Lompat ke konten

Romantisme Lingkungan

IPMJATIM.OR.ID – Pembahasan lingkungan sudah menjadi momok bagi setiap manusia, apalagi manusia yang tamak (rakus) terhadap kebutuhan berimplikasi dengan alam. Tingkat kepedulian manusia terhadap alam sudah begitu kompleks permasalahan, mulai dari udara, tanah, batu, air dll. Hal ini sudah banyak dijumpai dari banyaknya platform media dari Jakarta permasalahan polusi udara, Kalimantan Tengah dengan kebakaran hutan dan paling membuat risih adalah hampir seluruh bagian Indonesia kurang bisa mengolah sampah plastik dengan baik.

Dalam hal ini kita diperlukan peranan hal yang membangun ataupun mencegah dari perluasan konteks permasalahan tersebut. Romantisme lingkungan menggugah kita untuk mengutamakan perasaan yang lebih rasionalitas terhadap lingkungan. Keutamaan dalam romantisme yaitu diambil dari suatu aliran karya sastra. Karya sastra romantisme mengutamakan akan adanya suatu sentuhan Perasaan atau pun suatu emosi jiwa, bukan suntuk karena cinta antara manusia Laki – Perempuan, akan tetapi bisa kita luaskan perasaan yang mampu menggeneralisasikan tentang ke cintaannya suatu gagasan hidup. Sedangkan lingkungan merupakan bahan utama kita dalam mengolah ataupun mengimplikasikan suatu agenda. Perlu adanya Ruangan yang nyaman, tenang, dan tentram agar bisa secara maksimal dalam mengimplikasikan suatu agenda tersebut. Jika tidak menanam sifat melindungi, menyayangi, membangun memperluas terhadap lingkungan dari sejak dini,maka hal yang dipertaruhkan adalah masa depan generasi selanjutnya. Akan kah 10/20 tahun kedepan mereka mendapatkan kenyamanan apa yang kita rasakan saat ini ? Atau malah sebaliknya?. Jika boleh saya menyangkut kan dengan budaya politik menurut Almond dan Verbal yaitu Budaya politik dibagi menjadi 3 yaitu : Paroki, Subjek & Pastisipatoris. Budaya tersebut jika disejajarkan dengan budaya lingkungan ini tentu hampir sama. Yang dimana paroki adalah sekelompok orang yang tidak menyadari pemanfaatan lebih dari lingkungan dan tidak tau baik-buruknya tidak hadirnya pemanfaatan lingkungan tersebut. Kemudian, subjek adalah mereka (tamak) yang menyadari akan baik-buruknya jika tidak hadirnya pemanfaatan lingkungan, akan tetapi dalam sadar atau tidak, mereka tidak bisa melakukan secara maksimal dalam pemanfaatan lingkungan. Yang terakhir, pastisipatoris adalah sekolompok (minoritas) paham dan apa yang harus dilakukan untuk melakukan pemanfaatan lingkungan baik dalam jangka pendek, menengah dan Panjang.

Budaya politik dan lingkungan yang saya kolaborasi kan menjadi suatu hal yang indah jika dibayangkan dan diimplementasikan, bukan dalih ingin menghilangkan esensi nilai budaya politik, tapi ingin mencoba bereksperimen mana yang baik dan mana yang harus dilaksanakan. Dengan menanamkan sifat romantisme lingkungan kepada masyarakat sejak sekarang membutuhkan suatu tenaga yang ekstra. Karena hal ini tidak bisa kita paksa, perlu adanya suatu alternatif yang dimana mampu mengajak masyarakat terampil dalam menjaga lingkungan. Hal ini bisa saya menjastifikasi 4 pilar PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup) dari salah satu pejuang lingkungan yaitu KHM (Kader Hijau Muhammadiyah) yaitu yang : 1) Learning to know, pendidikan untuk belajar mengetahui dan memahami konteks suatu permasalahan lingkungan hidup dari segala sektor. 2) Learning to do, pendidikan untuk menanamkan sikap, kemampuan dan keterampilan dalam melestarikan lingkungan, 3) Learning to live together, pendidikan untuk menanamkan cara hidup bersama di bumi yang harus diamankan kelestariannya bagi generasi yang akan datang dan 4) Learning to be, pendidikan untuk menanamkan keyakinan mendalam bahwa manusia merupakan bagian dari alam, manusia juga merupakan teman alam, bukan lawan alam, untuk itu dalam kehidupannya manusia harus bertindak secara ramah dan bijaksana dalam memperlakukan alam.

Sebagai seorang Kader yang memiliki kapasitas yang lebih untuk dapat menjadi seorang proklamator, apalagi sebagai proklamator lingkungan. Hal ini begitu miris ketika seorang kader tidak memiliki suatu kepedulian lebih terhadap lingkungan. Karena dalam Al-Qur’an juga sudah dijelaskan yaitu : “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”. (QS. Ibrahim 13:32). Menurut Amien Rais kader itu sekelompok orang diorganisasi secara permanen dan membentuk kerangka dari kesatuan. Menjadi suatu kesatuan bagaikan satu lidi yang digunakan untuk menghempas kotoran tentu tak berdampak, jika lidi itu ditambah 100 lidi maka menghempas sampah begitu mudah, hal ini mampu kita terapkan juga dalam mengempas suatu kebathilan, jika kita berkumpul dalam satu wadah sebagai seorang kader maka kebathilan menjadi hal mudah untuk ditundukkan. Marilah kita menyatukan kecintaan kita, bukan hanya kecintaan antara lawan jenis, terhadap organisasi, tapi bercintalah dengan lingkungan mu, karena lingkungan lah yang telah memberi kebermanfaatan yang begitu besar pada kita semua.

Semoga bermanfaat untuk kedepannya baik untuk keluaraga, teman, sahabat, kamu, dia, doi untuk menciptakan suatu romantisme lingkungan yang nyaman untuk berteduh disaat sedih ataupun senang.

Oleh :

Nafis Zamani Alfiansyah

Sekretaris Bidang Organisasi PW IPM Jawa Timur

Refrensi :

Maliki, Zainuddin. 2017. Muhammadiyah dalam pusaran Politik. Surabaya : Hikmah Press.
http://kaderhijaumu.id/?p=237 Diakses pukul 10:33 tgl 12 September 2019.
Khoirudin, Azaki. 2015. Nun : Tafsi Gerakan Al-Qolam. Yogyakarta : Surya Mediatama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *