Senja yang Dirindukan

IPMJATIM.OR.ID-  Senja yang dirindukan. “Nak, ibu menitipkanmu di Pondok Pesantren ini. Kelak semoga kau bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.” Aku selalu bersemangat setiap kali menuntut ilmu, tanpa disuruh pun, aku akan mendatangi sumber-sumber atau tempat yang menghasilkan ilmu. Ibuku selalu menangisi ketika aku jauh darinya seperti yang terjadi di Pondok Pesantren ini. Seolah ia tak merelakan namun dalam hati kecilnya, ia menginginkan anak-anaknya menjadi pribadi yang lebih baik. Aku memang tak seperti anak-anak lainnya, itulah yang dikhawatirkan oleh orang tuaku.

“B..B..Bu, ten..n..ang. Aku bisa menjaga diri di sini.” Aku pun, mencium tangan ibu sekaligus pipinya. Lambaian tangannya sebagai bentuk perpisahan. Air matanya tak henti berkucuran. Waktu demi waktu kulewatkan di Pondok Pesantren ini. Ilmu, teman, guru telah mengisi hari-hariku. Kupikir, aku tak bisa mengembangkan mimpiku di sini, ternyata itu salah. Ilmu yang kuterima tiap harinya selalu menginspirasi dan memberi manfaat.

“S..Sa..Saya Hardika. Sering di panggil DD..Dika.” Aku mengalami gangguan dalam berbicara sejak kecil atau biasa disebut tuna wicara. Kekurangan yang kumiliki terkadang membuatku malu namun bisa memberiku semangat ketika lingkungan sekitar mendukungku. Seminggu telah berlalu, aku menghubungi orang tua melalui telepon, akhirnya mereka sudah legawa menitipkan aku di sini. Dalam hati, aku bergumam kuat, aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk ibu. Aku tahu bahwa suatu pekerjaan tanpa doa dan restu orang tua akan berakibat fatal. Aku tahu bahwa setiap pekerjaan yang diiringi niat akan berakhir sempurna.

“Ayoo, para santri segera bersiap menuju Masjid untuk melakukan shalat Maghrib!”
Salah satu guru mulai berseru kepada santri-santrinya. Yah, itulah yang selalu kami dengar sebelum Subuh dan Maghrib. Mereka lari terburu-buru begitu juga aku, indah penuh haru kehidupan di Pondok Pesantren.

“Dikaa, ayo segera ke Masjid. Kok melamun di sini?” Ajak salah satu teman.
“Iya, Kang. Se..Se..Se..bentar. Ini masih asik melihat ma..ma..matahari terbenam.”

Jejak demi jejak yang terlewati membuat jiwa ini semakin yakin bahwa kekurangan bukanlah alasan untuk berhenti berjuang, bukan pula sebagai alasan untuk berputus asa. Senja selalu kutunggu dimana aku dapat selalu merenungkan semua hal yang kulalui hari itu. Aku memang suka melamun, suka memandang ketika apa yang kupandang dapat memberi arti kebaikan pada kehidupanku.

Ada yang tak suka menunggu senja, entah apa penyebabnya. Dia sering jalan denganku, makan bersama, apapun bersama. Namanya Tama. Ia sudi berteman baik denganku, dengan segala kekuranganku. Tama menganggap bahwa aku adalah motivasi hidupnya padahal jika ditelisik, prestasinya lebih unggul daripada aku. Setiap kali aku mengajak Tama duduk di pinggiran Pesantren sembari menunggu azan maghrib, ia selalu menolak. Bahkan, ketika kutanya berkali-kali apa penyebabnya, ia tak mau menceritakan tentang itu. Kami memiliki panggilan yang aneh, jadi kami jarang sekali memanggil dengan nama asli. Tetapi kami suka itu, karena itulah yang membuat kami semakin akrab dan erat.

Suatu hari tanpa sengaja, kita larut dalam senja. Bergurau dan bercerita banyak hal.
“Dika, kenapa kamu mau belajar di Pesantren ini? Padahal aturan di sini ketat sekali,” tanya Tama dengan tiba-tiba. Padahal sedari tadi kami asik bersenda gurau, Tama menanyakan hal yang lucu kepadaku. Memang kuanggap lucu, bukankah pendidikan ataupun Pesantren yang ketat akan berdampak baik bagi santrinya? Bukankah setiap insan bangga ketika dampak baik tersebut dapat mengantarkan kita pada suatu hal yang lebih baik pula. “Ya a..a..ku seneng aja, Tama. Kalau bisa yah cari ilmu harus sampe luar negeri. Pengalaman bisa kita peroleh, ilmu juga iya. Wah p..p..pasti keren i..itu.”

Sore hari selalu hadir dengan keindah-keindahan yang disajikan oleh-Nya. Burung berkicau dan beterbangan kembali ke sarangnya masing-masing. Sepoi angin pun masih terasa seperti esok hari. Aku mengajak Tama menikmati salah satu kuasa dari-Nya.
Dika, mengapa kamu setiap sore selalu mengajak saya kesini? tanya Tama.

“S..S..Saya selalu merindukan orang tua dan rumah de..de..ngan cara seperti ini,” jawabku dengan sedikit mata berkaca-kaca.

“Kamu aneh, Dika. Harusnya jika rindu mereka, kamu menghubunginya, menanyakan kabarnya. Bukan dengan cara seperti ini. Hmm,” ujar Tama.

“La…..lalalu bagaimana denganmu? Masih mem..mem..membenci senja?
Hingga saat ini, aku membenci senja. Aku tidak mau melihat apapun di sekitarku ketika senja datang. Aku benci, aku benci.” Tama semakin meluapkan emosinya dan aku berusaha menenangkannya.

Tama menyukai senja, senja memang hadir tampak indah. Namun hal tersebut tak berlangsung lama ketika longsor menghampiri pemukiman warga termasuk tempat tinggalnya. Orang tuanya terbawa arus longsor sudah dilakukan pencarian beberapa hari, namun akhirnya tidak ditemukan. Baginya senja tak lagi indah. Padahal itu sudah kehendak Tuhan yang harus kita syukuri bagaimanapun bentuknya. Aku ingin mengembalikan rasa suka Tama terhadap senja. Semua yang hadir patut kita syukuri, bisa jadi senja yang hadir mampu membawa cerita hidup yang indah. Tanpa disadari, aku dan Tama bercerita banyak hal bahkan menikmati senja hingga azan maghrib berkumandang hari ini. Aku berhasil membuatnya lupa kejadian di waktu senja itu. Kami larut dalam cengkrama yang indah. Sangat indah. Itulah bentuk tujuan hidupku, membuat orang di sekitarku bahagia kembali.

Tak lupa pesan Tama kepadaku, jika rindu kampung halaman alangkah baiknya jika menghubungi mereka. Aku menghubungi ibu. Baru saja salam kuucapkan, ibuku sudah terharu. Ia berkata jika ia rindu pada anaknya, yah itu aku. Aku sudah lama tak menghubungi mereka. Keluarga hanya mengirim pesan singkat padaku yang terkadang jarang kubalas. Sengaja tak menghubungi ibu dan keluarga karena tak ingin mendengar isak haru dari ibu seperti pertama mengantarku masuk Pondok Pesantren ini. Untungnya, ibu sudah legawa. Akupun mulai bercerita panjang via telepon tentang pengalaman dan peristiwa unik di sini termasuk cerita hidup Tama. Beruntungnya lagi, ibu tertawa puas ketika aku bercerita tentang lari terbirit-birit menuju masjid karena takut dimarahi pihak Pesantren.

Dua jam berlalu melalui telepon. Tak terasa memang jika berbicara soal rindu dengan keluarga. Bahkan ingin sekali, jika aku pulang ke kampung halaman nantinya, ibu bisa merasakan kebahagiaan atas kesuksesan anaknya. Aku sangat percaya dengan ridho Tuhan dan orang tua. Sebesar apapun usaha kita, namun orang tua tak meridhoi maka celakalah kita.

“Assalamualaikum, Dika.”
“Waalaikumussalam, Tama. Dari mana saja kamu?”
“Dari ruang konseling, jawabnya dengan raut muka murung.”
“K..K..Kamu dapat hukuman?” tanyaku.
“Ah, tidak apa-apa. Mereka saja yang memulai.”
“Siapa, Tam? Tampaknya kamu kesal sekali,” tanyaku balik dengan penasaran.
“Sudahlah, Dika. Saya tidak apa-apa. Jangan mengajakku untuk ghibah. Tama sedikit menegaskan karena ia tak mau semakin terbawa emosi.”
“Yee. Siapa juga yang mau ngajak gh..h..h..hibah. Kita sama-sama tahu kalau itu dosa.”
“Hahaha, ciye sudah pintar kawanku satu ini,” ucapnya gurau.

Aku tahu tidak semua orang mau berteman denganku. Tama mau berteman denganku. Tak pernah sedikit pun ia mengejek atas kekuranganku. Aku dan Tama memiliki visi yang sama. Penuh dengan mimpi. Berharap bahwa Tama tak hanya teman namun sahabat dunia dan akhirat.

Sebelum azan maghrib berkumandang, seperti biasa aku mendatangi halaman belakang Pondok. Ketika sedang asyik menikmati senja, terdengar keributan di ujung Pondok. Padahal jarang sekali ada keributan di sini. Baru kali ini saja. Aku tak mau meninggalkan kejadian ini karena pasti menjadi tontonan besar-besaran. Ternyata benar, sudah banyak kerumunan murid hingga guru turun tangan menghentikan keributan itu. Kucoba melihat celah demi celah di antara kerumunan banyak orang. Kaget bukan main, kulihat Tama. Pihak Pondok langsung mengamankan Tama dan segera melarikan ke ruang medis. Entah apa yang terjadi. Aku pun lari menuju ruang tersebut. Sesekali kupandangi dia, khawatir sekali. Mukanya begitu banyak luka.

“T..T..Tama. Bangunlah kawanku! iba sekali melihatnya. Apa yang terjadi denganmu?”
Tama tak sadarkan diri. Kurang ajar sekali yang melakukan itu pada Tama. Terlintas di benakku, keributan ini persis terjadi di waktu senja. Andai Tama bangun dan tahu pasti ia akan sangat membenci senja yang diciptakan oleh-Nya. Ah, aku ini berpikir yang tidak pasti. Semua takdir-Nya.

Tiga jam berlalu, Tama masih menutup matanya dan lelap. Aku takut akan keadaan ini. Takut jika Tama tak akan bisa bangun lagi. Padahal kami pernah berjanji untuk saling mendukung hingga kami dapat meraih sukses.

Keesokan harinya, kondisi Tama mulai membaik. Kupikir dia meninggalkan kami selamanya, ternyata itu salah. Ia tampak semangat. Sebagai kawan dekat, aku mengajak jalan di belakang Pondok. Di tengah pembicaraan, kusisipkan mimpi-mimpi yang pernah dirangkai bersama.

“Dika, kamu seneng banget ngajak saya kemari. Bukankah kamu tahu saya paling tidak suka menikmati senja seperti ini.”

“I..i..ni beda, Tama. Dari keindahan senja kita dapat belajar bahwa ketika senja hadir dengan merah merekah bahkan mempesona itu artinya bahagia sedangkan ketika senja menampakkan hitam pekatnya itu artinya berduka,” jelasku.

“Kamu mendramatis terus, Dik. Tapi kalau kamu bicara masalah begituan lancar. Coba kalau baca bacaan tafsir, sering gagap. Hahaha.”

Inilah yang kukagumi dari sosok Tama. Meskipun ia tidak suka dengan sekelilingnya, ia jarang menampakkan emosi. Meskipun sakit yang dideritanya, masih mampu menghibur orang-orang sekitarnya. Sore ini kami nikmati senja dengan membicarakan semua rencana kami di masa depan, tentang kesuksesan kami, tentang bagaimana cara kami membahagiakan orang tua kami. Senja ini sangat berarti bagi kami, dengan janji setiap senja kami menikmati eloknya dengan selalu bersyukur dan berusaha, supaya setiap senja yang kami lalui kami selalu menjadi semakin baik.

Oleh:

Istia H. Al Farisy

Sekbid Advokasi PW IPM Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *