Lompat ke konten

MUSYWIL XXIII: IPM JATIM Siap Terdepan, Inklusif Berkelanjutan!

IPMJATIM.OR.ID – Perumusan tema Musyawarah Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur XXIII pada dasarnya dibangun dari refleksi dan pembacaan realitas. Dengan menerapkan prinsip kajian yang mendalam, tema ini menjelma menjadi spirit dan energi yang akan mengantarkan pada kemajuan. Pembahasan Tema MUSYWIL XXIII ini disampaikan langsung oleh Tim Materi pada lokakarya materi Musywil XXIII IPM Jatim pada 3 Desember lalu.

Terdapat beberapa hal yang mendasari tema ini. Pertama, dalam kurun waktu lebih dari setengah abad, Ikatan Pelajar Muhammadiyah memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya membentuk manusia yang cerdas secara intelektual, mampu berfikir secara saintifik dan filosofis, tetapi juga mampu mengaktualisasikan keilmuan pada konteks nyata kehidupan.

Kedua, sebagaimana yang kita ketahui bersama, dalam hitungan beberapa tahun ke belakang, perubahan-perubahan di sekitar kita terjadi secara cepat. Perubahan yang paling terasa dapat kita lihat pada sektor ekonomi dimana metode-metode konvensional yang telah langgeng sekian lamanya mendadak tergantikan pada sistem, start up dan ekonomi kreatif. Begitu pula pada pendidikan dan juga organisasi, termasuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang saat ini sepenuhnya digerakkan oleh generasi yang hidup di era teknologi Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan.

Fenomena disrupsi dan Society 5.0, termasuk Artificial Intelligence di dalamnya merupakan bentuk konkret adanya percepatan teknologi. Di tengah sengitnya pergulatan mengenai degredasi eksistensi manusia, kita harus menyakini bahwa segala perubahan ini bukanlah akhir dari segalanya. Disrupsi dan AI memberi pembelajaran pada kita bahwa Ikatan Pelajar Muhammadiyah akan tetap berlayar secara dinamis jika bisa beradaptasi, berinovasi dan terbuka pada perubahan.

Ketiga, Tantangan sumber daya manusia berkualitas mengharuskan Ikatan Pelajar Muhammadiyah untukl bisa lebih inspiratif sebagai agen creative design process. Bahwa segala program yang dilaksanakan harus bisa memproyeksikan mutu dan berdampak untuk menyiapkan generasi emas Indonesia Tahun 2045. Sehingga ini menjadi sebuah momentum yang sangat tepat bagi seluruh elemen, termasuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur untuk menata sumber daya manusia yang unggul.

Keempat, Dinamika yang dialami oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah saat ini sangat kompleks. Seiring dengan banyaknya isu yang berdampak pada pelajar, maka semakin banyak pula hal-hal yang dikerjakan dan direspon oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Pun juga IPM harus membuat navigasi atas fenomena yang terjadi. Demikian pula kerja-kerja untuk mengoptimalkan seluruh potensi dan aset tidak boleh berhenti. No One Left Behind (tidak ada satupun yang tertinggal) menjadi spirit agar gerakan Ikatan Pelajar Muhammadiyah lebih inklusif.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur khususnya, harus mulai bisa mengikis kesenjangan-kesenjangan yang saat ini masih ada. Seperti halnya kesenjangan pengetahuan, partisipasi, keseteraan dan sudah saatnya untuk mulai memperhatikan kebutuhan-kebutuhan khusus pelajar lainnya.

Kelima, Keberlanjutan ide dan gagasan merupakan hal penting untuk meneruskan tren konsistensi gerakan Ikatan Pelajar Muhammadiyah dari masa ke masa. Keberlanjutan dalam organisasi sebesar Ikatan Pelajar Muhammadiyah harus dirawat dengan baik. Hal ini bermaksud supaya program-program yang ada di periode ini memiliki kesinambungan dengan materi yang dibawa di Musywil saat ini yang barang tentu akan dilaksanakan di periode selanjutnya.

Selain kesamaan pesan, sentuhan kebaruan juga tidak kalah urgent sebagai bentuk penafsiran zaman sekaligus menyiapkan era di masa yang akan datang. Demikianlah hal-hal besar yang melatarbelakangi bahwa mimpi besar kita untuk menjadikan “IPM Terdepan, Inklusif Berkelanjutan” benar-benar harus direalisasikan.

Selanjutnya, agar frasa menjadi sesuatu yang aplikatif, maka arah gerak menuju visi utama ini meliputi: (1) Aktualisasi Khittah Moderasi Islam IPM; (2) Optimalisasi program dan akses program yang inklusif; (3) Pelaksanaan program berbasis data, berdampak dan memproyeksikan perubahan berkelanjutan; (4) Kepemimpinan yang kolaboratif dan saling membangun manfaat; (5) Manajemen kecerdasan majemuk; (6) SDM-Based Movement; (7) Massifikasi pendayagunaan digitalisasi secara kreatif (Mahes/Faqih)

Tinggalkan Balasan