Lompat ke konten

Sharing SabangMerauke : Materi ke-6 PKMTM 3 PW IPM Jawa Timur

IPMJATIM.OR.ID – Wildan Mahendra Ramadhani, Engagement Manager of SabangMerauke diundang untuk memberikan materi ke 6 pada acara PKTM 3 PW IPM Jawa Timur, Sabtu (24/4). Ia memaparkan materi pada sharing session : Be a Creative Young Muslim.

Dalam pemaparan nya, Wildan mengatakan untuk tidak menilai orang lain dari latar belakang nya. “Interaksi mengurangi prasangka, memupuk toleransi. Jadi kita secara tidak langsung jangan menilai orang lain dari latar belakang ataupun history, kalian bisa menilai orang lain ketika bertemu,” tuturnya.

Program utama SabangMerauke adalah pertukaran pelajar untuk SMP/Mts sederajat. Setiap tahun mereka mengundang beberapa siswa se-Indonesia yang lolos seleksi untuk mengikuti proses program di Jakarta selama 3 minggu. Mereka juga akan tinggal bersama keluarga angkat yang berbeda etnis atau agama.

Dalam kegiatan itu, adapun program pendukung seperti temu toleran, diversity dinner, diversity talks, lelang kreatif, dan ask me anything. SabangMerauke berdiri pada tahun 2012 dan telah melibatkan lebih dari 2.000 individu, terdiri dari latar belakang dan keluarga besar SabangMerauke serta diliput oleh berbagai media baik nasional maupun internasional. Pada tahun ini SabangMerauke hadir dalam 3 program daring yaitu ; Boba SM, Kelas Akal Budi, dan Sesi Diskusi.

Adapun tips memulai gerakan sosial ala SabangMerauke, “Find Your Why, Be Agile And Be Commited (Persistence), Continous Improvement (Open Minded), and Optimizing Your Resources (Networking),” pungkasnya.

Menurut nya, 12 nilai dasar perdamaian itu salah satunya adalah saling menghormati antar agama, suku, ras, dan budaya. Hal itu mengajarkan manusia agar lebih percaya kepada orang lain, karena perbedaan itu bukan halangan untuk bersatu. “Kita pun tidak bisa memaksa orang lain mau berteman sama kita, tapi tetap memilih teman mana yang mau menerima kita apa adanya. Begitu bahagia nya mereka (adik dan kakak yang ada di SabangMerauke) ketika saling bertemu satu sama lain. Mereka menganggap suatu perbedaan itu sebagai lem yang merekatkan kita semua,” imbuhnya. (Deni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *