Merawat Kemerdekan Bak Rumpun Bambu

Dipublikasikan oleh media jatim pada

Kemerdekaan Indonesia menyimpan arti dan makna yang mendalam. Betapa tidak, berabad-abad negara Indonesia dijajah oleh kolonial yang rakus dan serakah akan dunia, mulai dari Portugis, Spanyol, Inggris, Verenigde Oostindische Compagnie (VOC), Belanda, hingga Jepang.

Masyarakat Indonesia pada masanya dibuat hidup ala kadarnya dengan kehidupan serba terbatas dan jauh dari kemewahan. Hidup dengan rasa takut, makan dan tidur tak pernah tenang. Hidup hanya memikirkan bagaimana caranya untuk makan esok hari, tanpa memikirkan pendidikan. Hanya sebuah celurit yang menjadi khas masyarakat Indonesia untuk melawan senjata-senjata modern para kolonial.
Masa pahit disaat bangsa Indonesia dijajah oleh pasukan Belanda dan Jepang, sampai akhirnya Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya. Masa itu sudah berlalu kurang lebih 72 tahun silam. Saat ini bangsa Indonesia sudah merdeka dan banyak mengalami kemajuan dalam segala bidang. Kemerdekaan memang memerlukan perjuangan dan tidak sedikit memakan korban. Lalu, setelah merdeka apa yang kita lakukan sebagai bangsa Indonesia dengan kemerdekaan itu?

Memaknai Kemerdekan
Merdeka itu apa sebenarnya? Apakah merdeka itu identik dengan kebebasan? Lalu, apakah masyarakat Indonesia benar-benar sudah merdeka?
Lismanto, seorang cendekiawan kelahiran Kabupaten Pati, Jawa Tengah membagi kemerdekaan menjadi dua kategori, yaitu: kemerdekaan formal dan kemerdekaan substansial.
Kemerdekaan formal adalah kemerdekaan yang diperoleh suatu negara, baik secara de facto maupun de jure. Artinya, syarat-syarat suatu negara untuk dikatakan merdeka sudah didapatkan.
Kemerdekaan substansial adalah kemerdekaan suatu negara yang benar-benar berdaulat di berbagai bidang, baik bidang politik, ekonomi, pendidikan, budaya, teknologi, hukum, dan sebagainya. Dalam kemerdekaan substansial, bangsa tidak terikat dengan perjanjian atau hal-hal yang membuatnya tidak berdaulat secara penuh.
Sesudah merdeka, bangsa Indonesia seakan lupa jati diri mereka. Mereka tidak lagi memaknai kemerdekaan sebagai suatu hal yang berharga. Buktinya, kemerdekaan yang sudah susah payah didapatkan kini mulai tidak dirawat. Mereka saling mencaci, menjatuhkan, dan membuat masalah kecil menjadi suatu hal yang besar.
Polemik negeri yang terjadi di Indonesia saat ini bisa mengancam kemerdekaan. Jika seseorang sering kali mengeluarkan tuturan yang negatif, kemudian tuturan itu menyebabkan perpecahan di masyarakat, tentu hal tersebut mengancam kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemajuan bangsa dan kecerdasan masyarakat, harusnya bisa menyaring suatu berita yang baik, agar tidak mudah dipecah belah dengan isu murahan.
Kenapa negeri ini jadi seperti ini? Masalah politik yang saling hantam dan gaduh. Hukum pun mulai tak adil, rentan akan politisasi. Beragama hanya menjadi sebuah identitas dan formalitas, beralagak suci namun tak mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan. Media sosial berceceran dengan ujaran-ujaran bernuansa ganas dan amarah. Kata-kata sesat, munafiq, kafir, dhalim menjadi mudah terlontar.
Orang kalau sudah senang berlebihan, begitu pula sekali tak suka maka selamanya serba alergi. Terjebak dalam virus fanatik yang membutakan segalanya.
Merawat kemerdekaan bak rumpun bambu
Ibaratkan sebuah rumpun bambu yang selalu bergesekan untuk selalu bergerak dan tumbuh ke atas. Kelompok atau individu masyarakat Indonesia harusnya hidup berdampingan layaknya rumpun bambu. Walaupun berbeda pendapat sampai terjadi gesekan yang terkadang pula mengakibatkan perpecahan namun tujuan mereka sama yakni sama-sama ingin selalu bergerak kearah baik.
Hidup berdampingan dan sesekali bergesekan itu adalah hal yang wajar, namun ada satu hal yang harus kita sadari bahwa gesekan itulah yang membuat kita kuat untuk selalu tumbuh kearah yang lebih baik. Janganlah terperosok dalam lubang fanatik, apa yang dipercayai itu yang paling benar dan apa yang tidak dipercayai itulah yang paling salah.
Tidak ada gunanya menggelorakan cinta Indonesia manakala hanya sebuah omong kosong. Jangan biarkan keserakahan seseorang seperti korupsi, merampas kekakayaan negara, merusak Indonesia yang berideologi Pancasila, berbuat tak senonoh, menebar ketidakadilan, dan berbuat tak sewajarnya untuk mematahkan sendi-sendi kehidupan bangsa.
Memasuki usia yang ke-74, bangsa Indonesia sudah harus merdeka dalam pelbagai aspek. Salah satunya adalah kematangan berpikir bangsanya. Kemajuan teknologi tak bisa dibendung di era modern ini. Media Sosial dijadikan tempat untuk saling lempar isu untuk kepentingan pribadi. Banyak sekali berita dan informasi hoax yang beredar, apabila kita tak mampu menyaring informasi maka kita akan terjebak dalam informasi. generasi muda Indonesia berpikir cerdas dan kritis, maka merawat kemerdekaan bukanlah hal yang sulit dilakukan. Sejatinya kemerdekaan bangsa sudah diraih sejak lama, tetapi merawat kemerdekaan bangsa yang perlu dilakukan secara terus menerus. Hal tersebut dilakukan dalam upaya merawat kemerdekaan bangsa yang sudah ada, dan terhindar dari segala macam bentuk upaya pemudaran rasa nasionalisme dan perpecahan bangsa.

 

Dedi Kurniawan

Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur

Mahasiswa Ilmu Sosial dan Politik Unirow Tuban

Kategori: Opini

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *