Pengkaderan Warung Kopi: Bumbu Romantisme Pembentuk Kader

IPMJATIM.OR.ID – Pengaderan adalah sebuah hal penting bagi Organisasi termasuk dalam IPM. Pengkaderan dapat diibaratkan sebuah jantung dalam organisasi, gagalnya pengkaderan berarti sebuah kegagalan dalam berorganisasi, dikarenakan pengkaderan adalah sebuah wadah pencipta embrio penerus tongkat estafet organisasi.

Pengkaderan atau kaderisasi adalah proses, cara perbuatan mendidik atau membentuk sesorang untuk menjadi kader. Secara umum, aktivitas pengkaderan sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu pengkaderan formal dan pengkaderan informal/nonformal. Pengaderan formal sendiri adalah pengkaderan yang terprogram, terpadu, terarah, dan bertujuan untuk mencapai tujuan perkaderan. Pengkaderan informal atau nonformal sendiri adalah sebuah aktivitas pengkaderan kebalikan dengan cara pengkaderan formal, pengkaderan informal adalah segala kegiatan di luar pengkaderan formal yang diikuti oleh simpatisan dan atau anggota yang dapat menunjang proses kaderisasi. Namun tidak dipungkiri, bahwa pengkaderan formal, dan  pengkaderan  informal saling bahu membahu.

Apakah tidak masalah pengkaderan informal dilakukan ? Bagi penulis, tidak masalah melakukan pengkaderan informal, jika pengkaderan itu bersifat mendidik bukan bersifat indoktrinasi, lebih jelasnya pengkaderan harus bersifat yang menyadarkan dan membebaskan; membentuk manusia; berbicara kenyataan duniawi; pendidikan yang dialogis.

Salah satu contoh pengkaderan informal ialah pengkaderan warung kopi. Pengkaderan warung kopi adalah cara santai dan menyenangkan pengkaderan dengan mengobrol ataupun bersenda gurau yang dilakukan di warung kopi atau tongkrongan. Sesuai dengan paragraf sebelumnya pengkaderan warung kopi harus dilakukan dengan ke-idealis-an.

Aktivitas pengkaderan warung kopi menciptakan sebuah iklim komunikatif antar individu. Komunikatif disini tidak disajikan layaknya hanya dengan tanya-jawab, melainkan sebuah dialog ataupun diskusi. Sistem seperti ini dapat menunjukkan sifat horizontal dalam manusia karena saling berhadapan dan duduk sejajar, dengan dialog secara horizontal inilah rasa kemanusiaan dapat berkembang. Iklim komunikatif seperti ini harus dibawahi oleh rasa saling percaya satu sama lain untuk menjadi pendengar dan penerima ilmu. Adanya komunikasi akan terciptanya jiwa kritis dalam setiap individu.

Sifat komunikasi dapat disematkan dengan penghadapan masalah, pengkader tidak harus menjadi penguasa, dan yang terkader bukanlah sebuah wadah menggelontorkan pengetahuan, namun keduanya harus memiliki ruang untuk saling menjawab dan bertanya. Penghadapan masalah dilakukan secara seksama dengan menginvestigasi terhadap persoalan yang dibahas. Aspek ini akan menumbuhkan pembicaraan kenyataan secara duniawi.

Secara jelas, pengkaderan warung kopi adalah kegiatan pengkaderan yang terimprovisasi dari pengkaderan formal. Tidak dipungkiri bahwasanya pengkaderan formal terkadang menemukan titik jenuh, dan hadirnya pengaderan warung kopi seperti ini, sebagai pelipur, atau pemancing ketertarikan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengkaderan formal.

Pengkaderan informal seperti ini, harus dilakukan dengan norma-norma yang ada. Contoh saja, situasi sekarang yang masih berjalan dalam situasi pandemi, aktivitas terkait harus sesuai dengan norma yang ada, seperti protokol kesehatan dan sebagainya. Lakukanlah dengan tidak memberikan dampak negatif pada sekitar, karena sejatinya pengkaderan berharkat pada kemanusiaan dan apa yang kalian lakukan sebagai pengkader adalah refleksi untuk yang terkader. Salah hangat penulis yang diiringi kopi.

 

Oleh :

 

Sonia Wijaya Putra

Kabid PIP PD IPM Gresik

Tinggalkan Balasan