Lompat ke konten

Mengapa Kita Membutuhkan “Masyarakat Ilmu” ?

IPMJATIM.OR.ID – Lebih dari 11.000 ilmuwan baru-baru ini mendesak tindakan lebih cepat terhadap perubahan iklim , tetapi menurut hasil survei bahwa 16 persen publik Amerika Serikat terus menyangkal bahwa perubahan iklim hanyalah omong kosong belaka, dan 63 persen orang Amerika jarang atau tidak pernah membahas pemanasan global dengan rekan-rekan mereka. Sebuah studi di Denmark baru-baru ini menunjukkan keamanan yang luar biasa dari vaksin dengan memaparkan ancaman besar dari campak dan penyakit lain yang dapat dicegah secara global. Namun ironisnya gerakan “anti-vaksin” ini tetap menguat.

Kesalahpahaman ilmu pengetahuan dan kesediaan mempercayai informasi yang tidak ilmiah tidak hanya memengaruhi kesejahteraan individu, tetapi juga kebijakan utama pemerintah yang memengaruhi semua orang, diperlukan pendekatan pendidikan sistemik yang baru. Kita perlu melakukan pekerjaan berat yang lebih baik untuk menyukao semua orang menjadi “masyarakat ilmu”.

Masyarakat ilmu harus dapat menerapkan penalaran ilmiah dan pemikiran kritis untuk membuat keputusan pribadi mereka secara akurat dan untuk menavigasikan kegilaan dari siklus berita-berita di era pasca-modern. Mereka harus dilengkapi bekal dan senjata intelektual untuk digunakan dalam menganalisis informasi ilmiah dalam rangka menentukan pilihan serta untuk berpartisipasi secara efektif dalam mendeterminasi keputusan pemerintah tentang kebijakan lingkungan, kepedulian kesehatan dan berbagai masalah lainnya.

Masyarakat ilmu juga harus memiliki pemahaman bawaan dan kepercayaan pada institusi sains. Penulis tidak bermaksud bahwa masyarakat secara buta harus mempercayai apa pun yang berlabel ilmu pengetahuan. Sebaliknya, mereka harus memahami bahwa sains adalah skema yang rasional dan berbasis bukti untuk memahami dunia dan bahwa institusi ilmiah memegang anggotanya pada standar validitas dan kejujuran data yang ketat dalam pekerjaan mereka.

Dalam menyerukan masyarakat ilmu, penulis tidak bermaksud menyamakan dengan “menjadi ilmuwan” yang professional. Jika ilmuwan membantu peneliti mengumpulkan data dan karena itu merupakan bagian penting dari infrastruktur masyarakat ilmu. Sementara masyarakat ilmu berkontribusi pada populasi yang lebih terpelajar. Masyarakat ilmu harus menjangkau mereka yang tidak berminat untuk terlibat langsung dalam proses atau kegiatan-kegiatan ilmiah.

Sebaliknya, penulis menggunakan istilah masyarakat ilmu untuk mengartikulasikan tujuan mendidik sebanyak mungkin masyarakat menengah ke bawah untuk menjadi terampil dalam mengkonsumsi informasi ilmiah, membentuk pendapat rasional berdasarkan informasi tersebut, dan menggunakan serta menganalisisnya untuk membantu mendukung dan menginformasikan keputusan kebijakan pemerintah yang kritis. Keterampilan ini dapat mencegah masyarakat menjadi lebih tenang dan bijaksana dalam menyikapi segala informasi yang beredar, lebih lagi informasi yang kontroversial.

Kebijakan sering melibatkan interaksi sains yang kompleks dengan hukum, ekonomi, etika, dan faktor-faktor lain yang sarat dengan nilai di mana menghasilkan keputusan yang berbeda. Fisikawan nuklir Alvin Weinberg menyebut ini sebagai “trans-sains”.
Alvin mengatakan:
“Saya hanya berharap bahwa masyarakat ilmu akan memahami sains sebagai dasar dengan cara yang lebih canggih dalam mencapai pendapat yang mungkin masih berbeda berdasarkan pada nilai dan perspektif pribadi”.

Siklus berita yang serba cepat dan seringkali hiperbolik mencegah masyarakat dari pengembangan dan pemahaman yang lebih akan isu-isu ilmiah. Hal ini mengurangi peluang bagi para ilmuwan dan komunikator sains untuk menyajikan informasi lebih mendalam. Meskipun banyak temuan ilmiah dapat diolah menjadi tajuk berita menarik dengan sinopsis 280 karakter, ringkasan sederhana tersebut membuat masyarakat kurang memahami hasil riset ilmiah dan implikasinya. Masyarakat yang berpikir secara ilmiah dan kritis dapat melawan pola media seperti ini dalam beberapa dekade mendatang dengan bersikukuh kepada jurnalisme sains yang lebih menyeluruh. Masyarakat ilmu akan lebih siap untuk meneliti subjek secara mandiri dan mengembangkan informasi yang lebih baik serta lebih bernuansa dalam menyikapi berbagai hal, dari kebijakan publik hingga isu individual.

Untuk mendidik masyarakat ilmu, pendidikan sains harus meningkat di semua tingkatan. Meskipun fokus terbaru pada pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menunjukkan bahwa sistem pendidikan Amerika sedang berupaya meningkatkan literasi sains. Tidak cukup hanya dengan menargetkan siswa ditakdirkan untuk berkarier di bidang sains dan pendidikan. Pendidikan sains harus menumbuhkan dan mendorong keterampilan berpikir kritis pada semua siswa sejak mulai dari usia dini. Kurikulum “masyarakat ilmu” akan memprioritaskan penerapan pemikiran ilmiah dalam membuat skenario real world sebagai pengganti hafalan, menekankan desain eksperimental, pengalaman langsung dengan analisis data, pemikiran kritis, dan pemahaman etika ilmiah.

Namun, mengingat kegagalan masa lalu dalam pendidikan sains, upaya tidak boleh terbatas pada anak sekolah saat ini dan generasi mendatang. Kita juga perlu mengembangkan dan meningkatkan inisiatif pendidikan berkelanjutan untuk masyarakat yang tidak berusia sekolah dan menggencarkan kampanye publik untuk meningkatkan literasi sains yang luas. Terutama mengingat dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang semakin menganga di depan mata. Upaya untuk menciptakan masyarakat ilmu juga harus memprioritaskan pemrograman di masyarakat marjinal.

Para ahli percaya bahwa peningkatan pendidikan akan mengurangi peningkatan disfungsionalitas dalam pemerintahan kita. Misalnya, jika rata-rata masyarakat tidak memahami peran penting pengadilan dalam meninjau konstitusi, mereka tidak dapat memahami mengapa serangan terhadap peradilan independen sangat berbahaya bagi demokrasi kita. Hukum terlalu remeh jika hany diserahkan kepada pengacara saja.

Dan akhirnya sains terlalu penting jika hanya diserahkan pada ilmuwan saja. Seperti halnya kita perlu menghidupkan kembali pendidikan holistik untuk membantu memulihkan pemerintahan yang demokratis, kita perlu memastikan bahwa setiap orang menerima pelatihan yang memadai dalam penalaran dan analisis ilmiah untuk berpartisipasi secara efektif dalam serangkaian keputusan-keputusan penting yang melibatkan ilmu pengetahuan. Populasi masyarakat ilmu adalah populasi yang dapat berkembang, baik secara komunal maupun individual, melalui kemajuan yang didorong oleh bukti-bukti konkret dan progresivitas nilai-inklusif.

Oleh:

Nashir Effendi

Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Jawa Timur periode 2018-2020

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: