Lompat ke konten

Omnibus Law, Konsistensi Muhammadiyah Sedang Diuji

IPMJATIM.OR.ID – Hari ini dilain isu omnibus law kita dihadapkan dengan suatu pilihan terkait dengan konsistensi Muhammadiyah berjuang di dalam Covid-19. Hari ini kita perlu sadar bahwa kita benar-benar diuji apakah kita harus terjun di gelanggang atau bagaimana kita tetap mengedepankan konsistensi  Muhammadiyah dalam hari ini bertaawun untuk negeri dalam konteks Covid-19.

Hal itu disampaikan oleh Dedi Kurniawan, Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur, dalam sambutan Diskusi Advokasi  (Diksi) PW IPM Jatim dengan tema  “Dampak Pengesahan RUU Omnibus Law Terhadap Pelajar”. Rabu, (07/10/2020).

Menurut Dedi, dalam keadaan pandemi kita dihadapkan suatu isu masalah yang mulai gencar di medsos dan aktivis-aktivis mulai turun untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Kita sebagai kader IPM yang notabene dekat dengan keilmuan, kita perlu sadar jangan hanya aktif di medsos tapi sama sekali tidak memahami omnibus law.

“Maka kemudian hari ini PW IPM Jatim dibawah Bidang Advokasi mengadakan  Diskusi Advokasi (Diksi). Hari ini kita perlu sadar sebelum ada sebuah aksi atau kita sebagai seorang pelajar yang dekat dengan keilmuan maka kita tidak boleh melupakan diskusi untuk memahami diksi-diksi yang perlu kita pahami,” ucap Dedi.

Karena, sambungnya, yang namanya aksi dan reaksi jika tidak dibarengi diskusi untuk memahami setiap diksi itu tidak ada arti apa-apa, tidak ada gunanya kita turun ke jalan hanya menjadi orang-orang yang dijalan tanpa memahami apa itu omnibus law.

Kakanda kita di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) siap mengepung gedung DPRD di daerah masing-masing. Sore harii tadi ada sebuah hal yang membuat kami bimbang ayahnada kami Abdul Mu’ti Sekretaris Umum PP Muhammadiyah tidak merekomendasikan bagi kita warga persyariktan turun ke jalan.

“Ini sebuah kebimbangan bagi kita kemudian apakah kita harus turun atau kemudian tetap bertahan dirumah untuk sama-sama mengurangi resiko-resiko. Disampaikan ayahanda Abdul Mu’ti bahwa masih banyak cara yang kemudian kita lakukan contohnya adalah judicial review,” jelasnya.

Apapun keputusanya turun atau tidak kita sebagai seorang pelajar  harus memahami apa sih omnibus law bukan melihat dengan sebatas cover.

Tapi kita harus memahami itu secara lebih mendalam supaya kita diskusi dengan teman kita bisa memahamkan antar teman, memahamkan lingkungan kita sehingga lingkungan disekitar kita faham omnibus law itu apa.

“Sehingga kehadiran IPM benar-benar terasa di masyarakat, maka dari itu banyak pilihan bagi kita untuk kemudian menyuarakan aspirasi masyarakat,” pungkasnya. (Faiz)

Tinggalkan Balasan