Meraba Keberadaan Kuda Troya Menjelang Musyawarah Wilayah IPM Jawa Timur

“Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, kau harus bersabar dengan apa yang kau benci”. (Imam Ghazali)

Diadakannya musyawarah dalam organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tentu saja memiliki tujuan khusus yaitu untuk mengakomodir setiap pendapat sehingga tidak ada yang boleh merasa dirugikan, sehingga makna tersirat dari adanya sebuah musyawarah adalah agar mencegah jangan sampai terjadi sebuah perpecahan. Namun, fakta lapangan justru memperlihatkan bahwa perpecahan di IPM lebih banyak terjadi pada event musyawarah daripada event lainnya, saya rasa sudah tak perlu lagi memaparkan data terkait hal itu karena pastinya hampir semua pembaca pernah menjumpai fenomena tersebut. Dengan kata lain, musyawarah bukan mengakomodir perbedaan namun justru menghasilkan perebutan kekuasaan dan kepentingan. Mendadak kader IPM bertransformasi menjadi seorang politisi yang lincah dengan kemampuan lobbying, membangun koalisi, menciptakan narasi, bahkan tidak segan untuk saling menyingkirkan dan menebarkan fitnah satu sama lain.

Pendidikan politik memang harus diajarkan kepada para pelajar meskipun tidak membahas perihal teknis, namun bukan berarti ketika seorang kader IPM tersebut mempraktikkan politik praktis lantas juga menanggalkan identitas sebagai pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil. Jadilah seorang politisi yang santun dan terhormat dengan mengedepankan nilai serta moral, sehingga dapat meminimalisir sebuah tindakan yang seakan menghalalkan segala cara hanya untuk meraih sebuah kekuasaan.

Niccolo Machiavelli dalam bukunya yang fenomenal “Il Principe” menjelaskan secara gamblang tentang bagaimana orang baik ketika berada di tengah-tengah orang jahat maka si baik mau tidak mau harus belajar bagaimana caranya menjadi orang jahat juga untuk bisa bertahan dan mengamankan kedudukannya. Tidak sedikit juga dijumpai secara tidak langsung ada kader IPM machiavellian yang mempunyai pemikiran demikian. Tentang membangun narasi, kaum pelajar adalah kaum yang terdidik dan diharuskan untuk menggunakan ilmu sebagai dasar dari segala yang hendak dilakukannya, maka akan sangat memalukan ketika ada kader IPM yang hanya mengandalkan narasi-narasi yang menjelek-jelekkan dan berbau perpecahan. Bisa dibilang pelaku narasi kebencian adalah orang yang tidak kreatif dan terbatas daya pikirnya sehingga tidak mampu menjangkau kacamata yang lebih luas lagi, maka bisa kita maklumi saja mereka ini sebagaimana kita memaklumi kelakuan dari para buzzer pemerintah selama ini.

Musyawarah memang tidak selalu berakibat pada hal yang negatif, namun juga banyak dampak baik yang tidak bisa kita pungkiri seperti melatih kader IPM agar bersikap demokratis, memeroleh banyak sudut pandang dari masing-masing daerah, dan yang paling klasik adalah mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Selain itu, banyak juga dijumpai sikap semu atau yang ditampakkan seakan baik di depan namun di belakang justru sebaliknya, fenomena kemunafikkan seperti inilah yang saya artikan dengan sebutan “Kuda Troya”. Istilah Kuda Troya (Trojan Horse) diambil dari peristiwa Perang Troya yang melibatkan antara Pasukan Yunani yang menyerbu Kota Troya dengan menggunakan sebuah strategi tipu daya, sehingga istilah Kuda Troya menjadi populer untuk dijadikan sebuah analogi tentang mengundang musuh ke tempat yang seharusnya dilindungi. Singkatnya, meskipun Jawa Timur ini tradisinya adalah seduluran, namun dalam politik tentu saja hal tersebut tidak akan berpengaruh secara signifikan jika tetap ada serigala berbulu domba.

Musyawarah adalah sebuah kegiatan yang sakral, apa lagi untuk IPM sendiri, maka dari itu harapannya mulai hari ini hingga sampai berakhirnya Musywil Jatim nanti tidak sampai menjumpai adanya Machivaellian, Sengkuni, atau Kuda Troya dalam pergulatan Musywil IPM Jawa Timur ini sehingga meskipun kader IPM melakukan politik praktis namun setidaknya kader-kader IPM ini bisa dibedakan dengan para politikus sekarang yang kita semua juga tahu bagaimana perilaku mereka.

M. Harish Ishlah

Tinggalkan Balasan