Lompat ke konten

Sistem formal : Kejanggalan Dalam Metafisika Moral

IPMJATIM.OR.ID – Analisis filosofis terhadap dekadensi moral pelajar apa yang terlintas di benak kita ketika membicarakan perihal sistem formal? Bagus kah? Atau justru buruk?, didalam tulisan ini, saya akan mereduksi secara ilmiah apa kejanggalan-kejanggalan dalam sistem formal tersebut menggunakan argumen ilmiah saya, yang merupakan pelaku/korban dari sistem formal tersebut.

Ketika membahas perihal formalitas, maka hal-hal yang agak-agak konstitusional yang terlintas didalam benak kita, baik secara politis maupun pedagogis. Sekolah sendiri sudah menjadi sinonim dan terjemahan dari sistem tersebut (dalam konteks pendidikan), berarti secara tidak langsung, pembicaraan mengenai formalitas bersahutan dengan kondisi pendidikan hari ini.

Pendidikan formal (sekolah) secara historis di tegakkan pertama kali oleh Plato bertempat di Athena dan Academia namanya, tujuan Plato mendirikan hal tersebut tak lain dan tak bukan adalah untuk menyebarluaskan ilmu secara merata dan dapat meningkatkan kecerdasan manusia. Lalu, apakah nilai-nilai historis dari sekolah tetap terjaga hingga saat ini? Atau ternyata sudah menjelma menjadi nilai-nilai dogmatis?.

Berdasarkan analis kritis-empiris saya di dalam ruang lingkup ke-formalan, bukan nalar yang menjadi dasar dari segala hal, tapi adalah peraturan, oleh karena itu seringkali apa yang ada dipikiran kita (murid) bertentangan dengan apa yang disusun sebagai aturan, walau kadang memang lingkungan yang mempengaruhi, tapi bukankah sekolah yang paling mendominasi? Karena pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengajarkan substansi moral dimanapun Kita (murid) akan tinggal, baik menjadi propabilitas moral yang tinggi atau-pun menjadi dekadensi moral.

Dekadensi moral, sudah menjadi embel-embel baru yang ditempelkan pada kondisi remaja saat ini, baik dengan meme yang mengatakan “remaja hari ini tak hormat kepada yang lebih tua, gak kayak dulu” atau-pun semacamnya. Hal demikian dapat ditelusuri objek kausalnya menggunakan metafisika moral misalkan, atau mudahnya menggunakan induksi empiris juga bisa, tapi kita akan lebih mengupasnya menggunakan metafisika moral saja (biar terlihat keren gituloh hehe).

Kant dalam Critique of practical reason membuka penalaran kita dengan apa yang disebut “metafisika moral”. Kalau “metafisika sains” adalah hal ber-konsep A Priori (apa yang difikirkan) tentang “apa”, maka “metafisika moral” yaitu hal ber-konsep A Priori (apa yang difikirkan) tentang “apa yang harus dilakukan”. Disini kita mulai merangkul peranan sistim formal untuk menyusun metafisika moral anak didiknya.

Di saat zaman globalisasi tekhnologi yang semakin melaju tiada tanding ini, persepsi murid terhadap sekolah tak lagi menjadi suatu tempat untuk berfikir dan bernalar, melainkan suatu tempat untuk di tindas peraturan, mencari ijazah dll. Dengan fenomena seperti ini, maka sekolah sudah kehilangan nilai-nilai historis-nya, justru malah menanamkan nilai2 dogmatis yang sama sekali tak demokratis bila di pandang menggunakan dasar filosofisnya.

Kembali kepada topik utama yakni “moralitas”, mungkin saya takkan mengemukakannya semata2 karena saya adalah anak yang ber-moral, melainkan saya hanya ingin memberi nutrisi etis kepada sekolah agar tetap memperhatikan esensi filosofis-nya di era hedonis dan industri kapitalis ini. Patricia Foot menciptakan sebuah problema bernama “Trolley problem”, dimana trolley problem menjelaskan sifat dasar manusia yang memang suka pilih kasih kepada sesama-nya, hal ini dapat kita selipkan kepada ajaran moralitas sekolah, yang hanya ber-belas kasih kepada murid yang menaati sistemnya, dan membasmi segala paradigma diluarnya (apalagi yang menentang).

Mungkin saya disini tak bermaksud terlalu menyakiti perasaan guru dan segala elemen konstitusi sekolah lainnya, saya tak akan membahas perihal kapitalis atau-pun sikap apatis, karena pada dasarnya saya hanya cemas apabila kejanggalan ini tak didekonstruksi, hal2 seperti paradigma atau-pun pengetahuan hanya akan dianggap ilusi, karena pada imajinasi manusia, hal2 yang dianggap baik adalah yang menguntungkannya dahulu baru menguntungkan sesamanya.

Kejanggalan-kejanggalan seperti :
-Bila murid dipaksa mengikuti aturan, maka ia akan rasan2 dan tidak senang
-Bila pelajaran dipaksakan maka murid akan merasa bosan
-Bila murid disuruh menghormati guru, maka ia akan memilih2 dalam melakukannya

Dan masih banyak lainnya, kejanggalan-kejanggalan diatas adalah akibat pembangunan metafisika moral yang salah, karena seharusnya moralitas diajarkan sebagai fenomena, bukan semata paradigma belaka. Contohnya, ketika membahas perihal paradigma tentang kesombongan, murid akan memahami saat ini, lalu melupakan ketika tiba esok hari. Mengapa demikian? Karena terlalu banya fenomena kesombongan daripada hanya sekedar paradigma rendah hati.

Saya harap kita semua sebagai bangsa indonesia dan pelaku pendidikan formal memahami hal ini, kita juga sebagai peserta Ikatan Pemikiran Manusia/Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), harus ikut serta menjadi agen2 moral bangsa dengan cara terus skeptis terhadap suatu problematika dan tak apatis terhadap sesama.

Oleh :

Mohammad Rafi Azzamy

Sekbid Advokasi PR IPM SMK MUTU Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *