Membunuh Malas

Dipublikasikan oleh Novania Wulandari pada

(oleh Faiz Rijal Izzudin)*

IPMJATIM.OR.ID – Setiap hari kita harus selalu menempatkan impian dalam hati dan pikiran. Jangan biarkan impian itu dihapus hanya karena alasan tidak mampu menggapainya. Justru, ketika ada hambatan, kita jangan cepat menyerah, melainkan harus terus berusaha mencari cara lain untuk mencapainya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “masih banyak jalan menuju Roma?”. Musuh utama seseorang yang mau bekerja keras adalah malas. Penyakit malas ini bagaikan virus yang bisa menghantam siapa saja dan mampu menggerogoti hati dan pikiran. Kemalasan menggoda manusia untuk menikmati hidup tanpa bekerja, sehingga hidup kita menjadi terkekang dan tidak teratur. Celakanya, semakin kita menuruti penyakit malas tersebut, semakin lama akan tumbuh subur dan semakin besar. Jika penyakit kemalasan ini sudah menjalar dan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam hidup kita, akan menjadi sulit disembuhkan. Oleh sebab itu, sebelum penyakit menjalar ke seluruh aspek sisi kehidupan kita, tugas kita adalah melawan kemalasan dengan berbagai cara. Contoh seperti yang sering saya lakukan adalah aktivitas membaca buku. Entah itu novel, essay, buku ceramah, artikel mading dan lain sebagainya. Seolah-olah membaca adalah menu makanan favorit yang di gandrungi se-antreo Pondok Pesantren. Ya, kebetulan lingkungan saya tinggal adalah lingkungan Pondok. Mau tidak mau ya, diatur oleh peraturan Pondok. Kesana bosen, kesini bosen mending cari tempat yang nyaman terus ambil bantal kemudian buka buku seadanya, kemudian tertidur. Serasa dunia milik kita berdua. Eeeh, malah ngelantur. Lupakan masalah itu, jadi kita harus sekuat tenaga bertekad melawan rasa malas. Jangan biarkan diri kita lemah tidak berdaya dan menjadi budaknya. Jika kita mampu melawanya, secara bertahap maka diri kita akan kebal dan menjadi kuat. jadi, mulai detik ini dimana kita berdiri, duduk, tengkurap dan berbagai macam aktivitas lainya. Kita nyatakan perang melawan kemalasan. Setuju, jelas setuju.

Coba, kita mengamati para pemain sepakbola terkenal, pasti terkagum-kagum dengan kesuksesanya. Kita hanya melihat hasil yang sudah dicapainya sekarang tanpa melihat hasil sebelum mereka menjadi terkenal. Di balik semua itu terdapat perjuanganya yang penuh dengan asam-manis kehidupan pernah mereka cicipi. Batasan bekerja keras adalah sampai usaha yang dilakukan sudah maksimal dan sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Batasan tersebut hanya kita saja uang bisa mengukurnya, yaitu melalui hati dan pikiran kita. Jika tubuh sudah mulai sakit, berarti kita butuh istirahat. Itu juga pertanda kalau tubuh kita sudah berada di ambang batas kemampuan kita. Mari kita bunuh sikap malas dengan tanpa batas.

*Penulis adalah kader PR IPM Pondok Pesantren Al-Mizan Lamongan


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *