEM, UKM, LSO, dsb. Aktifitas organisasi yang biasanya menjadi penyeimbang belajar di perkuliahan menjadi agak susah dalam menjalankan program-programnya. Entah berapa banyak program kerja yang tertunda maupun batal dilaksanakan karena dampak pandemi COVID-19. Serta kegiatan regenerasi seperti diklat, PEMIRA, dan pelatihan yang biasanya dilaksanakan di semester genap harus terhenti atau dialihkan ke daring karena terbatasnya aktifitas berkumpul organisasi di dalam kampus.

Selain organisasi mahasiswa intra kampus, kondisi yang sama juga dialami oleh organisasi mahasiswa ekstra kampus atau ORMEK seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Organisasi Daerah (ORDA), dan lain sebagainya. Roda gerak organisasi yang rutin dijalankan di waktu biasa terpaksa dialihkan ke kegiatan lain yang bersifat daring. Kegiatan perkaderan untuk menggaet mahasiswa baru yang dulu bisa dilakukan ketika PKKMB, ospek jurusan, sekarang dilakukan full daring. Walaupun demikian, cara kultural seperti mengajak sanak saudara, adik kelas semasa SMA yang baru menjadi maba untuk ikut ORMEK masih tetap dilakukan seperti dulu.
Namun, perubahan ini tidak serta merta menghalangi ORMEK untuk bergerak mendapatkan simpatisan dan anggota baru dari kalangan MABA. Justru kondisi sekarang ini, menyulut semangat para aktivis untuk memanfaatkan segala sumber dayanya agar mendapatkan kader sebanyak-banyaknya. Sosial media menjadi jalan ampuh yang digunakan aktivis ORMEK untuk menyajikan pancingan-pancingan manis “Yuk Ikut Organisasi Kami!”. Mulai dari instagram, facebook, youtube, sampai tiktok dibanjiri kampanye ajakan ikut ORMEK. Kontennya pun beragam, mulai dari yang paling mainstream pamer senior yang sukses menjadi tokoh nasional hingga memamerkan kadernya yang berprestasi.

Dinamika Organisasi/Rebutan Kader

Dinamika merebutkan kader seakan menjadi kegiatan musiman para aktivis ORMEK. Tak jarang aksi sambut maba oleh aktivis ORMEK diwarnai dengan gesekan antar ORMEK maupun dengan Koordinator Lapangan (KORLAP) panitia PKKMB kampus, fakultas, dan jurusan. Terkadang ada doktrin dari panitia untuk para maba agar tidak mampir ke stand dan acuh terhadap ajakan aktivis ORMEK, meskipun ada dari panitia tersebut terselip niat memonopoli maba untuk ikut ORMEK nya sendiri, kita sebut saja itu oknum, walaupun geraknya terorganisir. Hal ini lumrah dan menjadi semacam kuasa bagi aktivis ORMEK yang menjadi panitia PKKMB untuk melakukan aksinya ini. Selain aksi monopoli maba di PKKMB, ada pula oknum ORMEK yang menggunakan kekuatan asisten praktikum atau asisten dosen untuk mempengaruhi mahasiswa dengan memanipulasi nilai agar ikut ORMEK nya. Ada pula pendekatan secara paksa untuk melarang maba mengikuti segala organisasi sebelum masa ospeknya selesai. Sebenarnya aturan ini hanya dibuat-buat saja oleh panitia tanpa urgensitas dan alasan yang kuat, seakan mengurangi hak mahasiswa untuk mengembangkan skill dan intelektualitas di luar perkuliahan.

Untuk maba yang sudah menjadi aktivis semasa SMA seperti kader IPM yang masuk di fakultas yang panitia ospeknya menerapkan aturan pembatasan organisasi, tentu ini sangat mengganggu. Secara jenjang perkaderan, biasanya ketika aktivis IPM masuk kampus maka perkaderannya dilanjutkan ke IMM atau hybrid ikut keduanya. IMM yang merupakan ortom Muhammadiyah yang seharusnya memiliki pasar kader sendiri dari kalangan warga Muhammadiyah atau alumni sekolah Muhammadiyah, ternyata juga harus banting tulang mencari kader barunya. Agaknya bagi maba alumni sekolah Muhammadiyah, menjadi mahasiswa adalah dunia baru yang lepas dari perkaderan Muhammadiyah. Ada pula maba kader IPM yang enggan masuk IMM karena keberatan jika harus mengulang perkaderan dari dasar dan mencoba organisasi aktivis lain, padahal secara pergerakan tidak jauh beda justru seinduk organisasi yang sama akan lebih mudah dalam menjalankan organisasi. Namun pilihan pilah pilih organisasi baru di kampus sah-sah saja, namun pemikiran seperti ini menurut penulis mengurangi esensi meneruskan perjuangan Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya dilingkungan akademisi.

Benang Merah Ormek Pergerakan & Faedah Masuk Ormek

Penulis rasa, semua organisasi intra maupun ekstra kampus memiliki manfaat dan pengalaman uniknya sendiri-sendiri. Ketika ingin memiliki jaringan yang luas di luar kampus serta ingin memupuk jiwa aktivis dalam mengkritisi segala hal, maka organisasi mahasiswa ekstra kampus menjadi pilihannya. Jika ingin belajar politik dan pergerakan mahasiswa yang ruang lingkupnya di dalam kampus, maka organisasi mahasiswa intra kampus menjadi pilihan yang tepat. Atau pilih kedua-duanya agar kuat di dalam dan di luar kampus dalam hal pergerakan aktivis mahasiswa. Satu hal yang perlu diingat sebelum terjun ke dunia aktivis adalah tetap mengutamakan akademik sebagai tujuan awal dan utama kuliah. Jangan sampai kesibukan di organisasi menjadikan anda lalai dalam kuliah, akibatnya bukan hanya nilai mata kuliah yang berantakan tapi juga amanah kepada orang tua yang tidak dilaksanakan.

Oleh :

Rizqy Anwar Hidayatullah

Bidang Organisasi PW IPM Jawa Timur periode 2018-2020

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: