Lompat ke konten

Sekolah yang bikin Keracunan : Jalan Menuju Kehancuran Epistemik Ikatan

IPMJATIM.OR.ID – Saya sangat senang apabila sedang membahas soal pendidikan, terutama dalam lingkup sekolahan, tujuan awalnya sih akademis, tapi ada yang bersifat romantis, ada pula yang melanklonis, tak jarang loh yang dogmatis. Tapi mengapa sih kok yang saya bahas kejelekan mulu? Ga pernah gitu mbahas kelebihan daripada sekolah? Mudah saja jawabannya, sudah banyak kawan saya yang memuji, tapi sangat sedikit yang menguji, padahal ujian lebih menguatkan ketimbang pujian, maka dari itu saya ingin dakwahkan hierarki pengetahuan yang sedang keracunan di dalam sekolahan, karena itulah tugas saya sebagai penguji kebenaran.

Sebelum memasuki topik utama, apa sih keracunan yang disebabkan sekolahan? Memangnya ada yah? Bukankah justru sekolah yang menyingkirkan racun kebodohan?, dari dulu hingga kini, otak manusia selalu berfungsi sebagai alat untuk mendeteksi kebaikan juga kejahatan, kebodohan maupun kepintaran dan semacamnya. Ketika otak kita sudah menerima informasi perihal baik-buruknya suatu kejadian, maka nalar kita menyaringnya, disitulah pikiran kita dapat mencari solusi atas permasalahannya.

Namun, apabila otak kita tak dapat menyaringnya, atau salah dalam penalarannya, disitulah otak kita mengalami disfungsi, sehingga menimbulkan fallacy atau biasa disebut kegagalan dalam memfungsikan penalaran. Racun dari sekolahan, baik berupa dogmatisme pengajaran maupun paksaan pikiran, dengan alasan kedisiplinan dan bermacam-macam alasan lainnya, dapat menimbulkan disfungsi pikiran, inilah yang mengakibatkan kecerdasan manusia menurun secara signifikan.

Hal tersebut dapat menjadi reaksi kausalitas (sebab-akibat) yang menimbulkan hancurnya epistemologi/ilmu pengetahuan di dalam Ikatan, mengapa demikian? Tunggu dulu ferguso, saya akan mengulasnya secara ilmiah pada tulisan kali ini.

Dalam sains, terutama kajian neurosains teoretis atau sains saraf, terutama penemuan pentingnya yang mengatakan, bahwasanya jejaring neurokorteks di dalam otak kita bukan hanya dapat menyaring informasi menjadi suatu pikiran, ternyata ia juga dapat menjadi reaksi yang menjadi tolak-ukur kecerdasan. Bila dikaitkan dengan topik pada tulisan ini, kecerdasan manusia dalam ikatan sangatlah dipengaruhi oleh informasi yang didapatkan, kita sama-sama mengetahui bahwa orang-orang dalam ikatan sedang menempuh pendidikan di sekolahan, inilah yang saya sebut korelasi (hubungan) antara ilmu pengetahuan ikatan yang dapat dirusak oleh racun dari sekolahan.

John Dewey, seorang pelopor pragmatisme pendidikan, mengatakan bahwasanya anak-anak dapat belajar lebih banyak dan lebih cepat apabila guru mendorong keingintahuan alami mereka, bukan malah menjadikan mereka subjek yang kaku, sehingga harus disiplin dan diberi hukuman.

Dewey telah menyadarkan kita, perihal mengapa kecerdasan bangsa kita jauh tertinggal dari bangsa lainnya, karena pendidikan kita sudah menanami racun dogmatis, agar murid tak dapat menyadari tabiat mereka yang kapitalis, disini murid perlu meminum obat akademis sehingga dapat menyembuhkan hal tersebut secara dialektis.

Apabila racun ini tak segera disingkirkan, maka otomatis kecerdasan ikatan-lah yang dipertaruhkan, bukan hanya ikatan, tapi manusia di Indonesia yang siap mengalami kemunduran dalam pikirannya. Saya sangat mengapresiasi untuk semua sekolah yang tak memberi racun pada muridnya, sekaligus saya memperingatkan sekolah yang masih meracuni muridnya menggunakan dalil-dalil kedisiplinan, agar mereka segera sadar, bahwa murid bukan hanya boneka yang tak dapat melawan, juga bahwa guru bukan tuhan yang semena-mena memberikan hukuman.

Begitupula Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini, kita sebagai sarana pergerakan pemuda, tak boleh terus-terusan di racuni sekolah, gerakan tak boleh buta ilmu pengetahuan. Gerakan juga butuh asupan epistemik dan akademik, yang tak bisa diganggu gugat oleh kerancuan sekolah yang mencekik.

Kuatkan pikiran melalui segala bentuk bacaan dan pengalaman, lakukan pergerakan dengan segala kekuatan.

Oleh :

Mohammad Rafi Azzamy

Sekretaris Bidang Advokasi PR IPM SMK Mutu Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *