Masih Merdeka: Kemana Arah Nasib Bangsa?

Dipublikasikan oleh Yafi' Helmi pada

IPMJATIM.OR.ID – Dalam suasana perayaan kemerdekaan ini kita patut berbahagia tetapi manusia, begitu sempurna diciptakan hingga mampu melupakan hakikatnya. Dalam dunia sosial yang begitu erat kaitannya dengan ekonomi dan politik, masyarakat saat ini banyak disuguhi ideologi – ideologi cacat namun terus saja dipertahankan oleh segelintir orang. Hal ini tidak lain bertujuan untuk mempertahankan kepentingan minoritas “kaum borjuis”. Indonesia adalah negara yang semakin dewasa, namun pemikiran para pemimpinnya belum dapat menyamai segala tuntutan yang ada dewasa ini. Pada masa pemerintahan Ir. Soekarno (orde lama) tak sedikit pergolakan terjadi baik dari segi sosial, ekonomi, ideologi maupun politik. Hal ini disebabkan oleh ketakutan Ir. Soekarno terhadap perebutan kekuasaan kalangan internal pada saat itu. Hal tersebut menimbulkan pemerintahan yang otoriter. Otorisasi pemerintah menjalar hingga membuahkan berbagai perlawanan yang bersifat politik.

Pada saat itu, masyarakat hanya disuguhi berita – berita yang hanya ingin mereka dengar tanpa adanya objektifitas atau kebenaran akan fakta yang terjadi. Tak bedanya dengan orde lama, setelah lengsernya Ir. Soekarno dan digantikan oleh Presiden Soeharto keadaan tidaklah menjadi lebih baik. Banyak intelek muda dan para cendikiawan yang beranggapan bahwa diangkatnya Soeharto sebagai presiden tidak lepas dari permainan politik kotor banyak kejanggalan – kejanggalan yang ditemukan dan seakan berusaha disembunyikan dibalik peristiwa tersebut. Seperti keraguan akan keotentikan SUPER SEMAR (surat perintah 11 maret) sampai pergantian kabinet secara besar – besaran, tokoh – tokoh orde lama yang digantikan oleh tokoh – tokoh baru dibawah kekuasaan Soeharto yang juga otoriter hingga mampu menduduki kursi kepresidenan selama 32 tahun. Berkaitan dengan kegelisahan sejarah yang sampai saat ini belum mereda, pemerintah saat ini yang (katanya) telah memakai sistem demokrasi yang memihak kepada rakyat ternyata tidak dapat meaktualisasikan pernyataannya.
Dibelahan dunia lain, sistem pemerintahan yang berideologi komunis, liberalis dan sistem pemerintahan monarki jauh lebih unggul dalam berbagai bidang dan dapat mensejahterakan rakyatnya. Demokrasi saat ini seharusnya menjadi sistem paling ideal yang dapat diterima oleh masyarakat dunia (khususnya Indonesia yang dalam sejarahnya sering berganti sistem pemerintahan) dan menjadi salah satu cita – cita revolusi pada saat dahulu. Namun kenyataannya, pemerintah Indonesia saat ini tak bedanya dengan masa pemerintahan orde lama maupun orde baru. Permainan politik kotor yang terus dijalankan, pemimpin – pemimpin korupsi yang melata dibumi pertiwi semakin rakus, dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tak kunjung meningkat mengindikasikan Indonesia masih terbelakang dan bobrok akibat ulah pemimpinnya sendiri. Masyarakat awam yang tidak tahu menahu telah diracuni oleh kriminalitas dan individualisme yang tinggi.

Kebudayaan asli Indonesia seperti gotong royong, tolong menolong, toleransi, tenggang rasa, dll telah hangus dibakar arus globalisasi yang tak tersaring. Pertumbuhan ekonomi tidak bedanya dengan permainan monopoli anak – anak yang mengedepankan kesenangan dan rasa tidak bertanggung jawab serta kapitalisme. Industri yang berkembang tidak dapat menjadikan masyarakat semakin sejahtera, justru membuat masyarakat diperbudakan dan membuat Indonesia sangat bergantung pada perusahaan asing.

Peran para pemuda mulai surut. Saat ini orang tua tidak lebih seperti benteng rezim yang kejam yang melindungi generasi muda dengan cara menghalau mereka dari realitas yang ada. Namun akibat yang ditimbulkan justru lebih buruk, kemunduran mental dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat terjadi pada para pemuda. Sikap orang tua yang timbul akibat sejarah yang kelam dapat terulang kembali jika para pemuda dibiarkan seperti bebek yang dikurung dalam kandang. Dapat bersatu, namun tidak dapat bergerak. Orang tua yang seharusnya memberikan kebijaksanaan dan tuntunan terhadap para pemuda malah menjadi benteng pertama untuk dihadapi.

Terbukti dari kecenderungan para orang tua yang tidak suka jika anaknya pulang malam untuk sesuatu yang bermanfaat dan membatasi ruang gerak dan proses belajar anak dilingkungan sosialnya. Orang tua lebih senang bercerai dari pada mendengar keluhan anaknya, bahkan ironisnya akibat tuntutan kebutuhan hidup yang sulit mereka rela menjual anak mereka demi keuntungan sesaat. Para pemuda bagaikan bibit – bibit api yang siap membakar apapun. Tidak ada yang salah dari segala sikap dan perilaku yang mereka tonjolkan, karena berbagai sikap dan perilaku itu mereka dapat dari proses belajar dan sesuai dengan tingkat kesadaran dan kepahaman mereka terhadap dunianya. Bayangkan, jika saja para pemuda adalah robot tempur super canggih yang sangat hebat dalam menghadapi segala ancaman namun masih membutuhkan program untuk dipasang pada otak mereka agar mampu bergerak sesuai perintah yang ada, maka dapat dibayangkan jika saja program yang dimasukan adalah program yang mampu meperbaharui kesalahan yang ada secara cerdas, jujur dan nyata, maka niscaya pemuda akan menjadi generasi emas penerus bangsa. Namun jika program yang masuk hanya berisi permusuhan, hawa nafsu dan kebodohan maka dalam waktu yang singkat Indonesia akan kehilangan kemerdekaannya kembali.
Saat ini, banyak perdebatan sengit mengenai figur pemimpin yang ideal sebagai akbiat dari sistem demokrasi yang mulai dapat berjalan perlahan dan untuk menghadapi tantangan zaman saat pemilu nanti. Tidak diragukan bahwa di negeri ini banyak tokoh – tokoh pemimpin yang cukup baik untuk mampu memimpin bangsa kedepannya. Namun sering kali dan sekali lagi, perpolitikan yang kotor telah mewarnai persaingan antara hitam dan putih. Dalam dunia demokrasi ini, masyarakat yang paling menentukan siapa pemenangnya. Namun kebodohan dan tipu daya para pelaku politik yang menggunakan segala cara demi kemenangan membuat rakyat kesulitan melihat kebenaran yang ada. Akibatnya, sering kali segelintir orang menggunakan media demi mencapai tujuan dan merebut kekuasaan dengan cara membersihkan citra diri didepan publik dengan janji – janji dan slogan.
Sejarah telah mencatat bagaimana orang – orang yang ada sekarang turut berperan dan bertanggung jawab atas berbagai kekacauan yang terjadi dimasa lampau. Media yang tidak memiliki prinsip yang baik dapat dipergunakan sebagai senjata bagi pelaku politik pencitraan. Namun tidak sedikit pula media masa yang menyediakan informasi secara kritis, aktual dan obyektif. Namun yang aneh adalah, masyarakat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam dunia demokrasi seakan mengacuhkan semua fakta yang terjadi, bahkan tidak jarang mereka tahu akan sesatu yang sedang terjadi, namun lebih memilih berbalik arah seakan tidak terjadi apa –apa. Masyarakat seperti kehilangan jiwanya. Mereka seperti jasad kosong yang hanya menelan peristiwa sebagai berita pagi dengan secangkir kopi.

Masyarakat saat ini sangat terpaku terhadap pemenuhan kebutuhan primer dan sangat konsumtif. Hal ini juga berakibat hilangnya semangat kebersamaan dan persatuan dan berubah menjadi sifat individualisme yang tinggi. Dalam hal ini pendidikanlah yang mendapat perhatian demi menanggulangi kebobrokan mental dan akal masyarakat. Dalam pendidikan formal, seluruh peserta didik tidak lain banyak disuguhi materi – materi yang berkenaan dengan pengetahuan secara teori.

Design pendidikan saat ini berorientasi kepada hasil. Terbukti dengan adanya UN (ujian nasional) walaupun sekarang tidak digunakan untuk menentukan lulus atau tidak lulusnya peserta didik dalam menempuh jenjang pendidikannya tapi masih digunakan sebagai syarat melanjutkan ke jenjang selanjutnya .Semua demi mendapatkan nilai tinggi dan ijazah. Di tingkat SD, SMP, dan SMA kita memiliki UN dan ijazahnya, lain halnya dengan perguruan tinggi. Diperguruan tinggi kita memiliki gelar.

Di era modern yang kapitalis ini, seseorang tidak akan diakui keberadaannya tanpa 2 hal, pertama ijazah, dan kedua status sosial (dapat berupa jabatan atau harta kekayaan). Mahasiswa – mahasiswa berpendidikan digiring untuk berlomba – lomba menjadi kader penerus perjuangan kaum kapitalis dengan menjadi buruh pabrik. Saat ini dalam dunia pendidikan, sekolah – sekolah yang dapat menjamin seseorang mendapatkan suatu pekerjaan lebih diminati dibandingkan sekolah yang dapat meningkatkan intelektualitas atau moral dan karakter atau jati diri bangsa serta agama. Hal inilah yang mengakibatkan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap nasibnya sendiri dan mengakibatkan suburnya sifat individualisme dan kapitalis. Cara yang tepat untuk mengatasi semua persoalan ini ialah peran aktif para pemuda yang memiliki jiwa revolusioner serta memiliki kesantunan, kejujuran dan kecerdasan. Bukan figur pemimpin yang ideal yang saat ini dibutuhkan dalam memimpin bangsa, melainkan figur tauladan yang baik sebagai acuan serta contoh perilaku bagi para pemuda.

Di negeri ini, banyak para tokoh baik berasal dari kalangan tua maupun muda yang dapat menjadi pemimpin yang baik, namun jarang sekali ada figur yang dapat menjadi tauladan. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin memiliki peran yang vital dalam pencapaian tujuan, namun jika kita hanya berharap datangnya seorang “sopir” baru yang dapat mengantarkan indonesia yang lebih baik serta menyelesaikan permasalahan tanpa memandang kepada kekurangan diri sendiri, maka tiada nasib baik akan berpihak.

M. Rizal Arya Pratama
Bendahara 1 PW IPM Jatim


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *