Lompat ke konten

PW IPM Jatim, Hadirkan Pakar Demokrasi dan Anti Korupsi : IPM Punya Peran Penting !

IPMJATIM OR.ID – Kasus-kasus seperti bullying atau perundungan yang terjadi di sekolah maupun ruang jagad maya (media sosial), kenakalan remaja berupa tawuran pelajar bersenjata tajam, hingga penggunaan narkoba dan seks bebas yang dilakukan oleh pelajar yang masih tergolong usia anak di bawah umur kerap kali menghiasi headnews dalam portal pemberitaan sehari-hari.

Menyikapi hal itu, Pimpinan Wilayah Ikatan Muhammadiyah Jawa Timur (PW IPM Jatim) dalam rangkaian acara menjelang pelaksanaan Rakerwil berusaha untuk menginisiasi awareness para kader IPM se-Jawa Timur terhadap isu-isu kenakalan remaja pada Selasa, 04 Juni lalu secara daring dan dihadiri oleh ratusan peserta via daring yang berasal dari berbagai Pimpinan Daerah IPM se-Jawa Timur. Dengan menghadirkan Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Anti Korupsi (PUSAD) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) Satria Unggul Wicaksana P., S.H., M.H.,

Direktur PUSAD UMSurabaya itu memaparkan data-data terkait persoalan kenakalan remaja yang terjadi di Indonesia. Pada kasus narkoba misalnya, mengutip sumber data dari databoks terlihat sajian diagram batang yang menunjukkan peningkatan prevalensi pengguna narkoba di Indonesia dari 4,53 juta kasus menjadi 4,83 juta dalam kurun waktu 2019-2021.

“Jumlah itu sebagian besar melibatkan anak muda. PUSAD juga punya beberapa hasil penelitian yang terkait dengan anak muda di Jawa Timur. Ini bisa dijadikan peluang, tetapi disisi lain bisa juga menimbulkan masalah jika tidak bisa di kelola dengan baik. Melihat fakta seperti ini, pertanyaannya adalah apakah kedepannya Indonenisa ini akan menjadi Indonesia Emas atau Indonesia Cemas?” Jelasnya

Menurutnya faktor-faktor penyebab terjadinya dekandensi moral di kalangan pelajar atau anak muda antara lain faktor lingkungan keluarga seperti kurangnya pengawasan orang tua, rumah tangga yang berantakan, dan hubungan keluarga yang buruk. Sementara faktor lainnya seperti sistem pendikan yang lebih fokus pada pencapaian akademik, tekanan teman sebaya, hingga paparan media seperti TV, internet, dan media sosial yang negatif.

Guna mengatasi hal tersebut, Satria sapaan akrabnya mengajak seluruh kader IPM untuk melakukan pengendalian diri dan memperkuat copping mechanism. Menurutnya tugas “How to Rerfrain” bukan menjadi tanggung jawab individu semata, melainkan juga ada tanggung jawab kelompok di dalamnya.

“Disinilah IPM memainkan perannya, yakni dengan membudayakan dakwah komunitas dengan memengaruhi kelompok-kelompok tersebut sehingga IPM bisa menjadi alternatif solusi.” Tegasnya. (Shelsa/Faqih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *