Paradigma yang Berkembang Tentang Alam

IPMJATIM.OR.ID – Saat ini kita semua telah memasuki abad ke-21. Sehingga perlu menyadari bahwa banyak peristiwa yang telah terjadi dalam sejarah peradaban manusia. Salah satunya, kisah panjang mengenai hakikat alam semesta. Pastinya kita semua telah dan akan selalu menjalani hidup berdampingan dengan alam. Yang menarik adalah cara manusia memahami alam ternyata melewati proses gaya berpikir yang pasang surut.

Tulisan ini diilhami dari sebuah buku yang ditulis oleh Dr. A. Sonny Keraf, berjudul “Filsafat Lingkungan Hidup: Alam Sebagai Sebuah Sistem Kehidupan” yang banyak membawa ide dan gagasan revolusioner seorang Fritjof Capra. Seperti yang dibahas di buku tersebut, saat membincangkan paradigma yang dihubungkan dengan hakikat alam semesta, tentu akan menyentuh ruang filsafat yang ada.

Sebelum menyentuh topik alam, mari kita mulai dengan membicarakan paradigma. Saya yakin, kita pernah menjumpainya. Hanya saja, yang saya khawatirkan, kata tersebut jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Saat membeli garam, kita tidak perlu membincangkan paradigma bukan?

Thomas Kuhn memperkenalkan paradigma dalam bukunya yang berjudul “The Structure of Sientific Revolution”. Menurutnya, paradigma adalah suatu landasan berpikir atau konsep dasar yang digunakan oleh para ilmuan dalam melakukan studinya. Mengutip dari Muslih, paradigma adalah suatu kerangka teoritis, cara memandang, memahami alam yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunia (world view)-nya. Supaya lebih mudah, saya lebih senang menyebutnya sebagai kerangka berpikir.

Sebuah paradigma menjadi hal yang sangat sentral bagi manusia. Sehingga sikap dan perilaku manusia terhadap alam dan kehidupan di dalamnya, sangat dipengaruhi oleh paradigma yang ada. Perkembangan paradigma ini, tidak bisa terlepas dari filsafat tentang alam, sekaligus berarti filsafat ilmu pengetahuan. Yang dalam perkembangannya telah mengalami dua perubahan paradigma dalam tiga fase penting sepanjang sejarah peradaban.

Fase yang pertama adalah zaman para filsuf alam. Disebut demikian, karena pada saat itu para filsuf sedang dalam agenda memecahkan teka-teki mengenai alam semesta. Fase ini menggunakan paradigma organis, yang memandang alam semesta sebagai sebuah kesatuan yang asasi. Manusia menjalani kehidupan dalam komunitas kecil yang kohesif dan dalam relasi yang bersifat organis.

Kehidupan dalam paradigma organis dicirikan oleh interdependensi atau ketergantungan satu sama lain, dengan menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan individu. Sehingga membentuk karakter dan perilaku manusia yang bersahabat dengan alam dan membangun hubungan yang harmonis, yaitu melindungi seluruh alam semesta sebagai bagian dari kehidupan manusia.

Fase yang kedua terjadi pada abad pencerahan, dengan menggunakan paradigma mekanistik. Pada fase ini alam tidak lagi dipandang sebagai kesatuan asasi, melainkan sebuah mesin raksasa yang terdiri dari bagian-bagian yang terpisah, begitu juga seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Paradigma ini dipengaruhi oleh pemikiran Rene Descartes dan Isaac Newton.

Alam semesta dipandang sebagai sebuah materi yang tidak lebih dari sekadar sebuah mesin. Di situ tidak ada tujuan, kehidupan, atau roh di dalamnya. Namun, supaya tidak salah paham, saya perlu menyampaikan bahwa abad pencerahan merupakan sebuah zaman yang luar biasa dengan segala kemajuannya. Hanya saja, ada efek sampingnya. Yaitu alam dipandang sebagai objek mati yang siap dieksploitasi dan didominasi oleh kuasa manusia.

Fase ketiga terjadi pada abad ke-19 dan ke-20 yang menandai perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan. Paradigma yang digunakan adalah Paradigma sistemis-organis. Hal tersebut diawali oleh penemuan Albert Einstein tentang teori relativitas dan teori kuantum. Sejak waktu itu, alam semesta tidak lagi dipandang sebagai mesin yang kaku, melainkan sebagai sebuah sistem kehidupan. Alam merupakan sebuah satu kesatuan menyeluruh yang saling bergantung dan berkaitan satu sama lain.

Yang membedakan dengan paradigma mekanistik, alam tidak lagi dipandang sebagai objek mati yang tidak memiliki kehidupan. Dalam paradigma sistemis-organis, memungkinkan terjadinya pola hubungan yang ramah dalam sebuah ekosistem. Lebih tepatnya, manusia tidak lagi menganggap lingkungan sebagai sebuah materi yang didominasi, tetapi juga memberikan timbal balik dan rasa hormat kepada alam. Maka, selain disebut sistemis-organis, paradigma ini juga sangat pas dengan sebutan paradigma ekologis.

Menariknya, adanya perubahan paradigma mekanistik menuju paradigma ekologis, memberi kritik sekaligus pesan mendalam bagi manusia untuk memperlakukan lingkungan hidup dengan baik. Membangun peradaban yang unggul melalui kemajuan teknologi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan berbasis ekologi berkelanjutan (ecological sustainability). Timbal-balik yang ekologis harus benar-benar direalisasikan untuk menjaga hubungan harmonis dalam sebuah ekosistem.

Penting juga untuk merenungi apa yang difirmankan Allah SWT dalam QS. Al-Jatsiyah ayat 13, “dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir”. Paradigma ekologis mengantarkan manusia menuju islam yang rahmatan lil alamin. Selain itu, pandangan yang bersahabat dengan alam ini menjadi sebuah pengamalan suci dari ayat-ayat kebesaran Tuhan.

Pada paragraf yang paling bawah ini, saya ingin menyampaikan bahwa belum semuanya beralih menggunakan paradigma ekologis. Masih banyak pelanggaran dan perilaku-perilaku rakus yang tidak ramah lingkungan. Saya pikir, gerakan-gerakan hijau Ikatan Pelajar Muhamamdiyah perlu dimasifkan untuk membangun paradigma ekologis yang berkelanjutan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.

Oleh :

Fery Martasonar

Ketua Bidang PIP PW IPM Jawa Timur periode 2018-2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *