Lompat ke konten

Ngaji Reog : Bukan Hanya Seni, tapi Juga Budaya dan Gaya Hidup Warga Ponorogo

IPMJATIM.OR.ID – Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga (ASBO) Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur mengadakan tadarus juz 3. Mengusung tema, “Ngaji Reog : Bukan Hanya Seni, tapi juga Budaya dan Gaya Hidup Warga Ponorogo.” Berlangsung secara Online via Zoom Meeting dan live YouTube PW IPM Jawa Timur. Kamis, (14/04/2022).

Dihadiri oleh seluruh kader IPM seluruh Jawa Timur. Materi disampaikan oleh Alfan Rif’ata Hilmi, anggota Bidang ASBO PW IPM Jawa Timur periode 2021-2023.

Ada banyak versi yang beredar di masyarakat tentang sejarah reyog Ponorogo, tetapi ada dua versi yang populer dan berkembang di masyarakat, versi pertama menceritakan tentang kemarahan Ki Ageng Suryo Alam kepada Raja Majapahit terakhir yang bernama Bhre Kertabumi.

Sedangkan versi kedua menceritakan kisah asmara antara Dewi Songgolangit seorang putri raja dari kerajaan Kediri, Raja Kelono Sewandono sorang raja dari kerajaan Bantarangin, dan Singo Barong sang penguasa alas lodaya.

Reog di Era Kerajaan Majapahit

Berawal dari kemarahan penasehat Raja Majapahit terakhir, yang bernama Ki Ageng Suryo Alam atau lebih sering di kenal dengan Ki Ageng Kutu, kepada Raja terakhir majapahit yang bernama Bhre Kertabumi yang berkuasa di abad ke-15, akibat pengaruh kuat dari istri sang raja yang berasal dari Cina sehingga menggangu kepemimpinan Raja Bhre Kertabumi pada masa itu, lalu Ki Ageng Kutu membereontak dan lari ke Daerah Wengker (sekarang Ponorogo) tepatnya di Desa Kutu, bersama para pemuda dan masyarakat Majapahit yang sepemikiran dengan Ki Ageng Kutu.

Di Kadipaten Wengker, Ki Ageng Kutu mendirikan padepokan dan melatih para pemuda Majapahit, sehingga menjadi prajurit yang gagah perkasa dan tak terkalahkan di masa itu, prajurit tersebut menjadi cikal bakal warok dalam kesenian Reog.

Di sela Ki Ageng Kutu melatih para pemuda untuk menjadi prajurit, Ki Ageng Kutu menciptakan kesenian dengan menampilkan topeng kepala Harimau raksasa yang dihiasi dengan bulu merak dan ditata menyerupai kipas raksasa, serta diiringi dengan musik gamelan pelog slendro yang di jadikan satu, sehingga tercipta alunan musik gegap gempita untuk menambah para warok berlatih.

Topeng berkepala Harimau diciptakan sebagai sindiran kepada Raja Bhre Kertabumi, yang melambangkan keperkasaan seorang raja, burung merak diatasnya melambangkan seorang wanita, dan gamelan pelog slendro yang di gabung menggambarkan  sebagai kegaduhan masa kepemimpinan sang raja pada kala itu, dan jika digabungkan menjadi perlambangan seorang raja yang kepemimpinannya di pengaruhi oleh wanita.

Mengapa harimau dan merak? Karena masyarakat hindu pada masa itu mengagungkan dewa siwa, yang dalam ajaran hindu di gambarkan dengan harimau dan burung merak.

Reog yang Diadopsi Dari Cerita Panji atau Reog Versi Bantarangin

Asal mula Reog Ponorogo dilatarbelakangi oleh kisah perjalanan Raja Kelana saat akan meminang Dewi Songgo Langit sebagai calon permaisurinya, calon permaisuri yang bernama Dewi Sanggalangit adalah putri Kerajaan Kediri.

Disebuah kerajaan bernama kerajaan Kediri, hiduplah seorang putri yang sangat cantik yaitu Dewi Sanggalangit. Semua raja-raja di kerajaan Kediri berlomba-lomba melamar Dewi Sanggalangit. Namun sang putri tidak berminat menerima lamaran mereka.

Akibat sang putri banyak menolak dan tidak tertarik pada lamaran para raja di Kediri, terjadilah perpecahan dan peperangan, yang menyebabkan ayah dari dewi songgolangit gelisah.

Setelah di bujuk sang ayah, Dewi Songgolangit pun menuruti permintaan sang ayah untuk memilih salah satu raja yang akan di jadikan suami, tetapi dengan syarat, sanggup membawakan seserahan berupa seribu kuda putih kembar lengkap dengan penunggannya, dan hewan berkepala dua.

Sang Raja Kediri menghela nafas, sungguh berat syarat yang diberikan putrinya. Namun apa boleh buat, dia pun mengumumkannya ke seluruh penjuru negeri.

Syarat itu sungguh berat dan banyak raja-raja mulai mundur dan hanya menyisakan dua orang raja yaitu Raja Singabarong dan Raja Kelana.

Maka waktunya telah tiba, Raja Kelana sudah menyiapkan semuanya. Kecuali binatang berkepala dua, dia hanya membawa merak peliharaannya yang cantik.

Rombongan Raja Kelana telah sampai di hutan, tiba-tiba seekor singa mengamuk. Ternyata dia adalah Raja Singabarong yang berubah wujud menjadi singa. Pasukan Raja Kelana tidak bisa menahan amukan si singa tersebut, korban pun mulai berjatuhan.

Raja Kelana tahu kelemahan Singabarong, dengan cepat Raja Kelana melepaskan merak peliharaannya dan hinggap diatas Singabarong. Burung itu mulai mematuk kutu-kutu yang ada di leher di Singabarong. Usaha Raja Kelana pun berhasil, Singabarong berhenti mengamuk karena terlena.

Saat melihat Singabarong dan merak peliharaannya, Kemudian Raja Kelana merasa melihat kepala binatang berkepala dua. Dia pun tersenyum dan mengeluarkan pecut saktinya yang bernama Pecut Samandiman. Raja Kelana langsung mengarahkan pecutnya dan menimbulkan bunyi yang menggelegar.

Singabarong lemas dan tidak bisa berubah wujud menjadi manusia kembali. Semua rombongan terkejut, sebab merak dan singa itu telah bersatu. Maka genaplah syarat yang diberikan Dewi Sanggalangit. Rombongan Raja Kelana mulai melanjutkan perjalanan dengan penuh suka cita.

Reog Sebagai Culture dan Gaya Hidup Masyarakat Ponorogo

Pada era modern ini, reog sudah menjadi gaya hidup berkesenian warga Ponorogo, bahkan reog masuk dalam kurikulum pembelajaran di sekolah dari mulai sekolah dasar, SLTP, dan SLTA.

Setiap  tahun di bulan Agustus atau saat hari jadi kabupaten Ponorogo, selalu di gelar pertunjukan festival reyog mini (reyog anak),  yang pemainnya diisi oleh anak anak, dengan batasan usia dari usia sekolah dasar sampai dengan usia SMP/MTs.

Dan di Bulan Suro, di gelar juga festival Nasional Reyog Ponorogo. Hampir seluruh provinsi di Indonesia mengirimkan grup reog terbaikya untuk mengikuti festival tersebut.

Banyak warga Ponorogo yang menggantungkan hidupnya kepada keseninan reog, dari mulai menjadi pengrajin reog yang meliputi dadak merak, gamelan hingga kostum yang di gunakan dalam pertunjukan seni reog Ponorogo. Bahkan di Ponorogo sampai ada kampung reog, yang warga kampung tersebut adalah pengrajin dan pemain reog.

Reog Era Dulu dan Reog Era Modern

Orang awam selalu memandang reog selalu lekat dengan hal-hal Negatif, mulai dari kental dengan hal-hal Mistis, hingga jamuan miras saat ada pertunjukan reog berlangsung.

Memang pada masa Partai Komunis reog masih sangat kental hal-hal Negatif tersebut, pada masa itu lembaga kesenian rakyat PKI menggunakan reyog sebagai alat kampanye, sehingga reyog selalu di pandang negatif.

Pada masa tahun enam puluhan, Muhammadiyah di Ponorogo membentuk grup reog untuk mewadahi warga Muhammadiyah yang ingin berkesenian reog, tentunya reog yang didirikan oleh Persyarikatan Muhammadiyah sangat jauh dengan hal-hal yang berbau mistis dan minuman keras sebagi sajian saat pertunjukan Reyog. Grup reog ini yang menjadi cikal bakal reyog santri di era reog modern ini.

Kontroversi Aksi Demonstasi Semiman Reog se-Indonesia

Beberapa hari yang lalu, bahkan sampai saat ini, masih terus di gelar aksi demonstrasi para seniman Reyog yang di lakukan di pusat kota Ponorogo.

Aksi demonstrasi para seniman tersebut sebenarnya bukan semata mata meluapkan kekecewaannya terhadap Malaysia yang akan mengklaim reog sebagai budaya.

Negeri jiran itu, tetapi para demonstran kecewa karena Reog tergeser oleh jamu tradisional Indonesia yang akan di daftarkan sebagai nominasi warisan tak benda ke UNESCO.

Tujuan aksi demo para seniman reog adalah untuk menuntut pemerintah Ponorogo untuk segera melengkapi persyaratan-persyaratan untuk didaftarkan ke UNESCO sebagai budaya tak benda.

“Terkait isu yang beredar, bahwasanya Reog Ponorogo akan di klaim oleh Malaysia itu adalah tidak benar. Sebenarnya kita itu menuntut pemerintah kabupaten Ponorogo lekas kembali memenuhi syarat-syarat yang akan didaftarkan sebagai budaya tak benda ke UNESCO,” Jelas Alfan.

(Mahes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *