Lompat ke konten

Pelajar Berhak Merayakan Valentine’s Day

Alhamdulillahi robbil ‘alamin “segala puji bagi Allah swt, Tuhan semesta alam”. Sebagai ayat pembuka sekaligus mengingatkan kita atas segala sesuatu yang telah kita kerjakan akan senantiasa kembali kepadaNya.

Bulan februari menjadi bulan yang cukup rentan ditunggu oleh kaum remaja tak terkecuali pelajar yang masih berseragam karena ada peristiwa valentine’s day. Apalah arti dari peristiwa tersebut bagi khalayak muda. Jika dilihat dari historisnya Valentine’s Day mewarisi tradisi Festival Lupercalia, yaitu ritual penyembah berhala (Pagan) Romawi kuno dengan cara mengumbar syahwat, yang kemudian diubah oleh Paus Gelasius II menjadi Hari Valentin yang ditetapkan pada 496 M. Sebagai hari yang penting untuk dirayakan oleh Kristen. Dalam festival tersebut berlangsung selama 6 hari pada tanggal 13-18 februari. 2 hari pertama dipersembahkan kepada Dewi Cinta bernama Juno Februata, sedangkan 4 hari selanjutnya disebut sebagai puncak festival tersebut yang dipersembahkan kepada Dewa Lupercus.

Secara budaya dan substansinya Valentines Day ini dikenal sebagai hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisi saling mengirimkan pesan-pesan cinta dan hadiah-hadiah atau biasa disebut dengan “Hari Kasih Sayang”. Hari itu diperingati pada tanggal 14 Februari 270M, suatu hari di mana St. Valentine sebagai seorang martir kristen mengalami kematian. Kebiasaan tersebut berasal dari upacara penyembahan berhala yang dikaitkan dengan peribadatan Juno Februarlis di goa Lupercalia, disebut juga bahwa burung-burung kawin pada tanggal 14 Februari.

Di sisi lain Islam sendiri secara historis memang sudah punya Hari Valentine, yaitu hari Pembebasan Kota Suci Mekkah. Nabi Muhammad mengampuni orang-orang yang dulu membuatnya terusir dari tanah airnya. Keburukan dan kekasaran yang ditimpakan kepada Nabi dibalas dengan cinta dan kasih sayang. Jika dilihat dari peristiwa tersebut, bukan hanya soal substansi melainkan dari isinya. Hari valentine hanyalah label dan bungkusnya saja, begitulah yang menjadi tugas remaja Islam dalam mengisi dan merayakannya dengan hal yang tidak bertentangan dengan agama. Tidak ada salahnya membuat kegiatan tandingan pada hari itu juga dengan menjadikan sesuatu yang positif, progressif, dan inspiratif. Katanya IPM dengan visinya mengangkat nilai-nilai keislaman, nyatanya mengatasi fenomena hari valentine masih dianggap saru bagi agama. Apakah Tuhan kita membeda-bedakan kasih sayangNya? Jika kita masih menganggap dan mengkutuk fenomena tersebut, bahkan dengan fatwa sekalipun, itu justru tidak akan memberikan solusi yang cerdas, alih-alih justru upaya yang sia-sia.

Manusia merasa butuh manusia yang lain, sama halnya dengan manusia itu membutuhkan kasih sayang Tuhan. Tampaknya kita lupa akan makna ukhrawi yang menjadi tujuan utama kita. Dalam surat Ali Imran ayat 31 telah menjadi penjelas bahwa Allah swt sangatlah murah kasih sayang tidak membedakan satu sama lain. Konon katanya “Without you I am nothing, with you I am everything”, sadar tidak ketika kita terlena dengan perkataan tersebut seolah-olah kita tidak mempunyai Allah swt, seakan-akan sesuatu di dunia ini sudah menjadi hal yang paling terbaik bagi kita, terlena dengan kata namun tidak dengan do’a. Mari berbagi kasih sayang.
Firda Rakhmayanti

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: