Mencari 2 Makna Hari Difabel Internasional

Dipublikasikan oleh mochmanu pada

Dalam setiap hari peringatan hari tertentu, kita sepakat bahwa obyek yang disematkan pada hari tersebut pasti mengandung peristiwa yang penuh makna. Sudah pasti ada banyak pesan yang sengaja ingin disampaikan dan patut kita refleksikan pada hari peringatan tersebut dengan harapan dapat mengambil hikmah sehingga dapat mengarahkan kepada yang baik dan tidak berhenti pada sebelum atau sesudah hari peringatan itu saja. Pada peringatan Hari Difabel Internasional misalnya.

Mansour Fakih (Fakih, 2002) menyatakan Difabel (differntly able) atau kelompok manusia yang memiliki kemampuan berbeda adalah istilah yang sedang diperjuangkan untuk menggantikan istilah disable/disability ataupun penyandang cacat, Karena istilah tersebut mengandung stereotype negatif dan bermakna disempowering. (Satria Unggul, 2017).

Dalam konteks ini, penulis lebih memilih istilah dari Alm. Mansour Fakih ketimbang istilah disabilitas. Terlepas dari kubangan perdebatan antara difabel atau disabilitas, keduanya adalah gelar yang sama-sama disematkan kepada obyek yang sama. Pun adanya upaya memperhalus bahasa yang juga berpengaruh terhadap makna, itu adalah termasuk bagian dari upaya kita dalam mengadvokasi kelompok lemah. Tidak perlu dipermasalahkan.

Akan tetapi, penulis tidak ingin membahas tentang perbedaan tersebut. Penulis ingin melihat bahwa adanya titik temu dari para pengguna kedua istilah tersebut. Yaitu mereka sama-sama mempunyai kesadaran dan kemauan untuk meletakkan keberpihakannya terhadap kelompok difabel/disabilitas. Penulis juga berharap agar jangan sampai kita terjebak pada perdebatan penyebutan ini. Sehingga upaya advokasi kita tidak mandeg pada ranah diskusi dan wacana saja. Pun juga tidak berhenti pada tataran normatif bahwa Islam juga berpihak kepada kelompok lemah. Karena semuanya sudah selesai pada tataran konsep dalam Islam. Bahkan Rasulullah dan para sahabat sudah jauh melakukan praktik pembelaan terhadap kelompok-kelompok lemah sejak sekitar 1400 Tahun lalu. Salah satunya kelompok difabel.

Perlu kita sepakati terlebih dahulu sebelum pencarian makna ini lebih jauh. Tentang siapa sebenarnya yang benar-benar disebut difabel? Indikator apa yang bisa menyebabkan seseorang tersebut termasuk dalam kelompok difabel?. Jika kita selama ini menganggap bahwa kelompok difabel itu adalah manusia dalam tanda kutip mempunyai sesuatu yang tidak berfungsi dengan baik pada tubuhnya, itu belum sepenuhnya benar. 

Secara garis besar, solusi untuk memberdayakan teman-teman difabel (jika indikatornya dari jasad) adalah menyediakan aksesibilitas yang cukup. Meski disekitar kita belum bisa dikatakan selalu ada, salah satu poin penting yang perlu dijadikan pelajaran adalah bagaimana dengan terbatasnya akses ini teman-teman difabel tetap mampu berkontribusi untuk kemajuan dirinya dan sekitarnya.

Selain itu, kita sebagai non-difabel, berkewajiban memberikan mereka hak kemerdekaan dalam 3 hal. Yaitu, merdeka dari ADL (activity daily living/ aktifitas hidup sehari-hari), merdeka dari pengampuan, dan merdeka dari stigma.

Merdeka dengan ADL, dalam perang Vietnam, mengapa tentara Amerika bisa kalah? Ya, dalam artikel yang pernah saya baca, dalam perang tersebut tentara Vietnam lebih banyak membuat tentara Amerika terluka bukan membunuhnya. Mengapa? Karena dari 1 tentara yang terluka akan merepotkan 2 yang lain. Lalu, apa hubungannya dengan disabilitas dan ADL? Sebelum saya paparkan, mari simak data berikut. Menurut WHO 2012, jumlah penyandang disabilitas mencapai 24 juta jiwa, sedangkan Berdasarkan penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia pada akhir tahun 2016 estimasi jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 12.5 % dari jumlah populasi atau hamper 30 juta jiwa. Nah, bayangkan saja, jika 30 juta penyandang disabilitas di Indonesia tidak berdaya atau tidak mandiri, dan jika 1 orang disabilitas tidak berdaya akan merepotkan 2-3 orang yang lain, maka sekitar 60-70 juta orang non disabilitas di Indonesia akan direpotkan. Untuk itu, disabilitas juga perlu menguasai ADL agar dapat melakukan kewajiban yang sama seperti yang lain. Alangkah baiknya jika disabilitas tidak hanya mampu berprestasi secara akademik atau pun non akademik namun juga mampu mandiri untuk melakukan aktifitas sehari-hari seperti bepergian sendiri, memasak sendiri, atau bermain gadget.

Merdeka dari pengampuhan, Pernahkah kita melihat disabilitas yang tidak diperkenankan melakukan pekerjaan rumah oleh keluarganya? Ya, pasti kita sering mengetahui. Jika hal ini dilakukan terus-menerus, jika disabilitas terus diampuhkan atau dijaminkan, maka jangan salahkan jika mereka akan merepotkan lingkungan sekitarnya atau bahkan stigma masyarakat tentang disabilitas akan tetap negative. Menyayangi anak itu diharuskan namun menyayangi anak dengan cara yang salah akan membuat anak tidak akan berkembang dan akan merugikan mereka disaat orangtua sudah tiada karena mereka tak mandiri. Siapa sih orang yang mau direpotkan terus-menerus? Pasti tidak ada, oleh karena itu, sudah saatnya disabilitas diberikan kesempatan dan dilatih untuk mandiri melakukan aktifitasnya.

Merdeka dari stigma, tidak bisa dipungkiri bahwa stigma masyarakat tentang disabilitas masih negative. Banyak yang menganggap disabilitas adalah orang yang tak berdaya melakukan sesuatu dan harus dikasihani. Tak salah, memang yang mereka lihat begitu. Untuk itu, sudah saatnya sebagai disabilitas kita berlomba-lomba bersosialisasi dengan masyarakat dan mulai menciptakan sebuah peluang untuk membangun stigma masyarakat yang lebih baik dalam memandang disabilitas. Sebagai orang yang awam, mungkin kita akan heran jika melihat difabel netra bepergian sendiri, bermain gadget, atau difabel lainnya yang melakukan sesuatu yang kita anggap tidak mungkin dapat dilakukan mereka. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan di dunia ini, semua bisa dilakukan asal ada kemauan dan usaha. Seperti momentum HDI kali ini, sudah saatnya kita membantu penyandang disabilitas memperoleh kesempatan untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Adanya regulasi baru tentang penyandang disabilitas tak lantas membuat disabilitas hanya menuntut dan akhirnya menjadikan pemerintah sebagai pemberi janji-janji, namun mari, saatnya kita menciptakan peluang, memberikan ladang pekerjaan untuk sesame. (Alfian Andhika, 2017)

Nah, lantas bagaimana ketika kita menempatkan indikator seseorang dikatakan difabel itu diukur dari hal-hal yang bersifat ruhaniah? Jika saja kita membahas manusia secara fair, maka kita akan mendapati 2 komposisi yang ada pada diri manusia. Yaitu jasad dan ruh. Seringkali kita tidak menyadari bahwa, ketidak fungsian yang sesungguhnya adalah ketika tidak berfungsinya perangkat ruh kita dengan baik. Yaitu Akal, hati, dan nafsu.

Sebagai contoh, jika gelar difabel netra disematkan kepada manusia yang matanya (secara jasad) tidak berfungsi dengan baik, lantas gelar apa yang layak disematkan kepada manusia yang mata jasadnya bisa melihat tetapi mata hatinya tidak berfungsi dengan baik? Di dalam surat Al-Baqarah ayat ke 7 dan 18 telah dijelaskan, walaupun pancaindera “mereka” sehat, akan tetapi mereka dipandang rungu, wicara dan netra oleh karena tidak dapat menerima kebenaran dan kebaikan. Karena pancainderanya terbiasa menerima keburukan-keburukan, tangan dan kakinya sudah terbiasa bergerak kepada keburukan-keburukan.

Apakah seorang koruptor mempunyai organ jasad dan ruh yang berfungsi dengan baik? Sepakat atau tidak, jika jasadnya baik, maka organ ruhnya mati. Kecuali nafsu. 

Ada orang-orang yang pendengarannya normal, akan tetapi ketika mendengar panggilan adzan, mereka tetap asik melakukan aktivitas duniawi, ada orang-orang yang tangan dan kakinya mampu berjalan secara normal tanpa ada kesulitan. Tapi ia menjadi berat bahkan lumpuh ketika diajak kepada hal-hal yang berorientasi kebaikan. Seperti menghadiri majelis ilmu, dan terlebih ketika diajak melaksanakan sholat. Ada orang-orang yang secara jasad dan ruh, ia hidup normal. Akan tetapi ia menjadi sulit sekali untuk mendekat dan menyambungkan jiwanya kepada Allah.

Akan tetapi, ada juga orang-orang yang memang sengaja Allah hindarkan dari segala maksiat. Dengan cara mencabut fungsi dari salah satu atau beberapa alat indera yang manusia pada umunya miliki. Secara jasad, mungkin mereka tidak berfungsi secara maksimal. Ada orang-orang yang tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan matanya. Tapi mereka mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan jiwanya.

Orang-orang yang dalam kesehariannya terhiasi dengan keburukan-keburukan dalam jiwanya, ia tidak akan mudah untuk melakukan hal-hal yang mengarah kepada kebaikan-kebaikan. Karena pada dasarnya sifat-sifat kebaikan yang kita miliki itu tidak akan mampu muncul secara bersamaan dengan sifat-sifat keburukan. Dan sifat-sifat buruk itulah yang membuat kita terhijab dengan rahmat Allah. Konsekuensinya adalah menjadikan mata hati kita mati. Pendengaran hati kita menjadi mati. Suara hati nurani kita menjadi mati. 

Maka mustahil orang-orang yang hatinya didominasi oleh keburukan, dan bersamaan dengan itu akan mucul sifat-sifat kebaikan. Begitu juga sebaliknya. Layaknya senyawa air dan minyak. Kedua senyawa tersebut tidak akan bisa bersatu didalam ruang tertentu. Begitu juga dengan sifat baik dan buruk. Bagaikan halal dan haram. Bagaikan timur dan barat yang tidak berujung dan tidak mempunyai titik temu.

Secara jasadiah kita semua berpotensi untuk menjadi difabel. Dan kita diwajibkan untuk mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah kepada kita hari ini. Belum tentu kita yang non difabel lebih beruntung ketimbang mereka yang difabel. Bisa jadi Allah tidak mengizinkan teman-teman difabel untuk bermaksiat dengan pancainderanya, Allah tidak izinkan kaki dan tangannya melakukan serta melangkah kepada tujuan yang tidak di ridhoi Allah. Dengan tujuan Allah mengangkat derajatnya dengan cara membuat pancaindera dan organnya tidak berfungsi dengan baik seperti kita yang non difabel.

Hemat penulis, peringatan hari difabel ini tidak melulu kita maknai dengan pemaknaan jasadiah saja. Akan tetapi juga refleksi ruhaniah. 

Lantas, bagaiamana solusi bagi orang-orang yang mempunyai jasad yang normal, akan tetapi ada sesuatu didalam ruhnya yang tidak berfungsi dengan baik? Atau jangan-jangan kita adalah salah satunya? 

Maka, di hari peringatan difabel internasional ini, dengan segala kerendahan hati, penulis mengajak kita semua bertaubat secara massal kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. Innallaha Ghafuurrahiim.

*Penulis adalah Iman Permadi. Aktif didalam bidang advokasi IPM Jawa Timur. Juga  sedang menempuh pendidikan S1 Studi Agama-Agama di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Kategori: Features

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *