Lompat ke konten

Merasa Merdeka, Bebas Saja Tak Punya

Bulan Agustus menjadi momen istimewa bagi masyarakat Indonesia. Momentum memperkuat refleksi diri secara individu serta sebagai individu dalam satu keutuhan bangsa, yakni bangsa Indonesia. Momentum kemerdekaan selalu menjadi hal yang istimewa bagi segenap warga negara tercinta ini. 74 tahun bangsa Indonesia merdeka sejak diproklamirkan oleh Founding Father negara kita.

Menuju hari besar bangsa Indonesia tersebut, tentu tak semulus yang dibayangkan oleh kita sekalian. Perbedaan pendapat, penentuan keputusan yang berat hingga pertarungan internal para pelaku sejarahnya menjadi hal yang patut kita ilhami bersama. Bahwa pemaknaan kemerdekaan bukan hanya sekedar bersenang-senang dan meneriakkan kata “merdeka” secara keras dan lantang. Namun ada peristiwa dialektis yang tentunya kita sebagai penerus bangsa harus menjadikan hal tersebut sebagai inti dari terbentuknya bangsa Indonesia saat itu.

Dari sudut pandang yang lain, bulan agustus tahun ini juga merupakan hari istimewa bagi umat muslim di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Hal tersebut dikarenakan tepat di bulan agustus tahun ini diperingati pula hari raya idul adha. Suatu simbol kemerdekaan transendental yang diperingati umat muslim seluruh dunia sebagai wujud taqwa kepada Allah SWT. Dalam perjalanan panjang umat islam, idul adha menjadi momen penting bahwa manusia harus terbebas dari belenggu apapun di luar kehendak sang ilahi. Melalui ketakwaan yang tinggi itu, maka segala hambatan yang membuat manusia terpenjara dari hal lain selain kuasa tuhan, menjadi berkah tersendiri bagi manusia.

Peristiwa sa’i Siti Hajar demi menyelamatkan alam dari kekeringan berbuah manis berkat petunjuk-Nya saat itu. Muncullah air zam-zam yang merubah kehidupan disekitarnya setelah perjuangan panjang mereka. Kedua, berakhirnya cobaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail yang akhirnya diberi petunjuk dengan menyembelih seekor kambing sebagai pengganti. Di tengah-tengah penyembelihan itu, Nabi Ibrahim diberi cobaan dengan bisikan-bisikan yang membuatnya seakan kejam dan tidak berperikemanusiaan. Akhirnya, Ibrahim AS melemparinya dengan batu kecil dan kita sebagai umat muslim memperingati hal serupa denngan lempar jumroh ketika sedang menunaikan ibadah haji.

Bagaimana jika kalian sebagai warga Negara Indonesia sekaligus sebagai umat muslim didalamnya? Merdeka kuadrat lah kalian akan rasakan di tahun ini. Hehehe. Bagaimana dengan yang non muslim namun sebagai warga Negara Indonesia yang sah? Tentu menjadi istimewa ketika kita bisa saling berbagi kebahagiaan di waktu yang sama. Merayakan segenap kemerdekaan sebagai wujud keberagaman bangsa Indonesia. Setidaknya momen ini menjadi pemersatu bagi kita untuk bisa saling berbagi kepada sesama.

Menjadi merdeka apa sudah tentu menjadi manusia yang bebas?
Makna merdeka menjadi bias ketika segenap warganya hanya menganggap hal tersebut sebagai perayaan tanpa pemaknaan penuh dan utuh didalamnya. Menjadi sebatas seremonial yang tak berdampak apapun atas kedewasaan bangsa ini, terkhusus juga bagi kita segenap warga Negara. Ibarat sedang beribadah, kita hanya melakukannya atas dasar menggugurkan kewajiban. Bukan karena sebagai wujud cinta mendalam atas segala apa yang diciptakan-Nya. Mungkin juga bisa diibaratkan ketika sedang berulang tahun, kita malah menjadikan hal tersebut sebagai perayaan sekali namun tak berarti. Membuang segala tenaga, pikiran, dan harta hanya untuk hal yang tak bernilai.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merdeka berarti bebas dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya; berdiri sendiri; lepas dari segala tuntutan; tidak bergantung pada pihak lain. Apabila meminjam istilah Prof. Drikarya subjek yang merdeka itu harus punya kekuasaan untuk menguasai diri sendiri dan perbuatannya. Kemerdekaan bagi seorang atau sebuah bangsa tidak boleh berlawanan dengan hakikat kemanusiaan itu sendiri. Menurut Bung Karno, kemerdekaan ialah sebuah jembatan emas. Hal ini diperkuat dengan istilah berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri yang disampaikan pada pidatonya pada peringatan HUT RI tahun 1965. Baginya selama rakyat belum mencapai kuasa politik atas bangsanya sendiri, maka sebagian atau semua aspek kehidupannya baik dari aspek sosial, ekonomi, dan politik diperuntukkan bagi kepentingan bersama dan tidak berlawanan dengan kepentingan bersama tersebut atas nama sebuah bangsa.
Kemerdekaan bukan sekadar kebebasan. Meski identik, keduanya punya tujuan dan esensi yang berbeda. Kebebasan lebih menonjolkan partisipasi secara bersama untuk tujuan bersama pula. Kebebasan menjadi prasyarat terbentuknya manusia yang merdeka, bahkan bagi sebuah bangsa. Unsur bebas dalam hal ini harus terpenuhi agar hakikat merdeka menjadi utuh dan sempurna.

Secara teologis, kebebasan dikemukakan oleh Ashgar Ali Engineer dalam bukunya islam dan teologi pembebasan bahwa pembebasan merupakan teologi kontekstual yang menekankan kebebasan, persamaan, keadilan, serta menolak penindasan, penganiayaan dan ekploitasi manusia oleh manusia. Hal ini bertujuan agar terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter. Pembebasan ini dikemukakan sebagai refleksi atas pengalaman konkrit manusia. Setiap agama merupakan praksis pembebasan yang membela kepentingan manusia dan untuk mengangkatnya kepada derajat yang paling tinggi. Makna kebebasan ini berarti bergerak menuju ke yang sublim, demi transendensi diri dalam kehidupan dan pencarian untuk mengaktualisasikan potensi-potensi yang lebih tinggi. Kebebasan merupakan suatu simbol ekspresif dari kemuliaan makhluk yang bernama manusia.

Ashgar Ali Engineer menyatakan bahwa meskipun Tuhan membuat batasan-batasan namun manusia tetaplah makhluk yang bebas. Manusia bebas untuk mentaati batasan atau ketentuan-ketentuan Tuhan pada satu sisi dan melanggarnya pada sisi yang lain. Manusia, karena itulah sebabnya ia dimintai pertanggungjawaban. Manusia harus mempertanggungjawabkan kebebasannya, apakah ia taat atau melanggar.

Dalam prakteknya, manusia memilih jalan dehumanisasi sehingga menjadikan manusia lain sebagai objek dan terjebak dalam situasi penindasan. Dampaknya mayoritas manusia tak memiliki kesadaran dan tak berdaya. Hasilnya mereka bukan menjadi manusia yang bebas karena terbelenggu dengan sistem yang membodohi. Hal ini menjadi titik tumpu pemikir freiran atas pemikiran Paulo Freire yang menginginkan manusia menjadi makhluk yang bebas. Maka dari itu, prinsip humanisasi menjadi hal utama untuk membangun kesadaran setiap manusia.

Di Indonesia, Kuntowijoyo dalam pemikirannya tentang ilmu sosial profetik menjelaskan terkait 3 aspek penting demi terwujudnya kebebasan manusia. Diantaranya ialah, liberasi, humanisasi dan transendensi. Liberasi berarti manusia terbebas dari belenggu manusia yang lain. Diantaranya diakibatkan oleh hegemoni kesadaran semu atau palsu melalui sistem pengetahuan, sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang membelenggu. Seperti ajaran mitos, sistem pemerasan dan kemiskinan struktural yang menjadi dominasi struktural yang membelenggu.

Humanisasi berarti upaya untuk memanusiakan manusia. Posisi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang terbebas dari segala penindasan, maka tidak boleh ada penindasan dalam bentuk apapun yang membuat manusia dieksploitasi dan mendegradasi dirinya sendiri. Transendensi ialah tujuan akhir sebagai upaya mengarahkan tujuan hidup manusia untuk kembali kepada nilai-nilai ketuhanan yang hakiki. Hal ini sebagai manifestasi atas nilai-nilai ketuhanan untuk menemukan prinsip kemanusiaan yang bermakna dan berguna bagi manusia yang lain. Dalam arti lain, hal ini sebagai wujud cinta manusia sebagai makhluk Allah agar menjadi bebas dengan hal-hal lain kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mansour Fakih menggambarkan manusia yang sadar dengan 4 aspek yang menjadi landasan berfikirnya. Kesadaran magis, naif, fanatik dan kritis. Kesadaran kritis menjadi titik akhir dimana manusia dinyatakan bebas karena telah berdaya dan menunjukkan kapasitasnya sebagai manusia yang sadar akan kedudukannya. Kesadaran kritis menjadi kemampuan utama manusia untuk memberikan solusi atas segala permasalahan yang ada. Sehingga, manusia mampu mengembangkan dirinya, menyuarakan pendapat, dan mampu berkontribusi bagi peradaban suatu bangsa.

Peran pemuda dalam kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan menjadi momen sakral bagi seluruh masyarakat Indonesia. Di dalamnya terdapat beragam perayaaan sebagai wujud “dzikir” atas peristiwa besar sejak tahun 1945 tersebut. Menjadi menarik ketika terpikir bahwa perayaan yang dilakukan oleh kita sebagai warga negara apakah masih dalam koridor peringatan hari istimewa tersebut? Tentunya bagi kita pemuda Indonesia yang menjadi tonggak utama peradaban bangsa di masa depan. Terlebih jumlah kita para pemuda lebih besar dari generasi yang lain.

Jika sekedar perayaan seremonial yang nirsubstansi, maka sia-sia apa yang telah kita perbuat untuk memajukan peradaban bangsa. Sekalipun menarik untuk menjadi bahan tontonan bagi masyarakat. Selebihnya, ialah bagaimana diri kita bisa benar-benar merdeka dan bebas sebagai manusia. Sehingga bisa memanusiakan manusia dalam menjalani hidup sebagai warga negara.

Budaya pop yang menjajah pemikiran kaum muda sehingga mengakibatkan perilaku konsumtif yang membuat kita semakin tidak produktif dalam menjalani kehidupan. Terlebih lagi nilai-nilai barat yang merasuk kemudian menghilangkan budaya asli bangsa kita secara perlahan. Hal ini tanpa disadari membuat pemuda di Indonesia menjadi warga negara Indonesia dengan dasar pemikiran asing yang menjajah. Terkait kemiskinan yang semakin meluas, menjadi perbincangan yang tak pernah habis pembahasannya. Menjadi inlander atau robot bagi bangsa lain yang kita justru menikmati keadaan tersebut. Terutama soal disintegrasi bangsa yang mengakar dalam kehidupan kita bersama. Banyak aspek lain yang harus kita perbaiki demi mempersiapkan Indonesia yang benar-benar merdeka dengan manusia yang bebas dari belenggu-belenggu penindasan.

Hal penting agar Indonesia bisa menjadi berdikari ialah dengan mempersiapkan para pemudanya agar lebih produktif kedepannya. Diperlukan pembentukan kualitas kepemimpinan para pemuda agar siap memajukan bangsa. Daya kreatif pemuda diharapkan mampu menjadi pencerah dalam kehidupan berbangsa agar tidak semakin tertinggal. Etos kolaborasi yang menjadi prinsip manusia untuk hidup bersama harus semakin mengakar agar seluruh pemuda Indonesia tersadar akan fungsinya sebagai warga negara. Terutama dengan perkembangan zaman yang semakin cepat, digitalisasi yang merubah wajah peradaban menjadi berbeda dengan sebelumnya. Menjadi salah satu hal utama mengapa pemuda harus diberdayakan. Era disrupsi, revolusi industry 4.0 menuju 5.0, internet of things, dan artificial intelligence sebagai tumpuan peradaban hari ini menjadi fokus pemuda untuk mengembangkan bangsa. Maka, kaum muda harus selalu menjadi generasi pembelajar agar tidak tertinggal dari bangsa lain.

Terakhir, kemerdekaan ialah jalan menuju sebuah pembebasan manusia seutuhnya. Kemerdekaan harus dimaknai positif dan berdasar akan substansinya. Manusia menjadi bebas agar kemerdekaan dapat kita raih seutuhnya. Upaya tersebut menjadikan manusia memiliki kesadaran agar bangsa Indonesia turut berkontribusi dalam kemajuan semua umat manusia. Sehingga, kita bukan menjadi bangsa yang terjebak dalam hingar-bingar semata dalam perayaan kemerdekaan yang semu, bukan hanya menjadi ekor peradaban, namun mejadi nakhoda yang diterjal ombak paling besar. Sehingga kita menjadi manusia bebas demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang sebenar-benarnya.

Muflih Ramadhani, S.H
Sekretaris Umum PW IPM Jawa Timur
Alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: