Lompat ke konten

Pelajar : Individu, Orang Tua, dan Lingkungan

IPMJATIM.OR.ID – Dalam kerangka pendidikan, pelajar adalah salah satu obyek dari pendidikan tersebut, tetapi ibarat kubus yang tidak boleh hanya dilihat dari satu sisi, pelajar bukan hanya berfungsi sebagai obyek dari pendidikan namun juga berperan sebagai pelaku dari pendidikan, bahkan bisa juga sebagai predikat dalam pendidikan. Pelajar mempunyai fungsi yang bukan hanya disebut ganda namun bisa juga disebut multifungsi, ada yang disebut sebagai Pengajar karena ada Pelajarnya, seperti halnya ada yang disebut bodoh karena ada yang Pintar.

Namun persoalan pelajar bukan hanya tentang pendidkan formal tetapi juga pendidkan mendasar untuk menjadi masyarakat yang terpelajar, Agenda Aksi, Arah Gerak, dan lain sebagainya yang itu berhubungan dengan Pelajar itu sendiri. Sebut saja persoalan Advokasi atau bantuan pendampingan kepada pelajar lain yang mengalami sebuah tindakan merugikan, seperti pembullyan, kekerasan verbal maupun nonverbal, dan diskriminasi. Namun sebelum jauh kesana sebenarnya ada hal yang harus dituntaskan terlebih dahulu oleh pelajar, yaitu Dirinya sendiri, Orang Tua, dan Lingkungan sekitarnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak pelajar yang belum tuntas dengan lingkungan, orang tua, bahkan belum tuntas bagi dirinya sendiri. Pertama, urusan yang perlu dituntaskan oleh pelajar adalah urusan individunya sendiri. Sebut saja urusan perut, sebagai pelajar minimal dia sudah mempunyai manajemen untuk keuangannya sendiri, sehingga dia sendiri mengetahui bahwa tidak selamanya dia akan mendapat uang saku dari orang tuanya, adakalanya dia harus dan wajib bahkan dituntut untuk mempunyai keuangan sendiri, dan mencukupi kebutuhan sendiri, bahkan mencukupi kebutuhan orang lain. Dan saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar urusan ini, karena Bidang PKK PW IPM Jatim pun sudah sering menggaungkan gerakan Pelajar Merdeka Finansial.

Dan yang kedua adalah menuntaskan hubungan dengan Orang Tua, persoalan tentang Orang Tua menurut saya tidak akan pernah selesai untuk dibahas dan dikaji selama masih ada orang tua, artinya kehidupan di muka bumi ini akan terus berputar dan orang tua pasti selalu ada disetiap generasi, andaikata orang tua kita meninggal, maka tidak lama lagi kita yang akan menjadi orang tua, dan kita yang akan menjadi pembahasan bagi anak anak kita. Mengapa urusan pelajar dengan Orang Tuanya harus tuntas? Karena kehidupan seorang pelajar tidak pernah lepas dari kehidupan Orang Tuanya, sekalipun dia dilahirkan tanpa Ayah, dan dibesarkan tanpa Ibu.

Orang Tua, merekalah yang mempunyai kunci pengalaman untuk menjadi pembelajaran bagi kita, mereka adalah tempat pendidikan pertama sebelum kita dididik di tempat-tempat pendidikan formal, sebut saja sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi, secara tidak langsung orang tua adalah guru, ustadz, dosen, bahkan rektor bagi kehidupan kita sekalipun mereka tidak pernah merasakan pendidikan formal. Maka ketika urusan pelajar dengan Orang Tuanya belum tuntas maka banyak kendala serius yang ia hadapi, sebut saja kendala perizinan yang mungkin telah dirasakan oleh sebagian pelajar khususnya mereka yang hidup di Organisasi seperti IPM, tidak kurang contoh diantara pelajar yang sulit mendapatkan izin dari Orang Tuanya ketika ada sebuah kegiatan yang mungkin bagi seorang pelajar ini adalah kegiatan yang cukup penting. Berkomunikasi dengan orang tua, meyakinkan mereka dan membangun kepercayaan mereka kepada kita adalah sekelumit kunci yang selalu diberikan oleh mereka yang mungkin sudah tuntas hubungannya dengan orang tua, sehingga Orang Tua sudah percaya dan dijaga kepercayaannya oleh si pelajar tadi. Terdengar seperti sepele, namun jika di survei apa kendala yang membuat banyak forum pelajar sepi penonton maka salah satu sebabnya adalah izin Orang Tua.

Dan yang terakhir adalah Lingkungan, setiap individu di dunia ini pelajar ataupun tidak, pasti tidak pernah lepas dengan hubungan sosial atau dengan lingkungan sekitar. Karena pada dasarnya setiap individu akan selalu membutuhkan individu yang lain, seorang pengusaha pasti membutuhkan karyawan, seorang guru pasti membutuhkan murid, seorang tukang parkir sekalipun pasti membutuhkan orang yang parkir. Maka seorang pelajar juga akan membutuhkan orang orang disekitarnya minimal sesama pelajar akan saling melengkapi dan membutuhkan. Sebut saja seorang pelajar junior pasti sedikit banyak membutuhkan pengalaman dari pelajar yang lebih senior darinya, dan sangat mustahil jika ada pelajar yang bisa mempunyai arah gerak dan agenda aksi sendiri tanpa ada peninggalan permasalahan dan solusinya dari pelajar-pelajar sebelum masanya.

Opini saya ini tertutup dengan sebuah argumen dari saya, Pelajar adalah satu kata yang kongkrit dan tidak bisa dipenggal untuk dicari maknanya secara sendiri-sendiri, pelajar adalah pelajar bukan kata ajar yang mendapat imbuhan pe, maka sudah seyogyanya pelajar menuntaskan semua urusan yang bersentuhan langsung dengan dirinya.

Oleh :

Muhammad Rafi Ardiansyah

Bidang KDI PC IPM Gempol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *